(Cool)lege anyone?

Hi!

Buat angkatan 2009 seperti saya, pernah ditanya nggak "Kuliah udah belajar apa aja?". Saya pernah, beberapa kali. Terus bingung, belajar apa ya? Jadi mulai memikirkan (lebih dalam), apa aja ya yang udah dipelajarin 3 bulan ke belakang? Ternyata, banyak. Banyak sekali. Psikologi emang bidang yang saya suka, yang saya mau, bahkan yang saya impi2kan setelah mimpi jadi dokter gigi kandas setelah naik kelas IPS. Ternyata, mata kuliah disini tidak langsung seperti yang saya bayangkan. Psikologi Umum yang (terlihat) menarik saat melihat jadwal kuliah pertama ternyata sangat, sangat jauh dari yang dibayangkan. Mata kuliah itu pure sejarah, yang biasanya sih saya suka. Tapi yang ini beda. Bahannya banyaknya amit2, bukunya tebal, tulisannya kecil2, bahasa inggris lagi. Top lah. Ada juga Bimbingan Pendidikan, yang tiap minggu adaa aja tes mental. Tes IQ, multiple intelegence, minat, modalitas dan lain2. ada lagi Pemahaman diri, beneran deh kelas ini menyenangkan sekali. Setiap minggu tugasnya refleksi diri, belajar tentang emosi, komunikasi, values, interpersonal relation which are love and friendship. Terus tugasnya refleksiiiiiiiiiiiiiii terus, tulis semua pengalaman dan lain2.

Terakhir (saya nggak ngitung MPKT dan B. Inggris), Logika dan Penulisan ilmiah, lebih susah dari PsiUm. Setidaknya menurut saya. Ilmu saya selalu bertambah setiap selesai kelas LogPenil, tapi saya sendiri bingung itu mau diaplikasikan ke tugas yang mana. Saya belajar banyak dari mas Dewa, (yang kata orang sih gila) menurut saya agak sih. Dari sekian banyak yang dia omongin di kelas, ada satu statement yang masuk banget ke dalam otak saya. "Kalau baik itu positif, harusnya akhirnya juga positif." Jadi konsep-konsep yang ada di masyarakat (baca : sinetron dan teman2nya) tentang orang baik - berkorban - bahagia itu salah. Sinetron itu selalu menggambarkan orang baik itu selalu susah, lalu mau berkorban untuk orang yang dia sayang, baru endingnya bahagia kan?

Seharusnya, baik - memberi - bahagia. Kalau kita melakukan sesuatu dengan konsep memberi, kita tidak akan merasa rugi. Lalu kita akan merasa bahagia.
Contohnya, ketika di bus, kita membiarkan orang tua duduk di tempat duduk kita dan merasa kita telah berkorban, berarti kita belum baik. Mestinya, kita memberi tempat duduk, lalu kita merasa bahagia karena kita tidak merasa rugi. Kalau jadi capek ya itu jelas efekf isik karena berdiri selama perjalanan. Yang dibicarakan disini masalah perasaan.

Dapat poinnya? Maaf ya kalau nggak jelas. Saya cuma pengen sedikit berbagi. Jadi, intinya kalau kita selalu melakukan ses
uatu dengan konsep memberi, kita akan selalu merasa bahagia. Masih merasa suka berkorban? Saya kadang2 masih kok. Itu normal dan sangat manusiawi. Tapi sudah siap belum untuk menjadi (lebih) baik? :)

Sekali lagi saya cuma ingin sedikit berbagi. Maaf kalau bahasa
nya banyak yang salah, atau sama sekali nggak bisa dimengerti. Kapan2 saya cerita lagi ya tentang kuliah. Selamat belajar ya!
Cheers, Clarissa

Comments

Popular Posts