On Finding God
“Gimana akhirnya bisa memutuskan untuk
berhijab?” Pertanyaan itu akhir-akhir
ini sedang sering saya terima karena memang belum 1 minggu saya memutuskan
untuk menunaikan kewajiban setiap wanita muslim yang selama ini saya abaikan.
Saya biasanya akan jawab, karena sudah 25
tahun, rasanya ada yang perlu saya perbaiki dalam hidup.
Lebih
jauh dari itu, saya sebenarnya sudah memiliki kegelisahan untuk melaksanakan
kewajiban ini sejak setahun kemarin. Rasanya setiap saya berdoa, saya sadar ada
yang masih kurang dari diri saya. Jadi sebenarnya kurang pantas untuk minta
kalau kewajibannya saja masih ada yang jelas-jelas belum dilakukan. Selain itu
sulit juga rasanya untuk menjelaskan bahwa memiliki keyakinan yang kuat
terhadap keesaan Allah dan punya rasa sayang yang besar untuk seseorang yang
memeluk keyakinan berbeda dalam waktu yang sama itu mungkin terjadi—dan memang saya rasakan setahun kemarin.
Saya
tidak punya keraguan tentang agama yang saya peluk, dengan setiap ajaran dan
aturannya, tapi seperti yang lain, ada banyak aturan yang saya langgar bukan
karena tidak tahu tapi karena tidak peduli. Punya hidup yang jauh dari
sempurna, ditambah dengan masalah yang
tadi saya sebutkan di atas sempat membuat saya marah sama Allah. Rasanya
hidup itu nggak adil—jadi saya berhak untuk hidup dengan cara yang saya mau,
cari kebahagiaan saya sendiri.
Sampai saya sadar, kalau semua yang
tidak baik masih terjadi di hidup saya itu semata-mata karena sayanya masih
kurang baik.
"Corrupt women are for corrupt men, and corrupt men for corrupt women. Good women are for good men, and good men for good women. They are innocent of the calumnies people utter. There shall be forgiveness for them and a generous provision. [QS 24:26].
Phrase & Ayat di atas saya baca randomly di Instagram
saat saya lagi dirawat di rumah sakit, tepat setelah sebuah kejadian besar
terjadi dan mengacak-acak hati dan perasaan saya. Saya sadar, kalau saya masih
punya banyak sekali kekurangan, baik sebagai anak, karyawan, teman,
pacar, dan lebih luasnya, sebagai seorang muslim. Saya sadar, saya merasa dibohongi
sama orang yang saya sayang, padahal sudah setahun lebih saya juga bohong terus
sama orangtua. Mereka sama sekali nggak marah, malah panik lihat saya sakit—mental
dan fisiknya—and they fully support my
recovery back then.
Salah
satu proses recovery yang saya
lakukan itu memperbaiki diri dalam berbagai aspek kehidupan. Kalau saya mau ada
hal baik dan ketemu orang baik dalam hidup, satu-satunya cara adalah jadi orang
yang lebih baik. I reflected on what have
I done wrong as a daughter, a sister, a friend, an employee, a girlfriend, and
of course a moslem. And that was the point when I realize that I need to turn
back to God—as He is the Only One who give me peace in heart. The only time
that I feel extremely secure is when I do my prayer.
Jadi
saya tidak langsung lompat besoknya menggunakan hijab. Saya meluangkan waktu
untuk mempersiapkan diri. Cari waktu untuk ketemu sama teman-teman yang baru
berhijab, tanya apa enak dan nggak enaknya, nyicil beli-beli baju sampai ada
juga titik saya ragu, apa nanti aja ya sepulang dari S2? Kemudian saya doa
untuk dikuatkan niatnya sama Allah dan voila, ada aja jalannya. Flat saya di
London nanti insya Allah terletak 10 menit dari masjid. Setelah sulit menemukan
tempat tinggal, tiba-tiba aja ada jalan yang mengantarkan saya bisa dapat flat
disitu. Jadi saya merasa yakin, sesuai QS 57:4, "He is with you, wherever you
are." Kalau saya mau Allah dekat, ya Dia akan dekat. Jadi saya nggak perlu ragu—dan
akhirnya saya memberanikan diri untuk mengambil salah satu keputusan terbesar dalam hidup, menutup mimpi menikah dengan Paes Solo yang saya bayangkan sejak kecil karena satu hal, saya yakin Allah menyimpan banyak sekali hal baik untuk saya, selama saja juga menjadi lebih baik.
Apa yang saya rasakan setelah berhijab? Itu pertanyaan kedua yang sering muncul. Jawabannya
sederhana, tenang. Saya sadar yang
saya cari dalam hidup itu cuma sebuah ketenangan. Saya merasa lega karena sudah
melakukan kewajiban sebagai muslim, sedikit lebih dekat dengan Allah, jadi
lebih semangat belajar tentang islam—yang ternyata semakin membuat saya jatuh
hati sama keyakinan saya ini. Saya sempat merasa malu, bahkan ada hari dimana
saya menangis karena ingat apa yang selama ini saya lakukan, tapi Allah tetap
kabulkan apa yang saya minta, padahal hidup saya masih jauh dari jalan-Nya.
Jadi
saya merasa masih banyak sekali hal yang harus diperbaiki dalam diri—dan saya
sadar, betapa Allah sayang sama saya selama ini. Saya juga jadi lebih ikhlas
menerima kalau jalan saya memang bukan sama orang yang terakhir mengisi
hari-hari, kalau kita sama-sama berhak untuk bahagia, kalau memang mungkin
jalannya ya bahagia sendiri-sendiri.
Jadi sesakit-sakitnya hati, saya menemukan ketulusan untuk ikut bahagia ketika
saya tahu dia baik-baik aja & menikmati hidupnya yang baru. Saya sadar
bentuk sayang itu macam-macam, dan kebetulan jatah saya sama orang ini cuma bisa
lewat doa dari jauh J
Bismillahirahmanirrahim, cheers
to a new fresh start!


Ichaaaaaaaaaaaaaaaaaa :"""((((((((((((((
ReplyDelete