"Ketika mimpimu, tak dapat terwujud......ya sudahlah."

- Bondan Prakoso & Bandnya yang saya lupa namanya

Iya. Saya juga bukan penggemar lagu itu kok. Apalagi yang nyanyi. Tidak, itu tidak ada di playlist saya. Tapi seperti kebanyakan orang lain, saya juga sering sekali tidak sengaja mendengar lagu itu. Dari ketawa sampai akhirnya hafal minimal bagian reffnya. Akhir-akhir ini, sepertinya lagu itu pas dengan apa yang terjadi di kehidupan saya. Beneran.

Kamu punya mimpi? Saya punya. Banyak. Salah satunya adalah yang saya lagi lakukan. Nulis. Maksudnya jadi penulis beneran. Penulis yang namanya bisa kamu temukan di toko buku, perpustakaan atau syukur-syukur di rak buku kamu. Makin kesini, saya makin sadar kalau menulis itu bukan cuma hobi, tapi sebagian hidup saya. Ya, berlebihan kedengarannya. Tapi saya menghabiskan hampir setiap momen dalam hidup saya lalu berpikir sejenak "Ini bisa diceritain lagi lho ke orang lain. Dalam bentuk apa ya?" Iya, saya baru sadar kalau mimpi untuk jadi penulis itu benar-benar nyata. Pikiran saya selama ini tertutup dengan mimpi saya yang utama....Psikolog, sukses.

Mungkin beberapa tulisan sebelumnya saya udah ngejelasin kalau saya mau buat beberapa perubahan dalam hidup. Sebenarnya bukan perubahan yang gimana, sederhana aja kok. Saya mau coba untuk lebih berani keluar dari apa yang disebut comfort zone. Setiap orang pasti punya zona nyaman dimana dia merasa tidak hanya nyaman tapi juga aman. Selama ini saya nyaman menulis disini, tanpa diduga mendapat pujian dari beberapa pembaca, tersenyum, lalu menulis lagi. Sebagian besar karena saya memang saya mencintai pekerjaan ini, sebagian karena saya memang butuh untuk berbagi tentang apa yang saya alami, dan sebagian lagi karena saya merasa saya bisa melakukan ini dengan cukup baik.

Tapi saya tahu, mimpi saya untuk jadi penulis beneran nggak akan jadi kenyataan kalau saya cuma nulis disini. Saya coba nulis cerita. Pendek. Hanya beberapa puluh halaman. Tidak banyak yang tahu, awalnya. Saya cuma pengen ngebuktiin sama diri saya, sebenarnya saya benar-benar bisa nulis atau semua pujian yang saya terima itu cuma berasal dari keberuntungan.

Tidak lama setelah saya mulai menulis cerita itu, ada seorang teman dekat saya yang ngasih tahu kalau ada lomba. Lomba yang bisa jadi pembuka jalan saya untuk benar-benar bikin buku. Saya awalnya nggak yakin untuk ikut. Saya masih takut untuk gagal. Takut untuk pasang mimpi tinggi tapi harus jatuh. Kemudian saya sadar, semua orang yang sukses itu pasti pernah gagal. Kalau saya belum berani gagal, berarti saya belum siap untuk sukses.

Jadi saya berani-beraniin diri yang nggak berani ini untuk nyoba ngirim naskah kasar yang tadinya nggak akan saya biarin dibaca orang lain. Setelah beberapa kali edit setelah di kasih feedback sama teman-teman kuliah (terdekat) saya, minta tolong sahabat saya buatin cover, bolak balik print, akhirnya saya mengirimkan naskah itu. Setelah berusaha, sisanya tinggal berdoa dan menunggu pengumuman. Nah, pengumumannya itu tanggal 11 November kemarin. Hari yang saya tunggu-tunggu karena beberapa hal lainnya.

Dari ratusan naskah yang masuk, yang diterima adalah 20 besar terbaik. Ada beberapa genre yang dilombakan, semuanya dicampur jadi satu di dua puluh besar. Saya berharap banyak, tapi nggak sejatuh itu ketika tidak menemukan nama saya di 5 naskah dari genre yang sama dengan saya di 20 besar. Bohong besar kalau saya bilang saya tidak kecewa, dan tidak sedih. Saya kecewa, sedih dan dalam sepersekian menit saya merasa mimpi yang sudah saya bangun itu runtuh perlahan. Ada pikiran-pikiran jahat yang bilang kalau saya memang nggak akan pernah punya buku. Saya nggak akan pernah bisa menerbitkan apa-apa.

Sesuai yang saya udah ceritakan, nggak banyak yang tahu saya ikut kompetisi itu. Bahkan saya juga kaget kenapa akhirnya saya mau berbagi disini. Mungkin karena saya udah punya pandangan baru soal mencoba dan gagal, dalam dunia psikologi disebut trial and error. Tadinya saya takut kalau orang tahu saya nyoba dan saya gagal. Saya bahkan cuma cerita sama sahabat-sahabat SMA yang sempat ketemu sebelum ngirim aja, sisanya nggak saya ceritakan. Kalau sahabat-sahabat di UI tahu karena ketemu tiap hari dan kebetulan sebagian dari mereka yang membaca naskah ini pertama kali dan memberikan feedback.

Tapi setelah beberapa pembicaraan dengan seseorang, sebut saja Uta, saya jadi sadar kalau nggak ada gunanya malu, nggak ada gunanya gengsi. Saya yang punya gengsi yang tingginya saingan sama langit ini sadar kalau gagal itu bukan hal yang memalukan. Gagal itu bukan hanya kesuksesan yang tertunda, tapi kesempatan yang diberikan Tuhan untuk mempersiapkan diri saya sebelum petualangan yang lebih luas. Orang-orang
kayak Uta, yang ada 24 jam - 7 hari seminggu buat saya ini yang buat saya kuat. Yang buka pandangan saya soal banyak hal. Orang-orang kayak dia, mama&ayah&adik saya, Denia, Ina, Tya, Azza, Ayas atau teman-teman yang lain yang bilang kalau saya udah buat mereka bangga itulah yang bikin saya nggak mau nyerah. Yang bikin saya nggak malu untuk cerita sama dunia, "Saya memang gagal, tapi saya udah berani nyoba untuk ngelakuin langkah sederhana demi wujudin mimpi saya."

Jadi waktu saya tahu hasil pengumumannya, saya lan
gsung bbm beberapa orang yang udah saya janjiin untuk ngabarin. Mereka yang mungkin sama pengennya dengan saya untuk bisa masuk 20 besar. Mereka juga yang nenangin saya, yang mungkin memang terlihat cukup tenang hari itu. Mungkin karena saya tahu, Tuhan selalu punya rencana. Rencana yang lebih baik untuk saya. Ketika satu pintu ditutup, pintu lain pasti dibuka untuk saya. Saya bisa bicara seperti ini bukan cuma karena iman, tapi karena saya udah pernah merasakan secara langsung.

Di akhir hari itu, saya luar biasa bersyukur sama Tuhan, Allah SWT. Karena udah ngasih orang-orang yang luar biasa di hidup saya. Orang-orang yang segitu perhatiannya, segitu sayangnya dan segitu percayanya kalau saya bisa. Kalau hari itu bukan akhir, tapi awal.

Iya, ternyata kita memang lebih penting daripada yang kita sadari. Sekali lagi, Terima kasih untuk semua perhatian, pelukan, semangat, dan sayang yang diberikan Engkau melalui orang-orang ini Ya Allah.

I'll keep writing, like i keep this promise.
Clarissa Rizky

Comments

Popular Posts