Sebuah idealisme bernama Slank

Hallo!
Masih inget post saya yang ini? Seharusnya malah masih ada di page pertama. Iya, saya baru aja berbagi cerita disini soal seberapa saya suka sama Slank. Akhirnya Tuhan ngejawab doa saya. 25 Februari kemarin, saya nggak cuma nonton mereka perform, saya nonton mereka diwawancara, saya sempat bertanya, foto dan dirangkul sama Abdee (genit). Saya nggak pernah mimpi bisa ngelihat mereka dengan jarak 3 meter kayak kemarin. Saya kan udah pernah bilang, saya cuma pengen lihat mereka live. Tapi kemarin itu jauh....jauh lebih menyenangkan dari yang pernah saya bayangkan.
Acara dengan judul "Creating Money Creatively" ini berisi tentang seminar mengenai kreatifitas. Saya sih jujur nggak peduli dengan temanya. Saya cuma mau lihat Slank titik. Setelah bela-belain bolos mata kuliah favorit saya Psikologi Umum II dan mata kuliah tersulit Metodologi Penelitan & Statistik I, duduklah saya di Student Center FEUI. Nonton seminar dengan kepala melayang-layang. Akhirnya jam 2 siang, yang ditunggu-tunggu datang juga. Mata saya berbinar-binar begitu melihat Kaka, Bimbim, Ridho, Ivan daaan........Abdee secara langsung.

Lalu acara dimulai. Sebuah talkshow dengan pertanyaan standar sih, bagaimana awalnya memutuskan untuk bermusik, dan lain-lain. Tapi sa
ya seneng aja bisa dengerin mereka jawab satu persatu pertanyaan itu. Saya juga sempet nanya (dengan jantung kayak lagi lari-lari karena kelima pasang mata itu ngeliatin saya).

"Slank itu bukan sekedar musik, di dalamnya ada sesuatu yang lebih. Cinta, Religi, & Sosial.....yang membuat hidup, lebih hidup." - Bimbim.
Karena talkshow ini juga saya jadi tahu sedikit lebih banyak tentang mereka. Tentang Abdee yang sempet kuliah Ekonomi gara-gara Mick Jagger kuliah Ekonomi juga. Tentang Kaka yang memutuskan untuk bermusik karena bisa dapet 6 ribu rupiah, dan yakin kalau dia bisa hidup dari situ. Tentang Ivan yang juga sempet kuliah, walaupun pelajarannya semester dua terus. Tentang Bimbim yang berjuang dari awal, dan nggak mau ninggalin kuliah sampai Slank officially rekaman. Tentang Ridho yang mengawali karirnya bermusik karena merasa dirinya berbakat.

"Gue sendiri nggak percaya bakat. Gue percaya kerja keras." - Abdee, yang awalnya ngotot jadi vokalis, tapi kemudian sadar kalau suaranya nggak enak, dan permainan gitarnya bisa dipertanggungjawabkan.

Pertanyaan-pertanyaan kemudian diajukan dari fans-fansnya yang siang itu tidak terlalu ramai. Saya hanya berada diantara kira-kira 70 oran
g termasuk panitia. "Slankers itu buat kita teman. Jadi posisinya sejajar. Anak-anak yang main ke potlot itu kurang lebih anak2 remaja. Jadi regenerasi emang terjadi di slankers." - Kaka.

Dan lebih banyak pertanyaan lagi. Tentang produktivitas lagu, tentang label rekaman yang dimiliki Slank sendiri. Tentang politik, pandangan slank terhadap musik Indonesia dan hampir semua jawaban mereka terkait dengan suatu hal bernama Idealisme. Karena musiknya Slank itu berbicara, menyuarakan apa yang mereka rasa, dan sekarang.....apa yang Slankers mau dengar.

Akhirnya, setelah kurang lebih 1 setengah jam, yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba.

Performance slank. Di depan mata saya, kira-kira tiga meter.
Saya tau kalau mereka luar biasa, tapi saya nggak tau kalau suara Kaka begitu powerful. Kalau Abdee begitu memikat. Kalau Bimbim begitu ramah menyapa para fotografer-fotografer amatir yang memancarkan blitz tanpa henti. Kalau permainan bas Ivan begitu memukau. Kalau Ridho punya gaya yang keren, walaupun cuma duduk.Fotonya blur. Karena tangan saya nggak berhenti gemetar.
Terima kasih banyak yaa, buat temen saya Thia, anak Sastra Jerman yang saya kenal waktu Orientasi Belajar Mahasiswa, yang udah baik hati sms ngasih tau kalau ada Slank di sebuah seminar di Fakultas Ekonomi. Saya nggak pernah cerita lho sama Thia kalo saya suka Slank. Dia tau dari blog ini.

Lesson learned : Do not ever feel ashamed for things that you have dreamed. You know, you won't have a dream if you don't have a power to achieve it. Kalau saya nggak nulis di blog ini, mungkin saya belum dan nggak akan pernah nonton Slank live. Tapi saya nggak cuma nonton, saya juga ketemu in person sama mereka. Jadi, jangan pernah takut untuk berbagi cerita ya.

P.s : Makasih juga buat Uta & Kenny, sahabat-sahabat baru yang membuat hari itu lengkap :-) Juga untuk Ekki, yang membuat fotonya lebih indah untuk dikenang.

Cheers,
Clarissa Rizky

Comments

  1. caaaa i know rasanya, pasti deg2an ga karuan tp senengnya ga ketulungan ! :D :D aku punya pengalaman yg sama ke Yudha Perdana (dulu penyiar prambors dan sekarang balik lg siaran di prambors).. terima kasih juga itu buat temanku di prambors, titaz ! hihi :D :D

    ReplyDelete
  2. hehehe iya kaaak! banget ngeeet. Seneng ya ka tapi akhirnya ketemu sama idola hahaha bahasanya apaan sih -.- Tapi beneran seneng yaaa hihihihi

    ReplyDelete
  3. sama-sama iccaaaaa. ikut seneng deh bacanya :))

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts