Seperti Mimpi, karena Terlalu Manis
Tanggal 11 Mei kemarin saya bersama sekitar 3000-an Slankers 'wangi' berdiri di ballroom Ritz Carlton Pacific Place, tersihir dalam pesona band yang sudah ada delapan tahun lebih lama dari hidup saya. Konser bertajuk 'I Slank U - Journey of the blue island' ini tadinya akan digelar di Ancol. Harapan saya untuk nonton langsung konser yang dibalut orkestra langsung pupus begitu dengar venue nya—nggak akan ada ceritanya saya dapat izin nonton kalau di Ancol. Ayah saya yang sudah lelah dengar anak perempuannya ngefans sama lima orang yang jauh dari kata rapih ini nggak akan percaya kalau konsernya diperuntukkan untuk Slankers 'wangi'—sebuah istilah yang lucu buat saya, katanya sih itu Slankers wanita dan pria-pria berkemeja. Jadi waktu akhirnya konser ini pindah ke Pasific Place, saya langsung impulsif nyari tiket dan Alhamdulillah saya punya sahabat yang hari itu jadi malaikat saya karena nggak cuma nyariin tiket tapi menjadi teman nonton yang setia bahkan sampai rumah.
ps. Salah satu bagian lucu adalah ketemu teman SD yang bilang "Masih aja ya cha suka Slank? Sama band aja setia, untung terbukti keren!' Untuk teman-teman tersayang yang suka ngatain saya karena suka Slank, nggak bohong deh mereka keren banget hahaha.
I slank you,
Clarissa Rizky
Suasana Ritz Carlton hari itu benar-benar beda dari konser Slank yang saya bayangkan selama ini. Karena teman-teman saya lebih suka duduk di area merokok sambil menunggu konser dimulai, saya berputar sendirian memandangi memorabilia Slank—penghargaan dan beberapa penghargaan yang mereka kumpulkan selama ini, menulis di backdrop dan tersenyum karena sadar kalau menjadi salah satu fans berat band ini bukanlah hal yang aneh. Setelah nunggu beberapa lama, akhirnya sekitar jam setengah sembilan konser ini resmi dibuka. Saya yang masih nggak percaya kalau saya akan melihat mereka di panggung besar lengkap dengan orkestra mulai merinding.
Kelima orang idola saya ini masuk dari belakang, melewati tempat duduk VVIP dan Diamond lalu duduk di sofa terdepan di jajaran penonton yang sejak awal dipertanyakan untuk siapa. Ternyata ya untuk mereka yang akan menikmati beberapa band dan penyanyi pembuka. MC membuka konser ini dengan penyerahan sumbangan secara simbolis dari Slank yang didapat dari hasil penjualan tiket pada Yayasan AIDS. Saya harus sedikit berjinjit untuk bisa melihat mereka yang mengenakan pakaian 'tidak seperti biasa'. Ekspresi saya yang pertama adalah Subhanallah, saya nggak bohong bahkan dari jauh aja mereka terlihat luar biasa memukau. Kalau mau pakai bahasa yang lebih sederhana, nggak bohong itu keren banget.
Adalah Naif yang menyanyikan lagu pertama di ruangan berisi 3000 orang. Vokalisnya yang dielu-elukan banyak sekali perempuan tidak bisa membuat saya konsentrasi ke panggung karena berulang kali menoleh ke 'singgasana Slank', berharap mereka lekas naik panggung dan menyanyikan semua lagu yang sudah dirindukan. Malam itu lagu 'Memang' dan 'I miss you but i hate you' dibawakan ala naif (dan tidak dihafal benar liriknya, membuat saya agak berpikir dia hidup dimana kok bisa nggak hafal lagu itu :-p). Secara umum mereka cukup menghibur apalagi ditambah sisipan humor khas David. Kemudian saya dikejutkan oleh lantunan lagu 'Lagi Sedih' yang dinyanyikan oleh penyanyi sekelas Dira Sugandi—yang kemudian membuat semua orang galau di lagu 'Foto dalam dompet.' Saya kembali menoleh ke arah Slank dan mendapati mereka duduk santai—pertanda masih lama sampai mereka hilang dari pandangan dan muncul dari belakang panggung.
Sedikit kecewa, tapi saya mencoba menikmati penampilan Sashi yang membawakan lagu #1 dan Alexa dengan deretan lagu terbanyak, Intro Indonesia, Jakarta Pagi ini, Terlalu Manis dan Mawar Merah. Harus saya akui penampilan Alexa adalah yang paling mencuri hati. Bukan karena 3 dari 4 lagu yang mereka nyanyikan merupakan lagu-lagu Slank yang akrab di telinga (dan di hati saya), tapi lebih karena cara mereka mengemasnya. Saya hampir kecewa waktu 'Terlalu Manis' tidak dibawakan langsung oleh Slank, tapi Alexa mengemasnya tidak hanya dengan cara yang manis tapi juga respect pada yang punya lagu.
Saya yang sudah siap melihat Slank ada diatas panggung harus menelan ludah karena yang keluar kemudian adalah seorang penyanyi yang belakangan saya tau namanya Tika dengan lagu 'Kirim Aku Bunga' dan dilanjutkan oleh Pure Saturday yang sayang sekali membawakan lagu Slank yang saya sendiri kurang familiar, Koepoe Liarkoe dan Kalah. Kali ini saya yang sudah rela kalau harus menunggu sedikit lagi berbinar-binar saat melihat tirai kedua dibuka, memperlihatkan peralatan band berlogo kupu-kupu biru. Iringan orkestra menemani Slank yang secara mengejutkan berjalan dari singgasananya, melewati penonton di area festival dan benar-benar membuka konsernya dengan lagu Pulau Biru -Bang-bang tut - Tong Kosong. Saya sendiri tidak bisa menahan diri untuk tidak meloncat layaknya Slankers yang kamu biasa lihat di TV, kalau mereka lagi konser di daerah. Iya, senorak itu.
Saya dan teman-teman memilih untuk menonton dari sisi kanan panggung—dan diberkahi Allah karena disitu tepat berdirinya gitaris nomor 1 di hati saya, Abdee Negara. Kaki saya lemas dan mata saya berkaca-kaca karena sedekat itu kelihatannya. Saya memang pernah nonton mereka di Auditorium FEUI dua tahun lalu, bahkan foto berdua dengan Abdee, memenuhi kekaguman yang sudah disimpan dari jaman sekolah menengah pertama. Yang beda pada Jum'at lalu adalah saya melihat idola saya dengan permainan gitarnya yang spektakuler, ekspresi muka yang dingin, mata yang selalu dilindungi kacamata ala rockstar—tapi berhasil mendapat senyum tulus dari matanya langsung ke mata saya. Beneran, saya nggak butuh kaos Kaka yang berhasil ditangkap Kyka.
Buat saya, berhasil berdiri di deretan terdepan, terhanyut di lagu Virus (yang seperti biasa, diiringi permainan gitar yang luar biasa), lompat-lompat di lagu Mars Slankers - Jurus Tandur dan Maju tak Gentar, berteriak di lagu Pak Tani, 'belajar' lagu-lagu Slank yang terasa asing seperti Lorong Hitam, terkagum-kagum dengan Bimbim yang menyanyikan lagu Bidadari Penyelamat diatas panggung yang mendadak bisa mengangkatnya ke atas, merasakan ketulusan permainan keyboard Ridho, suara Kaka yang tidak pernah semenyentuh itu, atau Ivan yang kata teman saya fansnya paling sedikit pun tetap memukau di lagu Anyer 10 Maret dan Ku Tak Bisa, itu sudah cukup.
The night was magical even before they start to collaborate with awesome female singers.
Slank kembali membuat saya melompat dan bernyanyi seperti Slankers pada umumnya lagi ketika menyanyikan lagu 'Kilav' bersama Sashi. Mereka melanjutkan kolaborasinya dengan Tika dan Dira Sugandi di lagu 'Reaksi' dan 'Maafkan'. Tidak sampai disitu, Kaka menjemput Titiek Puspa yang mengenakan warna kuning mencolok dari tempat duduk VVIP untuk menemaninya di lagu 'Orkes sakit hati'. Lagi-lagi saya melompat (baca:joget) tidak peduli. Pada titik itu saya sangat merasa konser ini seperti mimpi. Terlalu manis. Bahkan saat Kaka literally menarik Popy Sophia dan satu orang penyanyi (yang saya tidak tau namanya) menyanyikan lagu yang saya tidak suka—Kupu-Kupu Biru bersama Slankids (Anak dari personil Slank, Mezalunna, Kay dan Tallullah) pun saya ikut berteriak. Sebegitu tersihirnya.
Konser ini hampir ditutup dengan lagu 'Kamu harus pulang'. Diiringi orkestra, lagu ini terasa jauh lebih megah dan entah kenapa begitu tepat ketika saya melihat jam tangan dan mendapati bahwa waktu sudah jam dua belas. Setelah bilang terima kasih dan berlagak meninggalkan panggung, Kaka, Bimbim, Ivanka, Ridho dan Abdee kembali dengan lagu terakhir yang membuat suasana—bahkan saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya—'Terbunuh Sepi'. Kaka mengenakan lambang Slank besar dibelakang, literally seperti kupu-kupu biru, dan orkestra masih menemani permainan drum Bimbim, dentuman Bass Ivan dan gitaris-gitaris favorit, Ridho dan Abdee.
Rasanya seperti mimpi. Ketika semua orang di barisan terdepan sibuk meminta atribut yang dikenakan Slank, saya sibuk menatap Abdee yang hanya sesekali tersenyum. Cuma rasa haru yang saya rasakan saat melihat Abdee tersenyum ke arah saya (atau saya pikir/rasa ke arah saya, terserahlah). Intinya malam itu seperti mimpi.
ps. Salah satu bagian lucu adalah ketemu teman SD yang bilang "Masih aja ya cha suka Slank? Sama band aja setia, untung terbukti keren!' Untuk teman-teman tersayang yang suka ngatain saya karena suka Slank, nggak bohong deh mereka keren banget hahaha.
I slank you,
Clarissa Rizky










Comments
Post a Comment