Selalu ada indah di setiap pindah

Saya termasuk orang yang menikmati kegiatan membaca. Sejak kerja, saya jadi punya uang untuk beli buku import yang tadinya cuma bisa dilihat di toko. Sejak itu pula saya jadi jarang beli buku Indonesia kecuali karya Dewi Lestari. Tapi beberapa hari yang lalu saya menghabiskan siang di toko buku dekat kantor. Niatnya hanya menghabiskan waktu dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang saya tau harusnya saya buang jauh-jauh. Kemudian saya menemukan buku ini, judulnya Pindah: Selalu ada indah di setiap pindah.

Judulnya begitu menggelitik karena isu pindah itu sudah lama ada di hidup saya. Pindah kerja, pindah rumah, sampai pindah agama juga pernah ada di topik pembicaraan sehari-hari saya. Jadi begitu lihat judulnya, saya langsung tertarik bahkan saat membaca bagian belakangnya

Waktu adalah hal yang bisa menyapu dan mengantar segalanya. Baik kenangan, maupun perasaan. Baik hal-hal buruk, maupun hal-hal baik. Baik awal maupun kesudahan. Hanya saja, tak banyak manusia yang mau merelakan sedikit detik lebih lama untuk berproses, untuk berani melangkahi sesuatu yang teramat dicintai. Untuk berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing—tapi sesungguhnya adalah rumah yang seharusnya. Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh berpindah. Pindah dari hal-hal yang salah, pindah dari perasaan-perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabar menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya

Bukunya puitis, jadi tulisan saya jadi ikut-ikutan begini. Mungkin saya selama ini terlalu tidak berani. Terlalu nyaman dalam perasaan yang katanya keliru. Soalnya saya yakin ketika bicara soal rasa, keliru dan tepat itu pada dasarnya relatif. Buku ini semacam menyentuh saya yang mengalami jalan yang sama dengan yang ada di cerita. Jatuh hati pada orang yang memeluk langit keyakinan yang berbeda. Pada orang yang langitnya tidak bisa saya berikan pelangi, kalau kata buku ini.

Bahkan sampai hari ini saya tidak punya kata-kata untuk menjelaskan kondisi hati. Tapi ada satu doa yang saya suka,

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBkTptMOhy4TTCvQxQ6n6l-vikvXABztu75T4RjhJpUOeDsP3hwrmqj-kbqp7YPmoPrZk6bMTEZjRV5HsKfAJ4RaCcSnOurN3JQY5P3gdrJp4UxkCV4MUCrKkcUVgTq7uwCJt67FYEFLA/s320/20150731_170916.jpg


Katanya, karena Tuhan tidak menciptakan Cinta untuk membuatmu pergi dari-Nya.
Bagus ya? Logis. Tidak seperti perasaan yang saya punya.

Yasudah, intinya sepahit-pahitnya minggu ini, ada banyak mimpi yang harus dikejar. Ada banyak tuntutan yang harus diselesaikan dan ada hari-hari dimana kita akan bertemu lagi, di sisi hidup yang lain. Mudah-mudahan sambil tersenyum, karena semua perasaan yang saya punya ujungnya cuma doa. Semoga Tuhan nggak lupa untuk memberkahi semua langkah kita.


Mari kita melewati ini, untuk menemukan itu.

Cheers,

Clarissa 

Comments

Popular Posts