If you can dream it, you can achieve it

- Sebuah quote dalam hadiah dari sahabat-sahabat terbaik saya

Bulan Desember 2012 jadi bulan yang sangat spesial karena insya Allah akan jadi bulan penutup saya sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Kalau diingat-ingat perjalanan penelitian akhir yang disebut skripsi ini udah dimulai dari akhir semester lalu. Saya memilih variabel yang udah lama bikin saya jatuh cinta, namanya resiliensi--sebuah emotional stamina yang memungkinkan seseorang untuk bangkit ketika dia mengalami peristiwa traumatis, kemalangan, atau sesederhana sebuah kegagalan. Karena hidup nggak mungkin mulus-mulus aja, dari awal saya tertarik banget untuk lebih mendalami soal resiliensi ini. Harapan awalnya sederhana, kalau saya meneliti tentang resiliensi, mudah-mudahan saya bisa lebih resilien dalam menghadapi perjalanan hidup yang pastinya naik turun. Kemudian saya memilih variabel kedua yaitu coping--sebuah tingkah laku atau usaha kognitif dalam mengatur tuntutan eksternal/internal yang dinilai melebih kapasitas seseorang. Kenapa? Karena dalam hidup sebenarnya kita melakukan coping setiap hari. Setiap orang pasti ketemu sama pemicu stresnya masing-masing dan dengan semua kemampuan & apa yang dia punya, pasti dia melakukan coping. Sebagai seseorang yang bermimpi untuk jadi Psikolog, saya merasa pemahaman tentang coping itu penting banget, dan akan menghemat waktu kalau belajarnya sekalian pas bikin skripsi kan? Terakhir, kenapa akhirnya saya pilih  pasien kanker sebagai subjek penelitian, adalah karena kedua nenek saya mengidap penyakit tersebut. Eyang udah pergi sejak tahun 2009, sementara ibu baru terkena di tahun ini. Saya merasa lewat penelitian ini, saya bisa sedikit kasih kontribusi atau minimal lebih paham mengenai penyakit kanker & penanganan psikologis yang bisa diberikan bagi pasien maupun keluarganya. 

Beruntung banget saya punya teman namanya Stefan, dia yang ngenalin saya ke Pembimbing Skripsi terbaik sepanjang masa--Mba Grace Kilis, M.Psi. Kita sama-sama mulai di akhir semester enam kemarin. Saat semua orang melepaskan stres pasca Ujian Komprehensif KAUP, saya (yang juga ikutan melepaskan stres) mulai menyusun proposal skripsi untuk diajukan ke PS idaman saya ini. Berjam-jam dihabiskan di perpustakaan untuk cari literatur, berhari-hari dihabiskan untuk menentukan topik yang tepat dan akhirnya sehari sebelum keberangkatan saya ke Kalimantan, Mba Grace sudah menyetujui topik saya. Perjalanan skripsi kembali dimulai sekitar bulan Agustus, dengan segala naik turunnya, alhamdulillah berhasil selesai di bulan Desember.

Mengerjakan sebuah penelitian akhir sendirian, bukan dalam kelompok seperti biasanya, itu mengajarkan saya untuk jauh lebih bertanggungjawab. Dalam kuliah Metode Penelitian & Statistika I, II & III, Psikometri & Konstruksi Alat Ukur Psikologis, saya selalu punya partner yang merangkap sahabat, di mana mereka nggak cuma bisa jadi teman diskusi, sharing tugas, tapi juga teman berbagi senang maupun susah. Dalam skripsi, saya harus melewati naik turunnya sendiri. Nyari literatur di kampus, bolak-balik Rumah Sakit Kanker Dharmais, RSCM, Yayasan Kanker Indonesia & Cancer Information & Support Center sendiri, nginput dan ngolah data sampai finishing akhirnya juga sendirian. Saya juga ngerasain ditolak sama partisipan, ketemu sama pasien yang luar biasa jutek, yang malas-malasan jawab, atau kebalikannya, yang luar biasa kooperatif, informatif & sangat menginspirasi. Dalam skripsi ini, saya sadar kalau nothing worth having comes easy.

Waktu saya bilang target saya selesai kuliah akhir tahun ini, banyak banget yang bilang itu nggak mungkin. Mulai dari sejarah kalau anak peminatan Psikologi klinis-Psikologi Perkembangan yang kuliahnya masih banyak & tahun lalu nggak ada sama sekali yang lulus 3,5 tahun, keputusan saya untuk ikut Kuliah Kerja Nyata di perbatasan selama 40 hari lebih, fakta kalau saya ngerjain skripsi ini di luar payung penelitian alias benar-benar sendiri, atau pemilihan karakteristik partisipan saya yang bisa dibilang sulit. Kenyataan dalam pelaksanaannya pun memang jauh dari kata gampang. Saya masih punya lima kuliah wajib yang semuanya cuma bisa diambil semester ini dengan tugas-tugas yang berat: penelitian kualitatif, modul training, laporan hasil tiga tes kepribadian anak, laporan hasil wawancara remaja, dan sebuah mata kuliah yang saking susahnya, ujian tengah semesternya sukses membuat saya merasakan remedial di perkuliahan. Jadi sebenarnya emang nggak aneh kalau banyak orang yang meragukan kalau saya bisa selesai tepat sesuai target. Then again, it's one of the best feeling to do what others say you can't. 

Selain orang-orang yang meragukan kemampuan saya, alhamdulillah saya juga dikelilingi sama orang-orang yang selalu support & percaya kalau saya bisa. Mama, Ayah dan Vina adalah supporting system yang paling reliable yang pernah ada dalam hidup saya. Despite of the family drama that we have, they always got my back. There's never a day without a genuine support from them passed. Kalau pakai teori coping, mereka nggak cuma kasih emotional support, tapi juga instrumental--misalnya, mama bantuin cari reward yang sesuai buat pasien sampai bungkusin, ayah nganterin saya mulai dari ambil data ke Menteng sampai ke Bogor untuk kirim skripsi ke rumah penguji. Devina? Adik saya yang baru aja masuk ke usia legal ini nggak pernah berhenti menghibur dan kasih semangat buat kakaknya. Saya memang merasa sediberkahi itu sih punya mereka. Ditambah sepupu-sepupu yang juga nggak kalah kasih inputnya. Mas Eko yang seorang dosen teknik dari awal semangat banget untuk saya segera selesai & ngelanjutin pendidikan di luar, Mba Ayu yang super bantuin untuk cari data, serta Mba Chiquita dan Pakde Robby juga luar biasa mendukung, kasih semangat dan berbagi pengalamannya.

Segala naik-turunnya membuat saya merasa luar biasa takut, deg-degan, dan yang pasti stres waktu akhirnya perjalanan ini mengantarkan saya jadi mahasiswa pertama yang ujian sidang di angkatan 2009. Berlebihan sih kalau bilang rasanya baru kemarin saya kenalan sama Anis waktu daftar ulang Universitas Indonesia, tukeran pin blackberry setelah random kenalan sama Neysa, dikenalin Tina ke Kenny & Tya di balairung, kenalan sama Ina di pinggir danau UI dalam rangkaian kegiatan mahasiswa baru, saling wawancara sama Uta demi mengerjakan tugas ospek, ke JGTC bareng Ekki dengan segala ceritanya, ngomongin blog dan gosip di kelas MPKT sama Ayas, memilih semua kelas bareng sama Denia, dan yang paling baru adalah berpetualang ke ujung Indonesia bareng Azza. Udah lama kok itu semua kejadiannya, sekitar tahun 2009. Tapi saat saya mau mulai ujian sidang, saya merasa kayak baru aja kenal mereka dan sekarang saya sendiri yang memilih untuk pergi duluan dari fakultas. 

Jadinya mendadak sedih.

Rasanya jauh lebih campur aduk daripada lulus SMA. Waktu itu saya selain sedih karena harus pisah sama teman-teman, saya juga luar biasa excited untuk masuk ke Universitas ini. Sekarang, saya masih belum bisa bayangin kalau mulai bulan depan, nggak akan ada lagi rutinitas kampus. Saya masih belum bisa bayangin untuk nggak ketemu sama mereka setiap hari kayak biasanya. Saya sadar kalau saya sesayang itu sama mereka. Saya sadar ternyata saya setakut itu untuk keluar dari zona yang luar biasa nyaman ini. Saya juga sadar kalau saya mungkin nggak akan sedekat ini sama mereka lagi karena masalah jarak, beda tempat kerja, beda jurusan kuliah master, atau sama-sama masuk ke dunia baru yang lain, dan tentunya ketemu orang baru lagi yang akan mengisi hari-hari. Tapi saya juga se nggak mau itu kalau saya jadi nggak dekat sama mereka as a bestfriend. Dari mereka, saya merasa punya keluarga kedua yang terbentuk dari pertemanan. Saya juga  nggak takut untuk ngebuka bagian dari diri saya, keluarga saya, keadaan hidup saya yang selama ini belum pernah saya ceritakan ke orang lain, karena saya tau mereka nggak akan pernah berubah, apapun kondisinya. Saya sadar mereka akan selalu nerima saya, gimanapun keadaannya. Mereka akan selalu ngedukung saya, apapun keputusan yang saya buat. Saya ngerasa harus berterima kasih sama Allah terus, terus dan terus untuk keberadaan mereka dalam hidup deh. Beneran. 

Makanya sehari sebelum sidang, waktu Kenny & Ina bbm saya langsung nangis abis-abisan karena selain konten bbmnya yan bikin sedih, saya juga seperti disadarkan kalau saya nggak punya banyak waktu lagi untuk menikmati masa-masa jadi mahasiswa sama mereka. Di tengah kekalutan sebelum sidang, dapat dukungan dari mereka dan teman-teman lain akhirnya menguatkan saya untuk lebih tenang. Pagi tanggal 14 Desember datang dan saya rasanya cuma mau muntah. Lemes banget.  Sebanyak itu orang-orang yang mendukung, setakut itu jadinya saya kalau nantinya akan mengecewakan. Ditambah lagi penguji saya adalah ahli bidang resiliensi di Psikologi UI.

Alhamdulillah prosesnya lumayan lancar dan sekali lagi, saya merasa begitu dilimpahi berkah sama Allah. Keluar dari ruangan, saya disambut dengan mereka yang saya refer sebagai significant others. Ekspresi bangga dan senang dari mereka karena saya berhasil itu priceless rasanya. Begitu buka pintu, ada semua nama-nama yang saya disebut di atas, ada Stefan & Senja yang udah menemani saya dari pagi,  Teman-teman sepembimbing Akademis; Arina, Cimi, Sitta & PA terbaik yang pernah ada--mba Erita, Ume, Posma, Vidya, Patty, Cide, Tina, Menik, Teya, Keke & Merina yang saya juga bingung sendiri gimana cara bilang makasih ke mereka. Euforianya juga nggak selesai sampai disitu. Setelah makan siang sama mereka, saya didatangi sama sahabat-sahabat dari luar fakultas. Partner terbaik di Radio kesayangan, Hasti  Triana Putri; Teman hidup selama di Kalimantan, Dede & Ila. Uli dan Dival juga melengkapi hari dengan sekedar datang & memeluk saya. Satu lagi, idola saya dari jaman Mahasiswa Baru, one of the senior that i really look up to, Kak Nindia Nahardita sempetin datang bawain boneka. That was very sweet of her. Melihat wajah-wajah mereka, memeluk mama & ayah dan menerima berbagai ucapan selamat dari temna-teman lain itu membuat 14 Desember 2012 menjadi hari yang nggak akan saya lupakan.

This is only a beginning of what they called the real world. Saya ngerti banget kok, nggak ada yang bisa jamin lulus duluan bisa sukses duluan. Mau lulus kapan pun, ggak akan ada yang bisa jamin kalau kita akan sukses juga kan? Yet this is the least that I can do to get closer to the future that I dreamed the whole time. If at the end of the day I could make the significant others proud, it's a huge advantage, aite? 

So this long post is my way to say thank you to everyone who believed in me, supported & even more, helped me out through the process. I won't make it without them, for sure. And now people frequently ask me about what's next? Mimpi saya sejujurnya adalah merasakan dunia kerja sesuai dengan apa yang disebut passion & memasuki program S2 Profesi Psikolog Klinis Dewasa nantinya. Saya paham kok nggak akan ada yang bisa jamin mimpi itu tercapai. Yang saya tau, selama saya usaha sekuatnya, berdoa untuk selalu dikasih yang terbaik sama yang Maha Kuasa & dikelilingi sama support system yang sekuat mereka, saya akan ended up di tempat yang paling tepat buat saya.

So these pictures pretty much describing how great the day went, 
















Seperti kata judul post panjang ini, if you can dream it, you can achieve it!

Thank you, again!
Clarissa Rizky

Comments

Popular Posts