Waktu awal saya nulis post ini saya baru aja menghabiskan waktu seharian di kampus; rapat perdana managerial RTC UI FM 2012—iya akhirnya saya memutuskan untuk tinggal satu tahun lagi di 'rumah' yang ini—ceritanya panjang tapi orang-orang dekat pasti sudah tau alasannya :) Lalu mampir ke audisi model UIFW sampai akhirnya makan ramen sama sahabat-sahabat terdekat di Psikologi, Ayas, Ekki dan Uta. Pembicaraannya selain melepas kangen setelah rasanya lama banget nggak punya waktu-waktu berkualitas seperti itu ya nggak jauh dari kata jodoh--yang di usia awal 20-an sering banget jadi topik utama. Mereka-mereka ini selain selalu kasih energi untuk beberapa hari ke depan, emosi positif yang rasanya nggak ketukar, juga bikin saya berpikir soal jodoh ini.
Akhir-akhir ini saya agak merasa kurang yakin. Saya selalu bisa dengan jelas menggambarkan the perfect guy for me—tapi selalu gagal untuk sekedar membayangkan kalau saya bisa jadi the perfect one untuk siapapun. Antara kurang iman atau ada masalah di self esteem pada kondisi psikologis saya sepertinya. Saya selama ini selalu yakin kalau kamu itu masih di jalan. Nggak tau dimana, nggak tau juga siapa, tapi pasti akan sampai kalau emang udah waktunya. Waktu saya menulis ini saya habis dengar cerita salah satu sahabat saya yang berulang kali tersenyum-sambil-usap kepala karena dia nemuin kamu—versinya—in everyday work. Sesederhana dan sekompleks itu karena bukan berarti semuanya jadi mudah buat dia. Saya sendiri tersenyum karena awalnya saya nggak suka sama pilihannya, dan saya sadar, kalau saya sayang aja sama dia dan jadi begitu mendukung pilihannya karena saya senang ngelihat dia sesayang itu sama seseorang. Ngelihat dia seyakin itu kalau orang itu tepat buat itu salah satu hal sederhana yang bisa bikin saya bahagia, selain melihat dia juga berkembang jadi orang yang sangat baik sejak pertama kali saya kenal dia sekitar dua setengah tahun lalu.
Tapi kalau kata Ted di HIMYM, "When your friends have great news you're happy for them for like a millisecond and then you start thinking about yourself." Maybe, just maybe—about how messy your life is. Nah, mungkin ini yang saya rasakan. Saya juga nggak terlalu ngerti sih, cuma saya nulis aja. Kemudian yang saya tau saya berhenti menulis postingan ini, sampai hari ini. Hari pertama kuliah yang lumayan berat untuk dilewati karena hal klasik lah, ada masalah di rumah. Saya suka merasa kuat ngadepin apapun tapi kalau masalahnya dari dalam rasanya saya sendirian aja. Yang bikin sedih sih biasanya—tepat seperti hari ini—fisik saya yang nyerah. Sakit perut dari masih di kelas dan air mata yang saya tahan seharian akhirnya bocor juga pas saya udah di kamar, sendirian. Obatnya kalau nggak berdoa ya nyampah disini. Maaf ya, pasti nggak niat dengerin tapi jadi saya curhatin.
Kalau saya lagi merasa se-sendirian-ini, saya suka inget percakapan Ted & Robin yang ini.
Tapi kalau kata Ted di HIMYM, "When your friends have great news you're happy for them for like a millisecond and then you start thinking about yourself." Maybe, just maybe—about how messy your life is. Nah, mungkin ini yang saya rasakan. Saya juga nggak terlalu ngerti sih, cuma saya nulis aja. Kemudian yang saya tau saya berhenti menulis postingan ini, sampai hari ini. Hari pertama kuliah yang lumayan berat untuk dilewati karena hal klasik lah, ada masalah di rumah. Saya suka merasa kuat ngadepin apapun tapi kalau masalahnya dari dalam rasanya saya sendirian aja. Yang bikin sedih sih biasanya—tepat seperti hari ini—fisik saya yang nyerah. Sakit perut dari masih di kelas dan air mata yang saya tahan seharian akhirnya bocor juga pas saya udah di kamar, sendirian. Obatnya kalau nggak berdoa ya nyampah disini. Maaf ya, pasti nggak niat dengerin tapi jadi saya curhatin.
Kalau saya lagi merasa se-sendirian-ini, saya suka inget percakapan Ted & Robin yang ini.
Saya nggak pernah lupa sama percakapan Ted & Robin di episode 1 season 7 ini. Udah lama banget nontonnya, tapi baru-baru ini kerasa senasibnya sama Ted. Yang kayak gini biasanya cuma jadi bahan bercandaan di chat sama Ayas, tapi suka kerasa beneran kalau lagi hidup lagi kumat ruwetnya seperti hari ini. Tiba-tiba rasanya saya pengen aja punya satu orang yang bisa saya tanya "Sebenernya yang saya lakuin ini benar atau nggak?" dan dia nggak perlu jawab benar atau salah tapi ngeyakinin saya kalau pun salah saya juga akan baik-baik aja akhirnya. Kadang saya capek aja ngeyakinin diri sendiri kalau saya akan baik-baik aja. Biasalah manusia, apalagi yang kayak saya—kadar imannya fluktuatif. Seberantakan apapun rasanya hari ini, saya tau akhirnya saya harus percaya lagi—kalau semuanya akan baik-baik aja. Sama kayak Ted yang harus percaya lagi kalau one day dia akan nemuin orangnya. Kalau buat saya, orang yang bisa saya refer ketika saya bilang kamu.
It'll be fine before soon, aite?
Clarissa Rizky
"You're Ted Mosby! You start believing again."
"To what? Destiny?"
"Chemistry. If you have it, all you need is timing.......but timing's a bitch"
It'll be fine before soon, aite?
Clarissa Rizky



























