The important thing is this: to be able to give up in any given moment all that we are for what we can become."
- De Seaux
1. Denial
2. Anger
Jadi, saya sekali lagi mencoba untuk melihat sisi positif dari apa yang Allah kasih dalam hidup. Banyak diskusi (atau boleh dibilang curhat) sama orang yang lebih pengalaman (baca: senior psikologi) tentang masuk ke dunia kerja itu juga membantu. Saya yakin kalau semua proses pembelajaran di kantor nantinya akan semakin mendewasakan saya dengan caranya sendiri, jadi ketika waktunya datang untuk kembali ke kampus, saya jauh lebih siap. Kalau tiba-tiba ternyata bukan jalannya untuk balik ke kampus, saya sudah seyakin itu pasti dikasih jalan yang lebih baik sama Tuhan.
Bicara soal berkah, ini sedikit banyak definisi berkah Allah buat saya di awal 2013:
Februari 2013 berlalu agak keterlaluan cepatnya. Sudah genap tiga minggu sejak saya mengenakan pakaian kebanggaan hampir semua mahasiswa yang telah merasakan pahit manisnya perkuliahan. Seperti kata bapak dekan fakultas yang terhormat, selebrasi pasca sidang, yudisium, hingga prosesi wisuda itu rasanya luar biasa manis. Saya belum pernah merasa sediberkahi itu sama Allah. Semua target yang saya pasang sendiri baik untuk rentang waktu 3,5 tahun dan predikat impian di akhir studi juga tercapai. Ditambah lagi saya dikelilingi orang baik yang mendukung naik turunnya proses sampai gelar sarjana psikologi ada di belakang nama. Buat saya, bersyukur itu harusnya memang nggak ada habisnya kalau ingat kemudahan dan kekuatan yang udah dikasih sama Allah.
Nah ini dia tapinya, namanya juga manusia, pasti ada aja keluhannya dalam hidup. Pasca lulus itu buat saya proses pembelajaran baru soal hidup. Belajar bahwa hidup memang nggak selamanya soal melakukan apa yang kita suka, tapi menyukai apa yang kita harus lakukan. Kalau boleh milih, saya maunya sih langsung sekolah lagi. Nggak usah jauh-jauh, di kampus saya yang kemarin, langsung ambil program magister profesi klinis dewasa. Diulang ya, kalau boleh milih. Kenapa sekolah lagi? Sesederhana karena saya tau itu apa yang saya mau dalam hidup, menjadi seorang psikolog. Kenapa psikolog? karena impian untuk bisa bekerja di sebuah rumah sakit/klinik bukannya kerja full time 9-6 demi nantinya punya waktu lebih sebagai ibu & juga supaya bisa menolong orang lain sekaligus cari uang. Siapa sih, yang nggak senang bisa bantuin orang? Ditambah lagi setelah melewati beberapa jenjang pendidikan, saya tau kalau saya sangat menikmati proses belajar di ranah ilmu yang saya cintai, psikologi. Jadi buat saya, disuruh belajar sampai tingkat pendidikan yang lebih tinggi itu justru menyenangkan.
Sekali lagi, saya diajarkan sama Yang punya hidup bahwa jalan cerita masing-masing orang itu nggak selalu berjalan sesuai sama yang direncanakan. Saya belajar kalau ternyata saya dikasih berkahnya ditempat yang lain, bukan di sisi kestabilan finansial orangtua untuk menunjang keinginan saya sekolah lagi dalam waktu dekat, atau entah sampai kapan. Saya belajar kalau ternyata menjadi dewasa adalah memahami posisi kita dalam hidup, untuk memulai bukan dari apa yang kita inginkan, tapi dari apa yang kita punya sekarang. Even it means you have to take a path that you've never imagined. Saya baru saja menolak pekerjaan sebagai marketing di sebuah konsultan psikologi karena berbagai alasan yang salah satunya gaji. Saya juga sejujurnya belum 100% yakin apakah saya akan mencintai pekerjaan yang akan saya ambil jika benar-benar sudah waktunya bergabung di sebuah bank atau perusahaan multinasional. Yang saya tau, saya juga bisa belajar disana. Learn & earn, supaya one day bisa return.
21 tahun buat saya usia yang harusnya sudah dewasa dalam menyikapi keputusan Allah dalam hidup. Saya bukan orang suci yang nggak pernah marah, nangis, atau menggunakan emotiong focused coping tipe venting dengan cara acting out dalam menghadapi terhadap stres. Akhir-akhir ini saya bisa jadi luar biasa sensitif sama orang lain yang (menurut saya) hidupnya jauh lebih enak dari saya tapi mengeluh, atau anak-anak yang orangtuanya bisa bayarin sekolah mahal-mahal tapi nggak memanfaatkan kesempatan. Saya menganalogikan proses transisi dalam menerima kondisi hidup yang sekarang seperti proses manusia menerima kepergian orang terdekat atau yang disebut grieving. Grieving menurut Kubler-Ross (1967; Papalia et al., 2009) terdiri dari lima fase:
Fase penolakan bahwa kondisi ini benar-benar terjadi dalam hidup. Saat di mana saya bingung sama kenyataan, rasanya pengen banget nanya sama Tuhan, how can I keep moving forward if every plan seems like falling apart? Agak drama tapi intinya fase ini sedikit banyak bikin saya mikir hidup kok kayak nggak berpihak sama saya. Tapi ternyata kalau dari yang saya baca, we can find grace even in denial. It’s a nature’s way of letting in only as much as we can handle. Seiring berjalannya waktu, saya perlahan mulai nerima kondisi yang ada dan mulai bertanya sama diri sendiri, mau sampai kapan? Nah, ternyata ini udah masuk ke healing process, ketika kita secara tidak sadar menjadi lebih kuat untuk benar-benar menghadapi kenyataan.
Fase yang ini memang nggak dilalui semua orang, tapi boleh dibilang manusiawi kan ya kalau kita merasa marah ketika sesuatu (terutama yang terkait dengan impian dalam hidup) tidak tercapai? Sebenarnya itu pertanyaan retoris yang kita sama-sama tahu saya tulis untuk sekedar membuat hati lebih nyaman, tapi intinya, ketika marah itu sebenarnya kita meluapkan emosi-emosi lain. Emosi yang kadang kita nggak sadar kita rasakan, tapi keluarnya lewat marah. Lucky us, we can always manage our anger, if only we want to. It's always okay to be mad, but since we live in the society that fears anger, we have to know when to use the energy to heal, not to be pissed. No matter how suck the sitation is, we have to know that at the end of the day we have to stop the anger.
3. Bargaining
Fase berikutnya adalah fase yang lumayan bahaya menurut saya. Dua kata yang bisa jadi racun sebut saja 'If only' dan 'What if' yang akan segera mengantarkan kita tentang indahnya masa yang udah lewat. Pikiran-pikiran tentang 'Coba kuliahnya bisa lebih lama yah, bisa ada di lingkungan yang nyaman terus' atau 'Seandainya bisa balik kayak jaman maba, yang dipikirin cuma lulus psikologi umum.' Fase ini bisa berlangsung sebentar, lama, atau malah udah sampai fase lain terus karena ada pemicunya balik lagi. Sebut saja saya yang baru aja melewati sebuah tradisi persembahan terakhir angkatan untuk fakultas yang disebut 'Last Performance' dan kembali memikirkan indahnya masa-masa kuliah itu.
4. Depression
Pasca 'bargaining' tentang masa lalu yang menurut kita lebih nyaman buat ditinggali, biasanya seseorang akan kembali ke apa yang ada di depan mata, masa kini. Empty feelings present themselves, and grief enters our lives on a deeper level, deeper than we ever imagined. Anyway, one thing that we should ask ourselves is, whether or not the situation you’re in is actually depressing. If losing one of your dreams, had a bad breakup, forced to choose a path that you never imagined or simply moving out from the so-called comfort zone are depressing, then what we experience now is a necessary response. If grief is a process of healing, then depression is one of the many necessary steps along the way.
5. Acceptance
Seperti judul fasenya, fase ini adalah fase dimana saya (atau kamu) menerima keadaan. It doesn't always relate to feel 'OK', some people never feel ok about the lost, but eventually, they will accept the fact and live again.
Jadi, sekarang saya bisa dibilang lagi belajar untuk tetap berada di fase acceptance. Meskipun masih diperdebatkan apakah penerimaan merupakan coping yang fungsional, tetapi menurut Carver, Weintraub, dan Scheier (1989), orang yang dapat menerima kenyataan cenderung siap melakukan usaha untuk mengatasi kenyataan tersebut. Saya sadar kalau memang tidak ada yang bisa mengubah kondisi hidup saya kalau bukan diawali dengan usaha dari saya sendiri. Saya juga sadar, kalau saya harus lebih banyak bersyukur sama apa yang Allah kasih. Kadang ada juga kok masanya dimana saya iri sama teman-teman saya. Kadang rasanya pengen juga ngerasain masalah galau urusan pacar, bukan keluarga, pekerjaan, atau masa depan, punya banyak waktu untuk bolak-balik ke kampus untuk sekedar main, bukan bolak balik ke tengah kota untuk wawancara, atau dikasih kesempatan untuk les bahasa inggris yang saya tau biayanya nggak sedikit daripada belajar lewat internet. Tapi sekali lagi, semua proses dan kesulitan hidup terutama di bulan Februari sedikit banyak mendewasakan saya untuk belajar paham kalau semua orang punya jalannya masing-masing. Pasti ada alasan kenapa Allah memutar perjalanan saya sedikit lebih lama untuk nanti bisa meraih mimpi jadi psikolog. Yang penting, saya nggak kehilangan harapan & terus jalan.
Jadi, saya sekali lagi mencoba untuk melihat sisi positif dari apa yang Allah kasih dalam hidup. Banyak diskusi (atau boleh dibilang curhat) sama orang yang lebih pengalaman (baca: senior psikologi) tentang masuk ke dunia kerja itu juga membantu. Saya yakin kalau semua proses pembelajaran di kantor nantinya akan semakin mendewasakan saya dengan caranya sendiri, jadi ketika waktunya datang untuk kembali ke kampus, saya jauh lebih siap. Kalau tiba-tiba ternyata bukan jalannya untuk balik ke kampus, saya sudah seyakin itu pasti dikasih jalan yang lebih baik sama Tuhan.
Bicara soal berkah, ini sedikit banyak definisi berkah Allah buat saya di awal 2013:
Judicium 25 S.Psi angkatan 2009
The cumlauders
Yang nangis & bikin nangis keluar wisuda; the best of friends.
Those who decided that it's a purple day when it comes to mine,
obviously the best family I could ask.
2009's fresh graduates
PsyFest Seniors
Academic Advisor mates
Partners slash Close friends from RTC UI FM
K2N UI 2012 titik Puring Kencana, Kapuas Hulu
Young on top Mates
the lovely friend whom I met from a coincidence
and the goodbyes from home:
Psikologi UI 2009 Last Performance
Managerial RTC UI FM 2012's farewell dinner
Selama masih diberi berkah kayak gini sama Allah, masih bisa lah bilang kalau kata iklan, “Manisnya hidup, kita yang tentukan.”
Clarissa Rizky



.jpg)











Comments
Post a Comment