On being grateful
Hari
ini hari ke-5 saya menginap di sebuah kamar di Rumah Sakit yang letaknya cukup
dekat dari rumah. Agak sulit untuk menulis dengan infus di tangan kiri dan
tangan kanan yang masih bengkak, tapi rasanya perlu. Mengobati gelisah yang
katanya simtom salah satu penyakit yang sedang saya derita, atau itu sekedar
perasaan saya yang kadang sulit saya kontrol. Perut saya sudah jauh lebih baik
dari hari pertama saya dinyatakan sebagai pasien hari Senin lalu, tapi
sayangnya hasil lab masih menunjukkan gangguan fungsi hati yang cukup
mengkhawatirkan, jadi saya masih disini, mencoba menikmati kehidupan yang
sangat teratur dengan aktivitas minim.
Selama
hampir satu minggu disini, saya belajar banyak soal hidup. Soal mensyukuri
nikmat Allah yang selama ini saya nggak perhatikan. Soal kesehatan lambung,
liver, bahkan pankreas yang tidak pernah terbayang akan berakibat sefatal ini. Soal
nikmatnya bisa makan dengan normal, tanpa harus mendapat semua asupan itu dari
infus sampai kedua tangan saya bengkak dan kebas. Soal kedua orangtua saya yang
nggak pernah lelah ataupun merasa keberatan untuk menemani saya di waktu yang
saya kira, saya benar-benar sedang sendirian. Soal keluarga besar saya yang lebih
sering menimbulkan kekesalan di hati tapi panik luar biasa ketika dengar saya
terkena infeksi pankreas dan tidak boleh makan sama sekali. Soal
sahabat-sahabat dari SMA yang jarang bisa ketemu, tapi meluangkan waktu untuk datang,
mendengarkan cerita dan membawa yang sudah lama saya rindukan, tawa tanpa
beban. Soal mantan pacar dari masa yang sama bertahun-tahun lalu, yang kini berteman baik tapi masih meluangkan perhatian untuk datang melihat kondisi saya. Lagi-lagi soal sahabat dari Psikologi yang hadir dengan obrolan khas
dari hati ke hati. Soal teman-teman dari PK-62 yang baru kenal pun bisa-bisanya
perhatian dan datang untuk mendoakan saya cepat sembuh. Semuanya soal
orang-orang yang kadang tidak ada di prioritas saya, ternyata menempatkan saya
di prioritas mereka sampai sempat-sempatnya datang di tengah kesibukan
masing-masing.
Dan
yang pasti, saya belajar tentang yang selalu saya tempatkan di prioitas teratas saya, tapi ternyata tidak punya nama saya di listnya. Jadi supaya
hati saya lebih damai, saya coba terus ingat kata Ibu saya, “Soal nikmat Allah, kita harus
melihat ke bawah supaya terus bersyukur, tapi soal ilmu, harus melihat ke
atas supaya semangat untuk maju.”
Semoga
kamu selalu sehat, bahagia, dan terus maju, ya J


Comments
Post a Comment