Filosofi Kopi
Temukan
diri Anda disini.
Begitu
tagline kedai kopi fiktif yang sejak dulu saya impikan bisa jadi tempat
duduk-duduk sambil memikirkan makna hidup.
Beberapa
bulan ini saya merasa cukup kehilangan diri saya sendiri. Jadi begitu roman
pertama yang saya baca semasa SMP itu keluar, sayasemangat luar biasa untuk
lihat visualisasinya. Ceritanya hampir seluruhnya berubah, tapi saya tetap
menikmati filmnya. Kalau kata teman saya yang sutradara, film dan buku itu
media yang completely beda, jadi dari
awal ekspektasinya juga harus ditata karena outputnya pun akan beda.
Intinya
saya tetap suka sama filmnya. Emosi saya beberapa kali tersentuh, mungkin
karena walaupun banyak bagian cerita yang dramatis, ada beberapa bagian yang
membumi dan relevan dengan hidup saya sendiri. Punya ayah yang banyak hutang
tapi bisa dapat pendidikan terbaik yang ada seperti Jody, buat saya tersenyum
dengan mata berkaca-kaca. Lihat Anna yang suaminya kecelakaan dan nggak tau
harus bayar operasi pakai apa juga sukses buat saya ingat waktu ayah saya
kecelakaan motor dan kita juga nggak tau gimana cara bayarnya pun bikin saya
akhirnya meneteskan air mata.
Tapi
yang paling buat saya terharu akhirnya adalah cara Jody, Ben & El berdamai
sama diri sendiri, dari rasa sakit yang mereka pendam karena konflik dengan sang
ayah. Saya, yang juga sedang punya hubungan yang kurang baik sama ayah sedikit
banyak jadi kepikiran bagaimana caranya agar bisa seperti mereka. Kadang
rasanya ironis, kita jadi lebih mudah sakit hati dengan orang yang kita cintai
sepenuh hati. Film ini mengajarkan saya untuk mencintai dengan sederhana,
sesederhana Pak Seno dalam merawat kebun kopi seperti merawat anaknya. Sejak
dulu bagian favorit saya dari cerpen filosofi kopi adalah filosofi kopi tiwus, “Walau
tidak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.”
Ada
hari-hari seperti hari ini yang buat saya susah buat percaya kalau hidup itu
indah begini adanya, tapi memang begitu kan?
Anyway,
satu lagi yang suka dari film ini, tentunya karena sepanjang film ini isinya
orang minum kopi & membahas soal sejarah kopi. Sebagai penggemar kopi, meski hampir selalu
gagal ketika meracik kopi sendiri dan berakhir dengan kopi three in one/kopi
dingin yang tersedia di 7 eleven atau kalau lagi banyak uang (baca: kepepet
karena nggak ada internet di rumah seperti sekarang) ya coffee mocha nya
starbucks, saya sesenang itu lihat banyak orang yang punya ketertarikan yang
sama dengan minuman ajaib yang bisa bikin saya tenang seketika.
Tarik
nafas panjang, mari balik ke kerjaan yang udah numpuk, scholarship application
yang deadline nya tinggal 17 hari & pura-pura lupa kalau sedang patah hati.
(Iya, saya akhirnya jatuh cinta juga, walaupun masih sama orang yang salah
& menjalani hubungan yang susah saya akui karena kepentok hal yang sama,
tapi saya lagi di ujung yang ternyata bikin sakit hati.)
Semoga
nggak ada yang sebodoh saya lah :)
Cheers,
Icha


Comments
Post a Comment