Mungkin, hati memang dipilih ya.

Salah satu hobi yang paling signifikan dalam hidup saya adalah membaca. Walaupun frekuensinya sudah banyak menurun sejak munculnya kesukaan menonton tv seriesentah karena sudah terlalu banyak baca textbook karena kuliah atau memang ada di usia tanggung yang sudah tidak suka fiksi remaja tapi belum suka juga chicklit yang terlalu dewasa. Akhir-akhir ini saya beralih ke buku-buku nonfiksi yang dikenalkan oleh dunia Young on top atau buku-buku religius yang awalnya dibelikan oleh ibu saya, dan kemudian menjadi favorit seluruh keluarga. Apapun itu, saya selalu lebih menyukai buku dengan genre fiksi. Buku-buku tersebut bisa membawa saya pergi ke dalam cerita dan tenggelam dalam plot yang disajikan. Salah satu fiksi favorit saya sedang ramai dibicarakan orang karena filmnya memang sedang ditayangkanPerahu Kertas.

Seperti biasa, tidak akan ada film yang bisa melebihi bukunya. Tapi saya selalu jadi penggemar yang menghargai visualisasi yang diusahakan oleh seluruh kru filmnya. Menurut saya penggambaran interaksi Noni-Eko-Kugy-Keenan terlalu cepat tapi cukup merepresentasikan beberapa chapter bukunya. Mungkin saya hanya ingin melihat Bandung lebih lama. Sakolah Alit merupakan salah satu bagian favorit karena mau tidak mau mengingatkan pada sekolah saya sendiri di pelosok Kalimantan sana. Saya juga harus setuju dengan Gian yang sepanjang film serius sekali mengomentari adanya mobil Innova di setting tahun 1999atau harusnya pemain utamanya Laudya Cynthia Bella. 

Intinya film ini membawa saya pada satu hari yang saya habiskan untuk minum kopi dan melebur kembali dalam lembaran-lembaran ceritanya. Saya kembali patah hati ketika Kugy menghilang 'diculik' Keenan dan kembali menjelajahi masa lalu. Entah bagian menemukan Pilik sudah beristirahat di makamnya, bagian Keenan memeluk Kugy dari belakangmenyadari kebersamaan mereka hanya sebatas mimpi, atau bagian Remi mencari Kugy yang hilang dalam petualang dengan peraturan harus mematikan sarana komunikasi elektroniknya. 

Tidak seperti kebanyakan orang, saya selalu berharap Kugy memilih Remi pada akhirnya. Makanya hati saya patah waktu Keenan akhirnya punya keberanian untuk bilang.

"Saya cinta sama kamu. Dari pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu, Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu, Saya nggak melihat cinta ini ada ujungnya."

dan menangis ketika membaca kalimat terakhirnya. 

Kugy dan Keenan memang digambarkan secara sukses oleh penulisnya (yang merupakan idola saya) sebagai dua tokoh yang punya magnet satu sama lain. Bahkan Gian menggunakan term "Radar neptunus" sejak kami pulang dari nonton film ini. Kemudian yang tidak saya lupa adalah bahwa selalu ada kupu-kupu di perut ketika Keenan memanggil Kugy dengan sebutan "Kecil...." Dan buat siapapun yang suka menulis, tidak ada yang lebih menyenangkan dari punya pasangan yang mau punya karya sama-sama, nggak sih? Setidaknya untuk saya ucapan Keenan"Kecil, sebelum kamu tau pun, bagi saya, kita sudah berkarya bersama. Bedanya, kali ini kita melangkah bareng-bareng.."cukup membuat kepala terisi mimpi punya seseorang yang bisa diajak berbagi mimpi, dan menjalaninya, bareng-bareng.

Yet as much as i love Kugy-Keenan part, it was Remi's part which i love the most.

Kalau kata Kugy, Remi itu dekat, nyata, dan jelas-jelas mencintainya. Buat saya, itu definisi cinta yang tepat. Fakta kalau dia digambarkan sebagai eksekutif muda yang sukses di industri kreatif karena tidak hanya pintar tapi juga berani start up his own company membuat dia semakin sulit untuk tidak disukai. Tapi saya jatuh cinta sama Remigius Aditya bukan karena dia disebut-sebut sebagai eligible bachelor dengan segala kesempurnaannya, tapi karena kesederhanaan yang ia tawarkan. 

"Saya nggak pakai jurus apa-apa Gy. I just love you."

Cinta yang ditawarkan Remi pada Kugy begitu sederhana. Tidak seperti cerita Kugy-Keenan yang sering membuat hati keduanya sesak, mencintai Remi seharusnya begitu mudah dan membuat hidup Kugy jauh lebih indah. Entah gimana, padahal dia nggak sempurna-sempurna amat, tapi sejak Remi menulis surat untuk Neptunus yang ini;

"Makasih sudah mengirimkan agen Kugy ke kantor saya, dan membuat malam ini menjadi malam yang sangat menyenangkan. Saya nggak kepingin-kepingin amat kok jadi agen, saya lebih kepingin ditemani makan lagi sama agen kamu yang satu itu. Mudah-mudahan dia mau."

Saya merasa kalau menemukan seseorang seperti Remi akan menjadi sebuah happily ever after versi saya. Saya sendiri selalu percaya kalau dalam kehidupan nyata, semua orang akan ended up dengan the right love of their life. Hanya ada beberapa yang beruntung bisa mendapatnya secara bersamaan dengan the great love of their life. Hanya beberapa orang yang beruntung bisa bernasib sama seperti Kugy. Sisanya, akan mengubah the right loveorang yang 'tepat' untuknyamenjadi orang yang bisa ia berikan cinta tanpa ujung seperti Keenan. 


Buat saya lebih masuk akal mencari (atau lebih tepatnya menunggu untuk ditemukan oleh) orang seperti Remi. Yang secara jujur bilang bahwa ia tidak kepengen-pengin amat jadi agen neptunus, tapi lebih ingin bisa makan lagi dengan agen yang satu itu. Dia tidak ada dalam dunia dongeng milik Kugy, tapi dia dengan tulus usaha untuk masuk ke dalamnya, meskipun bagaimanapun dia usahadia nggak akan bisa seperti satu-satunya rekan agen neptunus yang ada dunia, yang punya inisial K. Kesederhanaan kisah kehidupan tanpa drama ruwet yang ditawarkan Remi membuat saya sulit menerima kalau memang takdirnya Kugy ya sama Keenan. Ketulusan dan fakta bahwa Remi adalah satu-satunya orang yang mengingatkan Kugy bahwa ia sudah tumbuh dewasa dan dunia yang ada dihadapannya adalah dunia nyata membuat saya setengah marah waktu Remi akhirnya melepaskan Kugy. 

"Kamu harus mencari orang yang mau memberikan apapun tanpa kamu minta, Gy."
"Tapi.... itu kan kamu.... Kamu selalu kasih apapun tanpa saya minta.."
"Iya Gy. Kamu udah nemu. Saya yang belum..."

...dan meninggalkan saya patah hati dan mungkin menjadi satu-satunya orang yang  merasa bahwa Epilognya bittersweet. Akhir yang membuat semua orang senang ini membuat saya yakin kalau Perahu Kertas memang sebuah fiksi yang bagus. Seperti genrenya, akhir seperti ini hampir tidak mungkin ditemukan di dunia saya.
Jadi, selamat mencari Remigius Aditya, versi kamu!

Cheers, 
Clarissa Rizky

Comments

Popular Posts