On Making a Dent in The Universe

Draft ini udah saya buat dari setahun lalu, akhirnya malah diselesaikan saat saya sudah menutup chapter ini. Berani banting setir—atau lebih tepatnya ganti mobil—ke fintech yang masih berkembang setelah lima tahun di regulator pasar modal itu kadang kalau dipikir-pikir keputusan gila. Banyak sekali yang tanya, kenapa mempertaruhkan kehidupan yang nyaman dan tenang di BEI.  

Waktu itu rasanya bosan sama birokrasi, bosan butuh waktu lama untuk bisa buat sesuatu karena layer approval yang banyak. Waktu itu saya juga cukup hilang arah setelah selesai studi magister—dan selesai juga hubungan yang sempat saya kira ada masa depannya—jadi untuk pertama kalinya, saya tidak punya tujuan. Berbagai kesempatan dicoba, sampai di pintu yang terbuka adalah di sebuah startup finansial teknologi yang punya visi untuk Indonesia yang ekonominya lebih inklusif serta mensejahterakan ibu-ibu di piramida terbawah. Saya jatuh hati sama semangatnya—sama orang-orang yang ada di belakang perusahaan yang saat saya bergabung, masih baru punya 50an cabang (sekarang sudah 200). Senang dan bangga bisa sedikit berkontribusi untuk mengembangkan Amartha. Awalnya, saya jatuh hati sama Kak Ika Zain sejak saya nonton video ini:


Jadi waktu dapat kesempatan untuk kerja bareng, saya luar biasa bersyukur dan tidak berpikir dua kali untuk melepaskan semua kenyamanan dan kepastian hidup di BEI. Waktu itu yang ada di pikiran, saya harus coba—soal gagal ya nanti dicoba lagi.

Di Amartha, saya ketemu sama banyak orang baik. Orang-orang yang tidak hanya driven tapi juga passionate. Unik sekali perusahaannya, saya ketemu sama teman-teman lapangan yang belum sempat kuliah tapi sudah meniti karir sampai ke posisi yang cukup bersinar, juga ketemu teman-teman di kantor pusat yang pengalamannya sudah di tingkat internasional.  Kadang kayak hidup di dua pulau, perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pinjaman mikro yang rasanya masih sangat tradisional. Dua-duanya kasih pengalaman yang sangat berarti. 

Salah satu bagian pekerjaan saya adalah mendesain skema promosi untuk tim lapangan.  Jadi selama setahun kemarin, udah nggak terhitung berapa kali nangis saat dengerin cerita kandidat saat assessment. Hati saya kayak disiram terus sama rasa syukur kalau ingat betapa beruntungnya saya untuk bisa ada di titik ini, mau itu dari segi kesempatan sekolah ataupun mendapat pekerjaan. Apa yang dari hati kan emang akan sampai ke hati ya, jadi mungkin lihat Amartha itu kayak lihat anak sendiri, pengen lihat dia tumbuh, tapi sering marah karena suka nggak nurut 😊 (dari saya yang sok tau padahal belum punya anak, haha.) Untuk pertama kalinya juga, saya merasa sedikit-sedikit bayar hutang sama negara karena udah disekolahin mahal-mahal ke London, dengan buatin program untuk teman-teman di lapangan yang melayani mitra Amartha di ribuan desa. For once, work felt extremely satisfying.


Of course, it’s not only about fulfilling life, so on and so forth. Banyak naik turunnya, kayak naik roller coaster tapi setiap hari. The whole experience been intellectually challenging yet most of the time, it is also emotionally draining. Saya mau berbagi pelajarannya aja, supaya jadi pengingat untuk perjalanan berikutnya. Saya beneran keluar dari zona nyaman; belajar manage tim, belajar untuk adaptasi dengan rencana yang berubahnya jauh lebih cepat dari kemacetan cinere di pagi hari, belajar untuk nahan emosi karena ego ketemu ego nggak akan berujung solusi, juga belajar lebih dewasa karena banyak yang lebih muda dan sumbunya lebih pendek. Belajar agile—an overused word—yang tadinya saya kira berlebihan, tapi ternyata ya memang harus begitu untuk maju di industri yang berubahnya luar biasa cepat ini.




Semua yang saya harapkan saat meninggalkan bursa, saya temukan di Amartha.



Saya bekerja jauh lebih cepat, berkarya jauh lebih banyak. Puas sekali rasanya lihat apa yang didesain bisa langsung diimplementasi dalam hitungan minggu. Manfaat yang ditebar pun juga terlihat nyata—dan itu ternyata, fulfilling. Saya yang merasa INFJ garis keras—yang butuh waktu untuk recharge energi setiap beberapa saat sekali dengan duduk sendirian sambal baca buku atau ngopi—ini terpaksa mengisi sesi training. Hal yang sebelumnya tidak dapat saya nikmati, tapi proses setahun ini membuat saya bahkan mempertimbangkan untuk suatu hari jadi dosen.






Selain pekerjaan yang saya suka, ini dia yang paling bikin berat untuk pergi, tim People Development yang support saya beberapa bulan terakhir ini :") Nggak pernah nyangka di waktu yang relatif sebentar bisa sedekat ini sama tim yang isinya cewek-cewek semua. Bisa lho mereka itu ketawa-ketawa aja di tengah kegilaan dan tekanan yang luar biasa. Belajar luar biasa banyak dari tim yang solid ini. 




Lalu, kenapa harus pergi? Setelah dijalani hampir setahun, saya sampai di titik lupa kalau hidup itu bukan hanya soal kerja. 

Dari berbagai drama klasik startup di belakang layar atau back-to-back emotionally draining meeting-nya, saya nemuin kekosongan besar dalam hidup yang selalu terasa saat pulang. Kadang yang dibawa juga tinggal emosi negatif, karena sabarnya udah kesedot habis di kantor. Saya jadi bukan versi saya terbaik saat keluar kantor—dan itu, tentu bukan yang saya inginkan. Saya juga diingatkan oleh salah satu tim saya yang psikolog, menurut teori psikososial Erikson, tahap ke-6 dalam kehidupan ini adalah intimacy vs isolation. 

How I interpret it, is that there’s more to life than a career—a title—that I need to pursue. A break from this fast-pace industry, laying back a bit to learn something new and get some time to regain my sanity and build my own personal strategy—not the people development strategy (kata Ika psikologku, begitu)—probably is the right thing to pursue at the time. More than anything else, I found myself in the past year. 

I understand what matters, what I need—at this very moment—what I want to do in the future & what I still need to learn and grow myself into. Of course I am not sure, and of course I can be wrong. But life is a series of trial and error, so let me try this one and if I fail, I can always start over. 

Therefore, I finally took a leap of faith. I honestly don’t know whether the path that lies in front of me is the one that will suit me well—but this time—I believe in what Allah has prepped for me. 

“Tenang Cha, semua yang kejadian itu udah dapet Approval Allah.”

Walaupun kekalutan itu tetap ada, karena pada dasarnya, I suck at goodbyes. Hari terakhir kerja, saya rasanya kayak patah hati. Waktu resign dari bursa efek, sedihnya lebih karena sudah hampir 5 tahun bareng, udah jadi rutinitas dan udah kayak rumah. Untuk waktu yang sebentar ini, saya nggak nyangka kalau sesedih itu meninggalkan Amartha. Nggak pernah ada momen penyesalan sudah keluar dari zona nyaman setahun lalu, karena kalau lihat ke belakang, saya nggak percaya kalau saya sudah berhasil sampai di titik ini.

I also feel so loved by these people—saya si insecure ini sering merasa saya nggak bisa, nggak pantas dan nggak cukup baik. Bacain kartu dan lihatin story orang-orang tentang saya, rasa harunya susah dijelasin. Semoga jadi pengingat untuk terus usaha tebar kebaikan dan manfaat, bukan malah jadi meninggikan hati.


Punya CEO masih 32 tahun, dia nangis kita yang resign lebih nangis lagi. Mau gimanapun, terima kasih kesempatannya Mas Taufan! The future is unknown yet exciting—so we can always cross path again x



Punya tim luar biasa solid, bikin kaos #AntiSetengahSetengahClub karena katanya saya kalau kerja selalu gitu. Terharunya beneran susah dijelasin. Nangisnya heboh banget pas bacain kartu-kartu mereka. Saya ingat pertama kali pegang tanggungjawab ini, saya chat atasan saya di kantor lama, bilang makasih selama ini udah sabar sama saya. Ternyata sechallenging itu ya, punya tanggungjawab sebesar ini. Lebih dari mereka, saya yang paling belajar. Semoga kita cuma berhenti jadi rekan kerja, tapi selalu jadi keluarga <3 o:p="">

Ini dia wajah-wajah passionate, pintar dan punya dedikasi yang luar biasa untuk pekerjaan:






Beruntung sekali pernah jadi rekan kerja, yang sekarang jadi teman baik di perjalanan Amartha ataupun onwards!


Untuk semuanya, terima kasih. Jangan berhenti jadi orang baik yaa, karena walaupun ada banyak, tapi masih butuh lebih banyak lagi di dunia ini. Intinya, dalam setiap pertemuan dalam setahun ini—baik dan buruknya—tetap rasanya manis. Akan sulit dilupakan dan mungkin sering dikenang. On other very, very personal note, semoga saya juga bisa belajar mengikhlaskan apa yang sudah digariskan untuk saya dan apa yang bukan.

Semoga kita sama-sama bisa melewati ini, untuk menemukan itu. Sampai ketemu!

Comments

Popular Posts