“What is the point of being alive if you don’t at least try to do something remarkable?”
— John Green
Senyum. Itu yang bisa saya, Dede dan Ila lakukan di detik-detik pertama perkenalan kami dengan para warga. Percakapan yang masih kaku mulai terjalin, pertanyaan seputar perjalanan diajukan pada kami sementara kami menggali tentang kehidupan sehari-hari di perbatasan. Hati saya seperti diiris ketika mereka mengaku belum pernah melihat Indonesia, bahkan kecamatan Badau pun belum, tapi sudah berkali-kali ke Malaysia. Saya berusaha tidak terlalu kaget ketika mereka lebih kenal uang ringgit dibandingkan 'uang ribu'. Mereka juga cerita kalau semua kebutuhan dasar disini dipasok dari Malaysia—karena pada dasarnya memang jauh lebih mudah aksesnya.
Bingung. Setelah selesai bercakap-cakap dengan para warga, saya yang bisa dibilang hobi mandi ini harus mengikuti jalan setapak ke arah hutan bersama anak-anak—yang katanya akan membawa saya ke 'air merakai'—tempat semua orang di desa ini mandi saat musim kemarau seperti ini. Jadi ternyata bukan listrik saja yang belum masuk ke desa ini, akses air juga masih jauh dari kata layak. Untuk air minum, baru 2 tahun mereka dapat menikmati 'air bukit' yang mengaliri pipa (yang mereka buat sendiri). Itupun tidak mengalir ke seluruh desa, hanya pada beberapa titik tertentu. Ketika musim kemarau, semua orang harus melakukan aktivitas seperti mandi dan mencuci di sungai yang mereka sebut dengan air merakai.
Takut. Saya takut untuk tidak bisa adaptasi dengan semua keterbatasan yang akan dihadapi sebulan ke depan ini. Mandi dan mencuci di sungai, hidup tanpa listrik, sinyal telepon yang datangnya sesekali, masak nasi tanpa rice cooker, masak sayur; daun katuk, singkong, kacang panjang dan kangkung (setiap hari), bakar sampah, dan yang paling buat saya takut adalah berbagai mitos tentang hal-hal mistis di Kalimantan. Semua ketakutan itu alhamdulillah mengantarkan saya pada titik yang lebih dekat sama Allah. Saya seperti diingatkan kalau satu-satunya tempat berlindung yang akan selalu ada, dimanapun, kapanpun, dan di situasi apapun itu cuma Allah. Keyakinan itu akhirnya membuat saya lebih kuat untuk ngejalanin hari-hari kedepan dan berusaha untuk terus beradaptasi. Perlahan saya dan teman-teman pun mulai menikmati hari-hari disana. Kenalan sama warga, belajar bahasa Dayak Iban, main sama anak-anak, melihat ibu-ibu membuat kerajinan tikar, melihat sendiri jauhnya ladang tempat para warga mencari 'sesuap nasi' dan merasakan sendiri betapa jauhnya pasar tempat mereka menjual hasil kebunnya membuat saya sadar kalau begitu banyak yang harus saya syukuri dari perjalanan ini.
Kagum. Berhari-hari hidup di Desa Langau hanya membuat saya semakin kagum tidak hanya pada warganya, tetapi juga pada keindahan alamnya. Pemandangan saya setiap pagi ketika membuka mata adalah gunung di sebelah kanan dan bukit lainnya di sebelah kiri. Iya, saya memang tidak ditempatkan di pulau yang pantainya masih perawan. Justru karena alasan itu saya nggak pernah expect untuk mendapatkan begitu banyak keindahan di daerah perbatasan negeri ini. Desa Langau terdiri dari 3 dusun dimana terdapat dua dusun kecil yang terpisah jauh dari dusun utama tempat saya tinggal. Setelah harus berjalan selama satu jam, melakukan ritual injak pasir 7 kali kemudian meraup, dan meletakannya di kening sambil menucapkan 'buritannya pala ndak' supaya tidak terkena kutukan saat melewati makan tradisional Dayak, sampailah kami di Dusun Jaungran. Dusun ini konon memiliki objek wisata 'air terjun' yang begitu dibanggakan warganya. Namun kami kembali harus menempuh perjalanan yang menurut saya 'jejak petualang' banget untuk bisa sampai kesana. Alhamdulillah semua bukit, hutan dan jalan setapak yang dilewati terasa worth it ketika saya menginjakkan kaki di air terjun tersebut. Untuk pertama kalinya, saya melupakan semua beban-penat-dan-pikiran yang dimiliki dan melompat dari ketinggian lima meter di kolam renang alami yang airnya luar biasa segar ini. Selain air terjun ini, saya juga rindu untuk menghabiskan banyak waktu hanya untuk menatap langit yang benar-benar bertabur bintang. Seindah-indahnya kota Jakarta, nggak akan ada satu tempat pun yang bisa kasih lihat langit seindah disini. Satu-satunya satelit planet ini, bulan, juga terlihat luar biasa dekat. Pada hari-hari yang mereka sebut 'terang bulan', saya nggak perlu senter untuk menerangi jalan yang gelap gulita menuju rumah warga.
Belajar. Itu inti kegiatan saya setiap harinya. Saya belajar bangun pagi dengan tanggungjawab untuk bukan hanya menjalankan program dan (mudah-mudahan) bisa kasih manfaat untuk orang banyak, tapi juga untuk sekedar bertahan hidup. Perkara angkat air ke sungai supaya bisa cuci piring, masak, dan membersihkan rumah itu mulai jadi kegiatan harian. Menjelang siang, anak-anak yang lama kelamaan sudah saya anggap jadi adik saya sendiri akan datang dan tanpa sadar mewarnai hari-hari saya. Jumlah mereka kalau ditotal ada sekitar 40 orang. Secara rutin mereka mengikuti program yang kami bawa setiap harinya. Dari sana, saya belajar banyak.
Dari Suring—seorang remaja berusia 14 tahun yang baru saja mau masuk SMP--saya belajar kalau mencapai cita-cita itu tidak pernah mudah, tapi masih bisa diusahakan. "Saya kemarin berhenti sekolah kak 2 tahun. Tidak kuat jalan setiap hari dari Langau ke Sungai Antu. Sekarang sudah bisa tinggal di asrama makanya sekolah lagi." Saya masih bisa menahan tangis ketika dengar cerita ini, bahwa pendidikannya harus terhenti karena nggak ada transportasi lintas desa dimana kalau jalan kaki ia harus menemupuh perjalanan 12 KM dengan kondisi jalan yang naik turun bukit serta luar biasa rusak terutama ketika musim hujan. Yang saya tidak tahan adalah ketika saya berpesan bahwa ia harus belajar dengan rajin, ia jawab "Iya kak. Aku ingin jadi tentara. Kata mamakku kalau nakal aku disuruh pegang parang saja. Aku nggak mau kak. Aku ingin berguna seperti kakak."
Saya tau, cerita tentang anak di pedalaman yang harus menempuh perjalanan jauh untuk sekolah memang sudah banyak terdengar. Saya baru tau kalau mendengarnya secara langsung bisa membuat saya bergetar saking malunya. Dari Sawing—salah satu dari sedikit lulusan SMA yang ada di desa Langau—saya belajar kalau hidup memang jarang kasih kita banyak pilihan, tapi kalau kita mau manfaatin yang ada, sebenarnya itu udah lebih dari cukup. Ia berhasil menamatkan sekolahnya jauh dari desa tempat ia dilahirkan karena memang mendidikan tingkat atas itu belum tersedia disana. Perjalanan dari desa Langau ke NangaKantuk, tempatnya sekolah harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 2 hari dua malam. Ia harus membawa beras dan memasaknya dengan bambu di tengah hutan untuk bertahan hidup ketika itu. Kehidupan disana pun jauh dari kata nyaman. Dengan sinyal telepon yang serba sulit dan ketiadaan ATM ataupun bank, ia hanya dapat mengandalkan CU untuk mengantarkan titipan uang bekal dari orang tuanya. Ketika kiriman uang ini terlambat, ia terpaksa mencuri singkong dari kebun warga setempat untuk bertahan hidup. Dengan segala keterbatasan, ia berhasil membuat orang tuanya bangga dengan menyelesaikan jenjang pendidikan ini.
Selanjutnya dari Vera—anak tetua adat di Desa Langau—seorang katholik yang taat, saya belajar kalau toleransi itu datangnya dari hati. Adalah keluarga vera yang membukakan pintunya untuk kami menginap ketika pertama kali kami datang dan mendapati Pos Kesehatan Desa tanpa lampu dan tikar untuk tidur. Ia juga yang menawarkan kami untuk memotong ayam sendiri supaya bisa diolah menjadi makanan yang halal. Bapak dan Ibu Pateh, Vera, Bang Roby dan semua anggota keluarganya menjadi jawaban akan keramahan yang sudah lama saya rindukan di kota besar. Dari mereka juga saya belajar kalau di tengah kondisi seperti apapun, menolong orang lain akan menjadi suatu hal yang baik untuk dilakukan. Mereka sudah seperti orang tua saya disana, begitu perhatian dan tulus. Saya bahkan menangis ketika menulis ini karena ingat kata-kata terakhir mamak sebelum kami pulang. "Jangan lupa kabari kalau sudah sampai di Jakarta, jangan bikin perut mamak mulas."
Dari kunjungan ke rumah warga, atau percakapan sore di depan rumah ketika mereka pulang dari ladang, saya belajar kalau hidup itu bukan sekedar kuliah-lulus-menata masa depan seperti yang selama ini saya pikirkan. Kalau ternyata banyak sekali hal yang belum pernah saya lihat selama ini. Mereka yang hidup ditengah ketidakmerataan pembangunan, bertahan dengan kebutuhan pokok yang dipasok dari negeri tetangga, harus berjalan puluhan kilometer untuk mendapat penanganan kesehatan, pendidikan dan pekerjaan yang lebih layak ini tetap menikmati hidupnya dan salah satu yang paling penting, bangga menyebut dirinya sebagai warga Indonesia.
Dari orang-orang ini saya belajar untuk mensyukuri segala kemudahan dan kenyamanan yang saya punya dalam hidup. Dari mereka juga saya jadi termotivasi untuk sedikit-sedikit membenahi hidup. Kalau ternyata hidup itu harusnya diisi dengan terus berbagi. Masa depan yang sudah saya nanti-nantikan itu harus diisi dengan lebih membawa kebermanfaatan untuk orang lain. Mudah-mudahan bisa menyentuh bagian lain dari negeri ini, seperti bagian terjauh yang saya kunjungi bulan lalu. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kembali kesana, memberikan manfaat yang jauh lebih besar ketimbang mengajar anak disleksia untuk mengenal huruf, mengobati anak tunarungu yang setiap hari masih mengeluarkan cairan di telinganya, mengubah tingkah laku anak tunalaras menjadi 'baik', memberikan pengobatan pada warga yang sakit, atau memberikan harapan bagi anak-anak kalau mereka punya masa depan yang harus dikejar.
Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kembali dan memeluk satu per satu adik-adik yang saya tinggalkan. Mudah-mudahan saya dikasih kesempatan untuk ketemu lagi sama David, Jaka, Suring, Cendang, Acan dan Janting yang rela jalan kaki hujan-hujanan selama dua jam dari Desa Langau ke Sungai Antu untuk melihat mengucapkan selamat tinggal sebelum kami pulang. Mudah-mudahan saya bisa ketemu lagi sama Novie dan Jenny yang begitu mencuri hati dan mengujani saya dengan surat, hadiah dan banyak kenangan. Mudah-mudahan saya bisa ketemu lagi sama Hasswin, yang sekarang sudah beristirahat disisi Allah karena nggak punya uang untuk berobat ketika ia sakit. Mudah-mudahan Allah mempertimbangkan doa saya, dan kalaupun tidak terkabul, saya berdoa supaya mereka selalu berada di dalam lindungan-Nya.
Butuh waktu lumayan lama untuk berhasil menuangkan perasaan saya lewat tulisan tentang mereka. Kebanyakan berhenti karena saya tidak kuat menahan tangis. Saya belum pernah sekangen ini sama orang ataupun sama suatu tempat. Sekali lagi, mereka mengajarkan saya perasaan luar biasa yang biasa disebut dengan cinta, dalam bentuk yang jauh lebih indah dari yang pernah saya rasakan. Terima kasih mungkin yang paling tepat untuk gambarin perasaan saya tentang puluhan hari disana, tapi saya tau itu tetap jauh dari kata cukup.
Sedikit tentang mereka, di mata saya.
Untuk semua keluarga saya di Kalimantan sana,
Sampai ketemu lagi yah,
Clarissa Rizky
Tweet
Kalut. Itu yang muncul di benak saya begitu meninggalkan teman-teman di kecamatan dan pertama kali menginjakkan kaki di Desa Langau. Sebuah desa kecil berisi 80an keluarga di pinggir Indonesia. Desa yang akan menjadi tempat tinggal saya selama satu bulan. Desa yang tidak pernah saya sangka membuat saya begitu jatuh cinta dan dengan bangga saya sebut sebagai 'rumah kedua'. Saya turun dari motor dan mendapati sebuah rumah ukuran sederhana bercat hijau dengan plang 'Pusat Kesehatan Desa' yang katanya akan kami huni. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa rumah ini dihuni oleh manusia. Desir ketakutan semakin menganggu hati saya ketika hampir semua ibu-ibu yang menyambut kami memiliki garis wajah khas orang Dayak yang tirus dan mereka saling bercakap dengan bahasanya sendiri. Tidak ada satu pun dari kami yang memahami perkataan mereka.
Senyum. Itu yang bisa saya, Dede dan Ila lakukan di detik-detik pertama perkenalan kami dengan para warga. Percakapan yang masih kaku mulai terjalin, pertanyaan seputar perjalanan diajukan pada kami sementara kami menggali tentang kehidupan sehari-hari di perbatasan. Hati saya seperti diiris ketika mereka mengaku belum pernah melihat Indonesia, bahkan kecamatan Badau pun belum, tapi sudah berkali-kali ke Malaysia. Saya berusaha tidak terlalu kaget ketika mereka lebih kenal uang ringgit dibandingkan 'uang ribu'. Mereka juga cerita kalau semua kebutuhan dasar disini dipasok dari Malaysia—karena pada dasarnya memang jauh lebih mudah aksesnya.
Bingung. Setelah selesai bercakap-cakap dengan para warga, saya yang bisa dibilang hobi mandi ini harus mengikuti jalan setapak ke arah hutan bersama anak-anak—yang katanya akan membawa saya ke 'air merakai'—tempat semua orang di desa ini mandi saat musim kemarau seperti ini. Jadi ternyata bukan listrik saja yang belum masuk ke desa ini, akses air juga masih jauh dari kata layak. Untuk air minum, baru 2 tahun mereka dapat menikmati 'air bukit' yang mengaliri pipa (yang mereka buat sendiri). Itupun tidak mengalir ke seluruh desa, hanya pada beberapa titik tertentu. Ketika musim kemarau, semua orang harus melakukan aktivitas seperti mandi dan mencuci di sungai yang mereka sebut dengan air merakai.
Takut. Saya takut untuk tidak bisa adaptasi dengan semua keterbatasan yang akan dihadapi sebulan ke depan ini. Mandi dan mencuci di sungai, hidup tanpa listrik, sinyal telepon yang datangnya sesekali, masak nasi tanpa rice cooker, masak sayur; daun katuk, singkong, kacang panjang dan kangkung (setiap hari), bakar sampah, dan yang paling buat saya takut adalah berbagai mitos tentang hal-hal mistis di Kalimantan. Semua ketakutan itu alhamdulillah mengantarkan saya pada titik yang lebih dekat sama Allah. Saya seperti diingatkan kalau satu-satunya tempat berlindung yang akan selalu ada, dimanapun, kapanpun, dan di situasi apapun itu cuma Allah. Keyakinan itu akhirnya membuat saya lebih kuat untuk ngejalanin hari-hari kedepan dan berusaha untuk terus beradaptasi. Perlahan saya dan teman-teman pun mulai menikmati hari-hari disana. Kenalan sama warga, belajar bahasa Dayak Iban, main sama anak-anak, melihat ibu-ibu membuat kerajinan tikar, melihat sendiri jauhnya ladang tempat para warga mencari 'sesuap nasi' dan merasakan sendiri betapa jauhnya pasar tempat mereka menjual hasil kebunnya membuat saya sadar kalau begitu banyak yang harus saya syukuri dari perjalanan ini.
Kagum. Berhari-hari hidup di Desa Langau hanya membuat saya semakin kagum tidak hanya pada warganya, tetapi juga pada keindahan alamnya. Pemandangan saya setiap pagi ketika membuka mata adalah gunung di sebelah kanan dan bukit lainnya di sebelah kiri. Iya, saya memang tidak ditempatkan di pulau yang pantainya masih perawan. Justru karena alasan itu saya nggak pernah expect untuk mendapatkan begitu banyak keindahan di daerah perbatasan negeri ini. Desa Langau terdiri dari 3 dusun dimana terdapat dua dusun kecil yang terpisah jauh dari dusun utama tempat saya tinggal. Setelah harus berjalan selama satu jam, melakukan ritual injak pasir 7 kali kemudian meraup, dan meletakannya di kening sambil menucapkan 'buritannya pala ndak' supaya tidak terkena kutukan saat melewati makan tradisional Dayak, sampailah kami di Dusun Jaungran. Dusun ini konon memiliki objek wisata 'air terjun' yang begitu dibanggakan warganya. Namun kami kembali harus menempuh perjalanan yang menurut saya 'jejak petualang' banget untuk bisa sampai kesana. Alhamdulillah semua bukit, hutan dan jalan setapak yang dilewati terasa worth it ketika saya menginjakkan kaki di air terjun tersebut. Untuk pertama kalinya, saya melupakan semua beban-penat-dan-pikiran yang dimiliki dan melompat dari ketinggian lima meter di kolam renang alami yang airnya luar biasa segar ini. Selain air terjun ini, saya juga rindu untuk menghabiskan banyak waktu hanya untuk menatap langit yang benar-benar bertabur bintang. Seindah-indahnya kota Jakarta, nggak akan ada satu tempat pun yang bisa kasih lihat langit seindah disini. Satu-satunya satelit planet ini, bulan, juga terlihat luar biasa dekat. Pada hari-hari yang mereka sebut 'terang bulan', saya nggak perlu senter untuk menerangi jalan yang gelap gulita menuju rumah warga.
Belajar. Itu inti kegiatan saya setiap harinya. Saya belajar bangun pagi dengan tanggungjawab untuk bukan hanya menjalankan program dan (mudah-mudahan) bisa kasih manfaat untuk orang banyak, tapi juga untuk sekedar bertahan hidup. Perkara angkat air ke sungai supaya bisa cuci piring, masak, dan membersihkan rumah itu mulai jadi kegiatan harian. Menjelang siang, anak-anak yang lama kelamaan sudah saya anggap jadi adik saya sendiri akan datang dan tanpa sadar mewarnai hari-hari saya. Jumlah mereka kalau ditotal ada sekitar 40 orang. Secara rutin mereka mengikuti program yang kami bawa setiap harinya. Dari sana, saya belajar banyak.
Dari Suring—seorang remaja berusia 14 tahun yang baru saja mau masuk SMP--saya belajar kalau mencapai cita-cita itu tidak pernah mudah, tapi masih bisa diusahakan. "Saya kemarin berhenti sekolah kak 2 tahun. Tidak kuat jalan setiap hari dari Langau ke Sungai Antu. Sekarang sudah bisa tinggal di asrama makanya sekolah lagi." Saya masih bisa menahan tangis ketika dengar cerita ini, bahwa pendidikannya harus terhenti karena nggak ada transportasi lintas desa dimana kalau jalan kaki ia harus menemupuh perjalanan 12 KM dengan kondisi jalan yang naik turun bukit serta luar biasa rusak terutama ketika musim hujan. Yang saya tidak tahan adalah ketika saya berpesan bahwa ia harus belajar dengan rajin, ia jawab "Iya kak. Aku ingin jadi tentara. Kata mamakku kalau nakal aku disuruh pegang parang saja. Aku nggak mau kak. Aku ingin berguna seperti kakak."
Saya tau, cerita tentang anak di pedalaman yang harus menempuh perjalanan jauh untuk sekolah memang sudah banyak terdengar. Saya baru tau kalau mendengarnya secara langsung bisa membuat saya bergetar saking malunya. Dari Sawing—salah satu dari sedikit lulusan SMA yang ada di desa Langau—saya belajar kalau hidup memang jarang kasih kita banyak pilihan, tapi kalau kita mau manfaatin yang ada, sebenarnya itu udah lebih dari cukup. Ia berhasil menamatkan sekolahnya jauh dari desa tempat ia dilahirkan karena memang mendidikan tingkat atas itu belum tersedia disana. Perjalanan dari desa Langau ke NangaKantuk, tempatnya sekolah harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 2 hari dua malam. Ia harus membawa beras dan memasaknya dengan bambu di tengah hutan untuk bertahan hidup ketika itu. Kehidupan disana pun jauh dari kata nyaman. Dengan sinyal telepon yang serba sulit dan ketiadaan ATM ataupun bank, ia hanya dapat mengandalkan CU untuk mengantarkan titipan uang bekal dari orang tuanya. Ketika kiriman uang ini terlambat, ia terpaksa mencuri singkong dari kebun warga setempat untuk bertahan hidup. Dengan segala keterbatasan, ia berhasil membuat orang tuanya bangga dengan menyelesaikan jenjang pendidikan ini.
Selanjutnya dari Vera—anak tetua adat di Desa Langau—seorang katholik yang taat, saya belajar kalau toleransi itu datangnya dari hati. Adalah keluarga vera yang membukakan pintunya untuk kami menginap ketika pertama kali kami datang dan mendapati Pos Kesehatan Desa tanpa lampu dan tikar untuk tidur. Ia juga yang menawarkan kami untuk memotong ayam sendiri supaya bisa diolah menjadi makanan yang halal. Bapak dan Ibu Pateh, Vera, Bang Roby dan semua anggota keluarganya menjadi jawaban akan keramahan yang sudah lama saya rindukan di kota besar. Dari mereka juga saya belajar kalau di tengah kondisi seperti apapun, menolong orang lain akan menjadi suatu hal yang baik untuk dilakukan. Mereka sudah seperti orang tua saya disana, begitu perhatian dan tulus. Saya bahkan menangis ketika menulis ini karena ingat kata-kata terakhir mamak sebelum kami pulang. "Jangan lupa kabari kalau sudah sampai di Jakarta, jangan bikin perut mamak mulas."
Dari kunjungan ke rumah warga, atau percakapan sore di depan rumah ketika mereka pulang dari ladang, saya belajar kalau hidup itu bukan sekedar kuliah-lulus-menata masa depan seperti yang selama ini saya pikirkan. Kalau ternyata banyak sekali hal yang belum pernah saya lihat selama ini. Mereka yang hidup ditengah ketidakmerataan pembangunan, bertahan dengan kebutuhan pokok yang dipasok dari negeri tetangga, harus berjalan puluhan kilometer untuk mendapat penanganan kesehatan, pendidikan dan pekerjaan yang lebih layak ini tetap menikmati hidupnya dan salah satu yang paling penting, bangga menyebut dirinya sebagai warga Indonesia.
Dari orang-orang ini saya belajar untuk mensyukuri segala kemudahan dan kenyamanan yang saya punya dalam hidup. Dari mereka juga saya jadi termotivasi untuk sedikit-sedikit membenahi hidup. Kalau ternyata hidup itu harusnya diisi dengan terus berbagi. Masa depan yang sudah saya nanti-nantikan itu harus diisi dengan lebih membawa kebermanfaatan untuk orang lain. Mudah-mudahan bisa menyentuh bagian lain dari negeri ini, seperti bagian terjauh yang saya kunjungi bulan lalu. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kembali kesana, memberikan manfaat yang jauh lebih besar ketimbang mengajar anak disleksia untuk mengenal huruf, mengobati anak tunarungu yang setiap hari masih mengeluarkan cairan di telinganya, mengubah tingkah laku anak tunalaras menjadi 'baik', memberikan pengobatan pada warga yang sakit, atau memberikan harapan bagi anak-anak kalau mereka punya masa depan yang harus dikejar.
Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kembali dan memeluk satu per satu adik-adik yang saya tinggalkan. Mudah-mudahan saya dikasih kesempatan untuk ketemu lagi sama David, Jaka, Suring, Cendang, Acan dan Janting yang rela jalan kaki hujan-hujanan selama dua jam dari Desa Langau ke Sungai Antu untuk melihat mengucapkan selamat tinggal sebelum kami pulang. Mudah-mudahan saya bisa ketemu lagi sama Novie dan Jenny yang begitu mencuri hati dan mengujani saya dengan surat, hadiah dan banyak kenangan. Mudah-mudahan saya bisa ketemu lagi sama Hasswin, yang sekarang sudah beristirahat disisi Allah karena nggak punya uang untuk berobat ketika ia sakit. Mudah-mudahan Allah mempertimbangkan doa saya, dan kalaupun tidak terkabul, saya berdoa supaya mereka selalu berada di dalam lindungan-Nya.
Butuh waktu lumayan lama untuk berhasil menuangkan perasaan saya lewat tulisan tentang mereka. Kebanyakan berhenti karena saya tidak kuat menahan tangis. Saya belum pernah sekangen ini sama orang ataupun sama suatu tempat. Sekali lagi, mereka mengajarkan saya perasaan luar biasa yang biasa disebut dengan cinta, dalam bentuk yang jauh lebih indah dari yang pernah saya rasakan. Terima kasih mungkin yang paling tepat untuk gambarin perasaan saya tentang puluhan hari disana, tapi saya tau itu tetap jauh dari kata cukup.
Sedikit tentang mereka, di mata saya.
Untuk semua keluarga saya di Kalimantan sana,
Sampai ketemu lagi yah,
Clarissa Rizky





















Comments
Post a Comment