Semacam Keluhan, atau Proses berdamai dengan diri sendiri
Saya udah lama banget nggak nulis, di blog. Akhir-akhir ini saya terpaksa menulis ribuan kata untuk beberapa essay, makalah, atau sekedar lembaran kertas folio berjudul ujian tengah semester. Akhirnya paruh pertama di semester lima selesai. Seperti biasa, energi saya dan kebanyakan mahasiswa lain pun habis di minggu terakhir ujian. Angan-angan saya untuk punya waktu sedikit untuk diri sendiri (baca : self care) seperti menulis disini, jalan-jalan sendiri atau nonton sama teman dekat pun harus pupus karena fisik saya drop tepat di ujian terakhir. Kepala saya yang sebelah kiri sakit luar biasa saat saya harus ngerjain 4 lembar soal essay pemahaman Teori Perkembangan dalam waktu 90 menit. Saya pikir itu psikosomatis, yang muncul karena ketegangan saya menghadapi ujian yang emang saya akui persiapannya pas-pasan dan akan berakhir setelah ujiannya lewat. Tapi saya masih nggak bisa nengok ke kiri gara-gara migraine itu bahkan sampai malam. Besoknya maag saya kumat dan membuat saya harus berulang kali memuntahkan apapun yang masuk ke perut saya. Semua itu bikin saya kesal sendiri karena harus menyia-nyiakan akhir pekan yang harusnya digunakan untuk merecharge energi yang habis, dan tanpa sadar kekesalan itu cuma memperburuk maagnya.
Penyakit lambung ini udah saya punya dari SD, dulu waktu EHB saya sering kumat karena selalu takut nggak bisa jadi yang terbaik di kelas. Begitu terus sampai mulai masuk ke SMP, perut saya juga jadi luar biasa manja (mudah sekali sakit kalau terlambat diisi) menjelang UAN. Waktu SMA maag saya bahkan sering kumat ketika saya bertengkar sama yah dulu sih punya pacar ha-ha-ha, atau waktu lagi menjelang tes SIMAK dan tentunya ujian akhir nasional. Tapi semua itu bisa saya atasi dengan baik, dan nggak pernah ada yang separah kemarin. Dulu saya nggak pernah ngerasain sakit kepala yang se'gini'nya. Oom saya yang merangkap dokter pribadi bahkan ngasih obat penenang yang bikin teman saya bilang "Kok kayak orang psikotik?" Hanya supaya saya nggak stres dan mengganggu kondisi fisik saya.
Kondisi fisik saya semakin drop karena saya ada masalah di gigi dan memperparah sakit kepalanya. Menurut kalender ini juga harusnya masuk periode premenstrual syndrome yang saya jadikan alasan kenapa saya jadi cranky luar biasa. Buat saya, sulit sekali untuk bisa bahagia dari hati akhir-akhir ini. Kumpul bersama seluruh keluarga besar dari dua pihak di hari raya Idul Adha pun gagal membuat saya tersenyum tulus dan menyenangi hari itu. Rentang kebahagiaan saya mendadak berubah hanya sepanjang episode Terra Nova atau Gossip Girl yang saya download setiap minggu dan saya search semua reviewnya di internet, atau sepanjang episode One Tree Hill yang saya tonton sambil sarapan sebelum kuliah. Kuliah? Minggu pertama setelah UTS memang selalu jadi downfall buat banyak orang, entah karena terlalu lelah atau memang masih pengen istirahat aja. Saya sendiri nggak tau saya ini masuk ke yang mana, tapi saya sudah melewatkan dua kuliah sampai saya menulis ini hanya karena malas.
Waktu teman saya nanya kenapa nggak mau masuk kelas Psikologi Perdamaian, saya jawab saya mau berdamai sama diri saya dulu. Saya ingin pelan-pelan mengingat sebenarnya saya ini kenapa, sebenarnya apa yang saya mau dan apa yang bisa bikin saya bahagia, dari hati. Lalu saya terdiam, lama.
Saya ingat perkataan Om saya waktu memeriksa kondisi perut saya, katanya "Kamu udah belajar Psikologi, harusnya udah tau ini psikosomatis. Muncul karena stress yang ada dalam diri kamu, harusnya kamu bisa kontrol." Iya, saya tau. Cuma percaya deh, ketika kamu tau persis masalah apa yang terjadi di diri kamu, kamu tau apa yang harusnya dilakukan untuk menghindari kondisi nggak enak itu, tapi kamu nggak bisa aja melakukan apapun—itu bahkan lebih menekan.
Saya tau, saya harusnya nggak setertekan itu menghadapi UTS kemarin, harusnya saya nggak menyesal karena saya kurang persiapan, harusnya saya nggak marah waktu tubuh saya nggak kuat diforsir dengan konsumsi kopi, harusnya saya nggak kesal sendiri karena saya harus kehilangan weekend kemarin. Yang paling krusial, harusnya saya nggak membiarkan diri saya terlibat dalam pertengkaran antara saya-ayah-dan-mama yang luar biasa melelahkan, dan harusnya saya menangis di sajadah ketika saya sujud bukan di dalam selimut semalaman dan membuat kepala saya pusing dan bertengkar lagi sebelum berangkat kuliah.
Harusnya saya bisa belajar menerima keadaan, memaafkan diri sendiri (dan orang tua saya), lebih bersyukur dan fokus sama apapun yang udah saya pilih. Sebut aja sembilan mata kuliah di semester ini, kerja sama media partner yang udah nungguin untuk RTC, atau kerjaan di Young on Top untuk event terdekat kami. Sampai detik ini, yang saya lakukan cuma nunda-nunda pekerjaan, mencari-cari tontonan (baca : tv show), menangis sampai kehabisan nafas setelah terlibat dalam pertengkaran hebat dengan orang tua saya, dan ngotot kalau saya butuh stimulasi eksternal buat merasa bahagia atau butuh seseorang buat dengerin semua cerita saya, nemuin satu orang aja yang bisa mengerti apa yang saya rasa, atau seseorang yang nggak mau tau apapun tentang masalah saya tapi bisa meluk dan bilang semuanya akan baik-baik aja.
Padahal saya tau betul happiness is a state of mind. Tergantung diri saya maunya ngerasa apa. Mudah-mudahan setelah mengeluarkan semuanya disini, saya bisa "walk the talk" dengan mengaplikasikan apa yang saya tau, apa yang saya udah pelajari baik dari kelas atau dari hidup. Karena saya nggak mungkin kasih apa yang saya nggak punya, mudah-mudahan saya punya cukup semangat nggak cuma buat ngejalanin hari-hari saya tapi juga untuk bisa kasih semangat ke orang lain yang (surprisingly and amazingly) nyaman untuk berbagi cerita dengan saya dan bisa saya semangatin dengan baik.
dan satu lagi, semoga saya selalu ingat—"Ketika saya nggak punya siapa-siapa selain Allah, ingat kalau sebenarnya Allah itu sudah lebih dari cukup." Dan ya, semoga kamu juga ya.
Sincerely yours,
Clarissa Rizky
Kondisi fisik saya semakin drop karena saya ada masalah di gigi dan memperparah sakit kepalanya. Menurut kalender ini juga harusnya masuk periode premenstrual syndrome yang saya jadikan alasan kenapa saya jadi cranky luar biasa. Buat saya, sulit sekali untuk bisa bahagia dari hati akhir-akhir ini. Kumpul bersama seluruh keluarga besar dari dua pihak di hari raya Idul Adha pun gagal membuat saya tersenyum tulus dan menyenangi hari itu. Rentang kebahagiaan saya mendadak berubah hanya sepanjang episode Terra Nova atau Gossip Girl yang saya download setiap minggu dan saya search semua reviewnya di internet, atau sepanjang episode One Tree Hill yang saya tonton sambil sarapan sebelum kuliah. Kuliah? Minggu pertama setelah UTS memang selalu jadi downfall buat banyak orang, entah karena terlalu lelah atau memang masih pengen istirahat aja. Saya sendiri nggak tau saya ini masuk ke yang mana, tapi saya sudah melewatkan dua kuliah sampai saya menulis ini hanya karena malas.
Waktu teman saya nanya kenapa nggak mau masuk kelas Psikologi Perdamaian, saya jawab saya mau berdamai sama diri saya dulu. Saya ingin pelan-pelan mengingat sebenarnya saya ini kenapa, sebenarnya apa yang saya mau dan apa yang bisa bikin saya bahagia, dari hati. Lalu saya terdiam, lama.
Saya ingat perkataan Om saya waktu memeriksa kondisi perut saya, katanya "Kamu udah belajar Psikologi, harusnya udah tau ini psikosomatis. Muncul karena stress yang ada dalam diri kamu, harusnya kamu bisa kontrol." Iya, saya tau. Cuma percaya deh, ketika kamu tau persis masalah apa yang terjadi di diri kamu, kamu tau apa yang harusnya dilakukan untuk menghindari kondisi nggak enak itu, tapi kamu nggak bisa aja melakukan apapun—itu bahkan lebih menekan.
Saya tau, saya harusnya nggak setertekan itu menghadapi UTS kemarin, harusnya saya nggak menyesal karena saya kurang persiapan, harusnya saya nggak marah waktu tubuh saya nggak kuat diforsir dengan konsumsi kopi, harusnya saya nggak kesal sendiri karena saya harus kehilangan weekend kemarin. Yang paling krusial, harusnya saya nggak membiarkan diri saya terlibat dalam pertengkaran antara saya-ayah-dan-mama yang luar biasa melelahkan, dan harusnya saya menangis di sajadah ketika saya sujud bukan di dalam selimut semalaman dan membuat kepala saya pusing dan bertengkar lagi sebelum berangkat kuliah.
Harusnya saya bisa belajar menerima keadaan, memaafkan diri sendiri (dan orang tua saya), lebih bersyukur dan fokus sama apapun yang udah saya pilih. Sebut aja sembilan mata kuliah di semester ini, kerja sama media partner yang udah nungguin untuk RTC, atau kerjaan di Young on Top untuk event terdekat kami. Sampai detik ini, yang saya lakukan cuma nunda-nunda pekerjaan, mencari-cari tontonan (baca : tv show), menangis sampai kehabisan nafas setelah terlibat dalam pertengkaran hebat dengan orang tua saya, dan ngotot kalau saya butuh stimulasi eksternal buat merasa bahagia atau butuh seseorang buat dengerin semua cerita saya, nemuin satu orang aja yang bisa mengerti apa yang saya rasa, atau seseorang yang nggak mau tau apapun tentang masalah saya tapi bisa meluk dan bilang semuanya akan baik-baik aja.
Padahal saya tau betul happiness is a state of mind. Tergantung diri saya maunya ngerasa apa. Mudah-mudahan setelah mengeluarkan semuanya disini, saya bisa "walk the talk" dengan mengaplikasikan apa yang saya tau, apa yang saya udah pelajari baik dari kelas atau dari hidup. Karena saya nggak mungkin kasih apa yang saya nggak punya, mudah-mudahan saya punya cukup semangat nggak cuma buat ngejalanin hari-hari saya tapi juga untuk bisa kasih semangat ke orang lain yang (surprisingly and amazingly) nyaman untuk berbagi cerita dengan saya dan bisa saya semangatin dengan baik.
dan satu lagi, semoga saya selalu ingat—"Ketika saya nggak punya siapa-siapa selain Allah, ingat kalau sebenarnya Allah itu sudah lebih dari cukup." Dan ya, semoga kamu juga ya.
Sincerely yours,
Clarissa Rizky

Comments
Post a Comment