When your heart do a certain thing called, move.
"Saya sempat mikir, kita—yang kuliah di Universitas negeri itu harusnya nggak bayar semurah ini. Semahal apapun biaya yang kamu keluarin, harusnya lebih mahal lagi. Sisanya ya dibayarin negara. Saya.. kayaknya belum ngapa-ngapain buat negara minimal untuk bilang terima kasih."
- Kak Ayu, Pengajar Muda lulusan FE Unair dengan predikat Cumlaude.
Saya dengar kalimat itu saat menghadiri Parlemen Muda National Conference "Meet the leaders". Kebetulan karena datangnya sama Ina (yang anak IFL), saya jadi duduk sendirian di Auditorium RRI. Konsekuensinya saya jadi lebih mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan pembicara di depan. Sesi Kak Ayu dan Kak Leon itu memang menurut saya sesi yang paling mengena buat orang yang jauh dari kata idealis. Mereka—yang benar-benar berani berbeda dari orang kebanyakan ini entah kenapa berhasil menggerakkan hati saya. Saya merinding waktu kak Ayu bilang
"Banyak orang yang berpikir kalau mau mengabdi, harus kehilangan mimpi. Padahal kalau ditanya kenapa mau? Jawabannya, Kenapa nggak mau? Jadi pengajar muda itu bukan cuma mengajar, tapi menginspirasi. Semua pemimpin Indonesia pernah mengajar, karena sebenarnya mengajar itu memimpin."
Sejujurnya saya paling nggak tahan untuk menumpahkan kekaguman buat orang-orang yang prestasi akademisnya impressive dan punya purpose yang jelas dalam hidupnya. Mereka bukan orang idealis yang anti multinational company—tapi realistis dalam menjalani hidup dan nggak pernah lupa kalau mereka punya hati nurani—serta yang paling penting, nggak takut untuk mendengarkannya. Kalau Kak Leon nggak pernah kerja di perusahaan sebesar McKinsey, mungkin beliau juga nggak punya modal untuk membuka Koperasi Kasih Indonesia dan simply untuk bertahan hidup setahun-dua tahun setelahnya. Kak Ayu yang juga sudah kerja di Singapura, dengan kepercayaan diri kalau rezeki nggak akan kemana—berani untuk pergi ke Halmahera Selatan, mendidik dan memimpin dengan caranya sendiri. Yang pasti menginspirasi anak-anak di pelosok negeri, sebelum akhirnya ia pulang, menikah dengan rekan pengajar muda lalu menemukan pekerjaan baru yang tidak kalah dengan sebelumnya.
Intinya hari itu hati saya tergerak.
Bukan untuk jadi pengajar muda atau buat Koperasi seperti mereka, tapi untuk membuat hidup saya sedikit lebih berarti nggak cuma buat saya tapi buat orang lain. Mungkin sudah diarahkan sama Allah sampai saya menemukan video Edward Suhadi dan membuat post ini di blog. Saya ingin sekali melihat Indonesia dari sudut pandang lain. Bukan dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau kota kecil tempat wisata seperti Kuningan atau Garut yang pernah saya datangi. Saya ingin ke pelosok negeri. Saya ingin belajar melihat hidup dari sisi yang lain. Tapi waktu itu saya masih nggak yakin kalau akan berangkat Kuliah Kerja Nyata ke perbatasan Indonesia—Sebuah program yang diselenggarakan Universitas Indonesia setiap tahunnya, mengirimkan mahasiswanya ke pelosok untuk membuat sedikit perubahan. Pertama karena saya nggak yakin saya akan dapat izin dari orang tua dan yang kedua adalah saya nggak yakin bisa ninggalin Jakarta dan segala peradabannya.
Kalau saya jadi pergi Juni-Juli nanti, saya nggak cuma ninggalin rumah, keluarga, teman-teman dan semua teknologi sebut saja blackberry dan laptop yang saya nggak akan lewati satu hari tanpa mereka, saya juga akan meninggalkan acara lamaran salah satu sepupu yang sudah saya anggap kakak sendiri, beberapa acara terakhir di keaggotaan Young on top Campus Ambassador, UI Fashion Week dan kesempatan untuk magang. Lumayan gila sih kalau dipikir-pikir. Untuk keputusan ini saya memang lebih banyak dengerin hati daripada mikir. Bersama banyak teman lain, saya daftar untuk seleksi essay K2NUI beberapa bulan lalu. Dari sekitar 500 orang sekarang tinggal sisa 200-an yang berhasil lolos wawancara dan tinggal nunggu pembekalan fisik dan berangkat. Alhamdulillah, saya termasuk di dalamnya.
Tidak seperti beberapa teman saya yang masih ragu untuk berangkat padahal sudah terpilih, saya yakin untuk pergi. Saya tau, nggak pernah ada waktu sebaik tahun ini untuk berani pegi jauh ninggalin Jakarta selama 40 harian. Nggak akan ada kesempatan seperti ini juga sih kalau dipikir-pikir. Saya juga nggak tau kapan hati saya bisa tergerak untuk hal seperti ini lagi. Nggak tau kapan lagi ayah sama mama bisa ngizinin (walaupun pasang muka asam).
Mudah-mudah seperti semua keputusan yang sudah saya buat hampir setengah tahun ini, keputusan yang ini juga tidak akan membuat saya menyesal pada akhirnya. Saya ingin sekali belajar bersyukur lebih nyata dengan melihat keterbatasan hidup di perbatasan Indonesia. Saya ingin belajar mengaplikasikan Psikologi—yang katanya bisa diaplikasikan dimana saja. Saya ingin menambah teman di kampus yang semakin saya jalani semakin membuat saya merasa hanya bagian kecil dari kebesarannya. Saya ingin berbagi. Saya ingin membuat hidup saya sedikit lebih berarti untuk orang lain dan mungkin, saya ingin berterima kasih sama negeri yang sudah memberi saya kesempatan untuk berkembang di satu-satunya universitas yang membawa nama besarnya.
Doain yah, semoga saya tubuh saya dikuatkan untuk melewati semua tes renang dan ketahanan fisik. Hati saya diteguhkan untuk purpose yang udah saya ceritain tadi dan saya juga diberi keyakinan kalau semua rencana saya masih bisa berjalan—untuk bisa nemuin topik skripsi sebelum berangkat dan menyelesaikan proposal sepulang dari sana, supaya bisa wisuda awal tahun depan. Semoga saya juga diberi kelapangan hati untuk melepaskan kesempatan untuk jadi delegasi Indonesia di sebuah conference di London, Agustus nanti karena mengharuskan saya untuk keluar uang 35 juta--dan itu nggak sedikit buat saya :') Saya tau kok, you can do anything but just not everything.
So hopefully i can stay focus with what's important and be done with the rest
Good luck with yours,
Clarissa Rizky

Comments
Post a Comment