You don't have to love your job to be happy
Hi,
Udah
lama saya nggak nulis pakai bahasa Indonesia, udah lama nggak nulis sih
sebenarnya. Sibuk dengan kehidupan kerja memang selalu jadi alasan dan kadang
memang sudah keburu habis di jalan energinya. Satu tahun tiga bulan
menjalani kehidupan kantoran dengan segala lika likunya membuat saya kembali
mati rasa dengan lamanya perjalanan yang harus ditempuh setiap hari dari Cinere
ke SCBD. Capeknya sih nggak pernah hilang, pasti akan terus kerasa setiap habis
pulang kerja. Sampai rumah yang ada di pikiran cuma mandi, lalu tidur. Besoknya
mulai lagi dengan rutinitas yang sama.
Kadang saya suka mikir,
kapan ya ini habisnya? Makanya akhir-akhir ini setiap saya nulis pasti nggak
jauh dari mengenai bagaimana tidak bahagianya kerja di belakang cubicle selama delapan jam sehari.
Tentang bagaimana masih harus bersabar untuk pursuing another degree.
(Susah juga ya konsisten nulis dengan bahasa hehe). Semua perasaan negatif itu
sedikit banyak jadi center of life
dan dengan iman yang masih fluktuatif, saya jadi kebanyakan ngeluh soal hidup.
Intinya yang kadang saya
suka lupa adalah sebenarnya banyak hal yang saya suka di pekerjaan
saya.
This is actually a pretty decent job.
Even a nice one actually. Here's why.
It allows me to learn. Menurut saya setiap pengalaman yang kita lewati itu
pasti akan jadi proses pembelajaran tersendiri. Menjadi bagian dari tim HR di
salah satu Bank terbesar di dunia membuat saya lebih paham mengenai industri
yang dari dulu buat saya jatuh hati, industri perbankan. Sedikit banyak paham
tentang bagian-bagian di Bank, apa saja yang dikerjakan, tipe orang yang dicari
dalam masing-masing group, hingga hal-hal yang sensitif seperti tingkat
renumerasi juga jadi punya bayangan. Dapat kesempatan untuk melihat business process dari luar dan
paham fungsi HR sebagai business partner di industri ini buat saya jadi nilai
plus tersendiri. Wawasan saja juga bertambah sejak berteman dengan orang-orang
dengan background yang berbeda. Salah satu hal yang juga penting, network. My former boss now currently
work as HR Director in one of Indonesia’s national Bank, and we still catch up
once in a while. I also have a yoga class with those Ibu-Ibu VP in one of the business that I handled. We have that
afternoon conversation about their staff’s development as well as the business.
Punya kesempatan bisa kenal sama orang-orang hebat di bidangnya aja menurut
saya adalah sebuah previledge,
apalagi kalau bisa kenal baik dan
stay in touch with them. Basically sukses itu kan nggak bisa diraih sendirian.
Surrounding yourself with successful people will help you at least to feel the
postivity. Aite?
It
allows me to learn. Even more.
It gives me lots of friends. Baik yang sesama HR atau yang dari core business, kebetulan saya jadi punya teman kantor yang bukan sekedar teman kantor. Setiap hari ketemu dan saling tukar cerita lama-lama jadi dekat dan sekali lagi, mereka jadi orang-orang yang mengajarkan saya banyak hal. Kalau kita masih muda, kalau hidup itu masih panjang & kalau mimpinya nggak dikejar, ya akan disini-sini aja.
It pays me well, at least enough for
now. Ternyata saya suka hidup
mandiri. Bisa membiayai sepenuhnya semua kebutuhan hidup sendiri dan kadang
bisa ‘jajanin’ orang tua & adik itu bikin saya sadar kalau kemandirian
finansial itu salah satu hal yang esensial dalam hidup. Pernah merasakan gimana
susahnya hidup nggak punya rumah, nggak punya uang untuk makan (enak & sehat), mobil, dan segala kebutuhan primer maupun sekunder (apalagi yang
tersier) membuat saya agak geli sama yang bilang uang itu nggak penting. Mereka
pasti antara belum pernah hidup susah atau memang dari dulu hidupnya memang
susah jadi sudah bisa menerima kondisi hidup tersebut. With all due respect, saya juga nggak bilang uang itu nomor 1, tapi
kalau nggak punya uang, akan ada 10 masalah baru yang timbul di rumah kita.
Jadi punya pekerjaan yang bisa memberikan pendapatan yang baik itu penting.
Urusan apakah pekerjaan itu sesuai passion
atau tidak, itu rejeki. Katanya rejeki itu Allah yang ngatur. Katanya rejeki
itu udah ditaker, jadi percaya aja kalau belum sesuai berarti rejekinya segitu,
harus dinikmatin.
It makes me a better person. I guess.
Sort of. Setelah lulus, saya
belajar kalau pencapaian dalam hidup itu bukan lagi soal hasil kerja kelompok
yang memuaskan atau soal IP di akhir semester. Because is life is no longer about chasing the big A. And also because
work is not about making your boss say “Wow” because most of the time, they
won’t. Saya belajar untuk jauh lebih sabar dan jauh lebih sering
menunjukkan empati pada orang lain. Belajar untuk menghadapi perubahan, yang
seringkali datangnya mendadak. Belajar untuk lebih menikmati hidup, apa adanya.
And that's that, I guess. I repeat, you don't have to fall in love with your job to happy. Be happy with what you have. Be passionately curious about the future & commit with your present as well.
Cheers,
Clarissa

Comments
Post a Comment