On turning 27

“Waktu gue ultah ke-27, ada yang bilang ke gue, ‘this will be your year’ karena dulu pas orang itu umur 27 banyak hal besar terjadi. Mudah-mudahan itu juga bakal berlaku di umur 27 lo ya.. Mulai dari hidup, karir, jodoh, pendidikan, keluarga, dan apapun itu. Amin ya Rabbal Alamin”
– sebuah ucapan dari teman baik saya Alanda, yang sangat mengena karena 27 memang bukan usia biasa buat saya.

27 is indeed a big year for me


Entah karena ibu saya menikah di usia 27 sehingga seolah-olah ada patokan untuk adanya sebuah tahapan hidup besar yang semestinya terjadi di tahun ini, atau karena saya dikelilingi teman-teman yang sudah memasuki berbagai tahap kehidupan baru baik itu dari segi pekerjaan atau sisi keluarga; menikah, punya anak, atau menapaki milestone yang sangat besar di mata saya seperti punya rumah sendiri atau semata-mata karena saya baru pulang dari studi magister dan masih terbebani mimpi-mimpi besar yang muncul setelah menempuh pendidikan tinggi—seolah hidup itu harus berubah 180 derajat ketika kembali ke Jakarta—padahal saya tahu pasti bahwa untuk segala sesuatu, ada waktunya.

Bisa jadi ya memang gabungan dari semuanya. Intinya di usia ini, sangat mudah untuk lupa atas apa yang sudah kita capai jika kita sibuk membandingkan hidup kita dengan timeframe standar yang kadang tanpa sadar diharapkan oleh lingkungan sosial di sekeliling kita. 

Kurang lebih lima tahun lalu, saya pernah menulis surat untuk diri sendiri di platform ini, sambil berandai-andai kira-kira hidup seperti apa yang saya jalani sekarang. Waktu itu hidup rasanya sama beratnya, dengan masa depan yang sama samarnya karena saya belum menemukan titik terang dari masalah yang ada. Selain konyolnya konten suratnya—yang harus disyukuri karena berarti saya berkembang—saya juga menyadari bahwa yang membuat saya bisa di titik ini adalah keyakinan pada Tuhan yang mendorong saya untuk tidak menyerah.

Tidak terhitung berapa banyak kekecewaan yang saya temui dalam lima tahun terakhir ini, seperti pekerjaan yang berubah 180 derajat dari yang saya pikir akan saya jalani saat kuliah S1 dulu atau hubungan-hubungan yang gagal karena satu dan banyak hal. Bahkan dalam beberapa bulan ini pun, begitu banyak percobaan meraih mimpi yang gagal, seperti paper yang ditolak oleh konferensi yang diadakan oleh fakultas sendiri di Depok, tulisan yang ditolak untuk diterbitkan, atau puluhan wawancara kerja yang saya lewati tanpa hasil yang diharapkan hingga sekarang. 

Memaknai setiap kegagalan di usia yang lebih dekat ke 30 daripada 20 ini buat saya merupakan sebuah proses pendewasaan yang tidak ada habisnya. Seperti ungkapan klise yang sudah biasa kita dengar—bahwa ada banyak pelajaran dari setiap kegagalan atau mimpi yang nggak kesampaian—buat saya pelajaran terbesar di usia ke-27 adalah bahwa dari setiap waktu dan peristiwa yang saya lewati, saya tidak bisa melihat hidup secara sama lagi. Problematika di usia 20-an akhir ini kelasnya jauh di atas tahapan hidup sebelumnya. Setidaknya bagi saya, cara memandang tanggungjawab atas orangtua dan adik saya, hubungan dengan teman, baik itu teman ngopi sampai (mencari) teman hidup, pilihan karir, hingga cara saya melihat hidup secara umum pun berubah cukup drastis.

1.   Lebih realistis
Pandangan saya soal hidup ini jadi jauh lebih realistis—kisah cinta yang diimpikan apalagi konsep dream wedding saat usia 17 atau bahkan 25 tahun pun bergeser karena saya sadar, kesempurnaan itu milik Andrew White & Nana Mirdad—hehe nggak deng, kesempurnaan itu milik Allah. 

Di usia 27 tahun, teman-teman saya sudah banyak yang menikah dan membangun keluarga. Jadi praktisnya saya sudah melewati berbagai fase excitement ketika teman dekat menikah; dari semangat merancang bridal shower sampai ke titik “ini harus banget nggak sih?”, juga dari semangat jahit seragam sampai sebulan bisa jahit empat baju dan mulai serius mempertimbangkan kalau saatnya tiba saya yang menikah, sepertinya lebih sederhana lebih baik karena yang penting adalah orangnya, bukan soal upacara adat apa seperti nanti pakai paes atau tidak.

Saya sudah melewati fase usia setiap minggu ada undangan—termasuk dibetein sama (sekarang mantan) pacar ketika saya jauh dan dia harus datang ke undangan sendiriatau fase bingung kalau diundang sama teman lama atau teman random padahal cukup dekat tapi tidak ada circle besar seperti pertemanan SMA/kuliah jadi kalau datang harus sendiri. Saya melihat semuanya sekarang dengan jauh lebih ringan. Kalau nyaman ya saya datang, kalau nggak nyaman ya saya tulus doain dari jauh, tapi nggak nambahin masalah juga untuk terlalu dipikirin harus kesana sama siapa. Nanti bisa gila kalau semua dijadiin berat di pikiran.

Dari teman-teman saya ini juga saya belajar banyak soal pernikahan. If there’s one thing I learn from them is—there is no such thing as a perfect marriage. Yang ada itu dua orang yang punya komitmen untuk saling mengusahakan. Saya belajar—kalau saatnya tiba bagi saya—untuk tidak tenggelam dalam persiapan pesta pernikahan, tapi fokus ke kesiapan untuk menjalani kehidupan setelah itu. Baik dari segi finansial, mental dan yang paling penting, iman. Dari setiap pertemuan saya dengan orang baru dalam hidup saya, saya juga belajar kalau if it’s too good to be true, then it’s too good to be true. Pokoknya prinsip dasarnya adalah nggak ada yang 100% sempurna—seperti kita, orang yang mungkin jadi teman hidup kita juga nggak akan sempurna. Jadi buat saya, ekspektasi terhadap orang lain juga jadi yang masuk akal aja—no one will ever complete your check list as you will never complete someone else’s.

Dari situ juga saya juga jadi bisa lebih santai—ya pasti ada paniknya, bohong kalau ada yang bilang belum punya pacar di usia 27 itu nggak ada paniknya, hehe—tapi setelah menjalani pahit manisnya hubungan (dan perkenalan) di usia 20an akhir dan juga setelah sering jadi tempat cerita teman-teman yang sudah menikah dengan semua problematikanya (yang mencakup tapi tidak terbatas masalah dengan kakak ipar, mertua, finansial, kapan punya anak atau siapa yang ngurus anak kalau istrinya bekerja (?) atau yang paling sulit saya percaya tapi sungguhan nyata, soal masalah menjaga komitmen sama pasangan), saya sadar dan yakin kalau Tuhan pasti tahu waktu yang paling tepat untuk saya memasuki tahap kehidupan itu. Kata teman saya, dia baru sadar kenapa menikah itu ibadah setelah menjalani sendiri, ya karena menikah itu butuh kerja keras untuk menyatukan dua orang. Butuh jauh lebih dari sekedar cinta, tapi juga komitmen, kompromi dan keyakinan untuk selalu saling mengusahakan.

Semua peristiwa yang saya lewati ini saya jadikan pelajaran untuk terus memperbaiki diri supaya selain dipertemukan dengan yang baik, juga lebih siap dan dewasa ketika masanya tiba. Sambil menyerahkan aja sama Allah—kapan dan siapa teman hidupnya. Saya percaya penuh sama firman-Nya di QS Al-Nahl:

2.   Lebih banyak latihan self-care
Saya sadar kalau sering menjadi tempat curhat orang lain kadang bisa jadi emotionally draining. Ternyata cita-cita jadi psikolog itu nggak kesampaian karena sepertinya saya tidak punya kapabilitas yang cukup untuk melakukan itu—jadi saya sadar saya harus lebih berlatih untuk menjaga kesehatan mental saya sendiri, baru bisa jadi resource yang baik untuk orang lain.
Saya lebih banyak mengelilingi diri saya dengan orang-orang yang memberikan energi positif bagi saya. Lebih banyak melakukan apa yang membuat saya tidak hanya senang tapi juga nyaman—ambil kelas yoga yang isinya cuma 3 orang, duduk-duduk santai dengan teman terdekat sepulang dari hari yang panjang di kantor, minum kopi sambil baca koran atau buku, misalnya. Saya juga banyak bertemu dengan orang yang ingin saya temui atau hanya saat sayanya bisa (dari segi waktu, fisik ataupun mental)—karena udah bukan masanya untuk nggak enakan untuk bilang nggak. Lagi pengen tidur ya tidur, lagi nggak mau pergi jauh ya jangan. Bukan masanya juga untuk ketemu orang lalu saat pulang tidak merasa lebih positif dari sebelumnya. Buat saya, makin tua, makin dibawa santai aja dan anti dibikin ribet—karena harus diakui, as you grow older, you grow apart as well. Nggak semua orang akan ada di hidup kita seperti dulu, baik itu teman, sahabat, (apalagi pacar) atau bahkan keluarga. Prioritas berubah itu pasti, yang penting kalau kata Lily di How I Met Your Mother, always there for the big moments. Atau yang selalu saya katakan pada diri sendiri, usahakan untuk ada saat senang ataupun susah.

To take things more lightly yet personally stronger

Saya banyak belajar untuk tidak mengambil ke hati semua yang orang lain katakan pada saya. To not take everything personally is a skill that I still need to master—you know, to have a peace of mind. This also leads to the longest principle that I hold: to be kind, for everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Makin tua, saya merasa harus makin considerate ketika bicara dengan orang lain. Kalau saya nggak nyaman dengan cara orang bicara ke saya atau dengan kata-katanya ke saya, paling tidak saya memastikan kalau saya nggak bicara seperti itu dengan orang lain.

I also often see myself have too many things on my plate. I probably am, indeed—but complaining won’t get those things off my plate either. Saya sering pusing lalu jadi marah-marah kalau dihadapkan sama tagihan rumah, misalnya. Menjadi anak pertama dari keluarga sederhana itu datang sepaket dengan serentetan tanggungjawab yang hingga kini belum semuanya bisa saya penuhi. Seringkali saya jadi mudah kecewa sama diri sendiri atau merasa saya sesendiri itu—karena kan nggak mungkin cerita tentang keluarga ke orang lain—atau bahkan ngerasa nggak kuat menghadapi masalah yang kebetulan lagi lewat dan berujung dengan lupa bersyukur sama rezeki yang udah Allah kirim. Kalau lagi kayak gitu, saya mencoba memaafkan diri saya dan mengingat saduran kata Buya Hamka dalam film ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah—“Apapun yang terjadi, ingatlah bahwa ketika kau tak punya siapa-siapa selain Allah, Allah itu lebih dari cukup.

Juga doa yang selalu ada di meja kerja saya untuk diberi kemudahan:
Insya Allah akan merasa jauh lebih kuat setiap abis baca itu. Oh iya, hubungan dengan usia 27—usia ini adalah usia merasa orangtua saya ya memang udah jadi tanggungjawab saya. Saya berusaha sebisanya untuk nggak bilang nggak kalau ada kebutuhan—yang penting ikhlas, nanti Allah akan kirim rezeki lain, gitu aja prinsip dasarnya. Soal kondisi ini juga bikin saya makin sadar soal kewajiban mengatur keuangan secara lebih baik. Lebih banyak nabung, investasi dan yang paling penting, memiliki gaya hidup yang sesuai dengan pendapatan. Belum mampu beli tas bermerk ya nggak usah dibeli, belum bisa liburan padahal penat ya ngopi aja, yang penting cicilan dan tagihan bulanan udah lunas. Dibawa santai aja, terus kerja yang bener sampai nanti akan ada waktunya bisa beli atau bisa pergi—or so I told myself.

3.  Lebih banyak belajar
Buat saya, hal yang juga kerasa banget di usia ini adalah kebutuhan untuk terus memperbaiki diri. Dalam aspek apapun; kompetensi dalam pekerjaan, pengetahuan di dunia yang serba cepat berubah ini, wawasan umum di tahun politik, menemukan minat atau hiburan baru seperti nonton pertandingan sepak bola, atau bahkan dari segi penampilan seperti ngurusin badan biar lebih sehat atau rajin pakai skincare supaya nggak dekil. Saya lebih rajin untuk baca sesuatu yang saya belum tau di pagi hari, entah itu artikel di Medium (biaya subscription sebulannya $5, tapi artikel yang gratis juga banyak kok), jawaban dari pertanyaan seputar topik yang saya pilih di Quora, Koran Kompas atau Jakarta post gratisan dari kantor, atau sesederhana bacain postingan @pinterpolitik @tirtoid atau @zapfinance di instagram, dengerin podcast @today_explained di twitter (tentu beserta jokes-jokes ringan di timeline yang membuat hari jadi jauh lebih menyenangkan) atau video @suhaysalim di youtube untuk tau produk skincare apa yang bagus sambil minum kopi sebelum mulai kerja. 

Kalau lagi ribet banget, sambil kerja playlist saya di spotify kadang saya selingi dengan freakonomist podcast atau TED-talk. Angela Duckworth adalah salah satu idola baru saya yang saya temukan random saat nonton TEDtalknya. Makin banyak ngabisin waktu untuk ini sangat membantu saya jadi lebih fokus untuk hal-hal yang penting dan positif.  
Oh iya, yang tiba-tiba jadi terasa lebih penting buat saya dalam proses belajar di usia 27 ini adalah lebih serius belajar agama. Sejak dua tahun lalu, saya mengambil sebuah keputusan besar untuk membuat komitmen besar untuk menjalankan perintah-Nya yang selama ini saya abaikan yaitu menutup aurat. Kini saya sadar ternyata itu adalah titik awal dari perjalanan iman yang nggak akan ada habisnya. Makin saya belajar, makin sadar kalau saya nggak tau apa-apa. Iman saya itu masih setipis kertas, sholat kadang lewat, tapi alhamdulillah dua tahun ini dibukain begitu banyak pintu untuk lebih belajar agama. Salah satunya ditemuin sama banyak teman-teman yang jauh lebih dalam pemahaman agamanya tapi nggak sungkan untuk ngajarin tanpa menggurui atau bahkan ngejudge. Saya juga jadi sering dapat ajakan datang ke kajian ilmu yang saya coba rutinin datang (walaupun kalau bentrok sama pertandingan bola, saya masih lebih pilih nonton bola, hehe). Intinya buat saya yang penting belajar terus aja.

4. Lebih yakin sama apa yang Tuhan siapkan
Sejak kepulangan saya dari London beberapa bulan ini, saya juga udah menjalani banyak wawancara kerja. Dari pekerjaan yang saya impikan, yang saya iseng coba atau yang datang dari tawaran teman/atasan yang saya nggak enak nolak untuk coba prosesnya. Sampai sekarang, belum ada yang jodoh—atau begitu kata ibu saya. Saya rasa, aspek pekerjaan untuk siapapun di usia 27 tahun itu tentu bukan bagian kecil dalam hidup. Jadi sedih ya pasti, mempertanyakan kemampuan saya juga nggak jarang, atau yang paling sering malah jadi kurang bersyukur padahal saya masih bekerja di salah satu perusahaan terbaik di negeri ini. Kalau dipikir-pikir masalah klasik dalam hidup saya adalah kurang pandai bersyukur.
Hence, this year I need to be more grateful, resilient & put more trust in Allah. Meminjam kata-kata Richard Carlson di ‘Stop Thinking & Start Living’, “It’s impossible to feel gratitude for something when you are too busy trying to improve it.”. 


I should seriously be grateful for the big things, small things & everything in between. Mengingat kembali awal tahun kemarin, ketika saya menamatkan studi magister serta berhasil mengajak ibu, ayah dan adik saya hadir di wisuda dan menginjakkan kaki ke Inggris untuk pertama kalinya itu seketika membuat hati saya hangat. Saya juga mulai rajin mengisi gratitude jar yang setiap hari saya penuhi dengan potongan kertas tentang hal apa yang saya syukuri hari itu—dari sesederhana berangkat kantor tanpa macet, diajak makan siang gratis sama atasan, kenyamanan dalam berbagai hal karena kantornya di SCBD yang ke PP aja tinggal jalan kaki lewat tunnel, atau banyaknya akses informasi karena kerja di bursa efek, sampai ketika project employee exchange akhirnya berhasil dilaksanakan ke Bangkok kemarin. Menulis untuk saya selalu jadi terapi yang menenangkan. Jadi membuat catatan atas apa yang Tuhan berikan itu sukses membuat hati saya lebih tenang. Bagi saya, mau punya prinsip apapun dalam hidup, latihan self-care sebanyak apapun, punya support system sekuat apapun, yang paling penting adalah melibatkan Allah dalam setiap langkah.

To put more trust in Allah
The only thing that keeps myself from being bitter and fills my heart with hope is God. It’s the magical thought that there is a bigger force up there taking care of me, that keeps me going.



To sum it up

I believe 27 is just another phase of life that one day we’ll laugh at. Just like how we laugh at how easy things were when we’re still in high school. One day, we’ll see this stage of life just like that. The most important thing is to constantly learn to be a better version of ourselves. To take things a lot lighter than before, to have a peace of mind & to radiate only positivity.

I always tell myself that the only way is through. So let’s push through.

Be the kind of love you wish to receive & stay blessed,
Clarissa

Comments

  1. Salam kenal clarissa, Saya iseng awalnya karena LPDP mgkin ya nemu blog kamu. Lama2 apa yang kamu alami seperti kebanyakan yang saya alami. Membaca tulisan kamu membuat saya sadar bahwa saya normal mengalami ini dan ga sendirian. :). Seneng baca tulisan2 kamu, berasa masalah ga cuma kita sendiri yang punya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Fia, terima kasih yaa :) Iya, nggak sendirian kok! hehe, semoga dapet kemudahan untuk semua masalah atau apapun yang lagi dijalanin yaa

      Delete

Post a Comment

Popular Posts