Cerita dari Semester yang disebut Semester Pembuktian
Selamat Sore!
Sudah hari ke-22 di bulan favorit saya, rasanya tidak ingin Juli untuk cepat-cepat datang. Sedikit takut kalau saya tidak akan seberuntung bulan ini. Iya, hari-hari saya di bulan Juni dihiasi banyak senyuman tanpa usaha, pelajaran dengan sedikit air mata dan beribu syukur sebelum tidur. Bukannya bulan lain tidak bersyukur, tidak tersenyum dan tidak belajar—tapi rasanya bulan ini semuanya sedikit lebih mudah.
Dua hari yang lalu Indeks Prestasi semester 4 yang sudah final akhirnya keluar. Iya, akhirnya semester yang saya sebut semester pembuktian ini benar-benar selesai. Hasilnya? Alhamdulillah saya berhasil naikkin IP walaupun cuma sedikit. Ada dua mata kuliah yang nilainya mengiris hati seperti Metodologi Penelitian & Statistik III yang menghasilkan nilai A di UTS, Kuis, Penelitian kelompok—tapi mendadak C+ di UAS. Iya, nilainya 63 jadi masuk kategori C+. Begitu buka detail nilai di SIAK NG rasanya perut saya langsung kosong dan air mata naik ke ujung. Bukannya tidak bersyukur berhasil lulus dengan nilai yang cukup baik (Nilai akhir saya jadi B+), tapi kalau ingat susahnya studi literatur untuk proposal-field penelitian-sampai tiga kali revisi laporan yang bikin sering pulang malam dari kampus bahkan diusir dari perpustakaan karena udah mau tutup itu agak nyesek sih. Kasus yang sama terjadi di mata kuliah Psikologi Kognitif, tapi karena mata kuliah ini luar biasa abstrak jadi saya masih rela waktu UAS saya lagi-lagi merusak semua usaha sebelumnya.
Pelajaran mahal dari dua mata kuliah ini adalah saya sebenarnya bisa kok dapet A kalau mau total di semua aspek pengambilan nilai. Kalau mau IPK 3,84 seperti teman saya (yang aktif di BEM sejak tahun pertama, alumni kelas akselerasi di SMP & SMA dan sama sekali tidak antisosial dan tentunya membuat saya kagum luar biasa) saya nggak bisa punya mindset "Bagusin di nilai tugas aja, lumayan 30% nolong UTS & UAS". Saya harus (setidaknya) usaha untuk optimal di setiap aspek penilaian, jadi kalaupun masih gagal-- saya tidak menyesal seperti ini.
Bagaimanapun, saya sangat bersyukur sama Allah karena dengan semua naik turun semangat, kondisi dan kesibukan yang saya lewati di beberapa bulan ini saya berhasil naikkin nilai walaupun cuma sedikit sekali. Adalah perasaan yang saya nggak bisa saya ceritakan ketika ayah saya bilang "Selamat ya kak, ayah bangga." atau mama yang tidak begitu banyak bicara tapi meluk saya dan bilang "Alhamdulillah. Bisa kan kalau kamu mau". Ah, terima kasih lagi Ya Allah.
Saya ingat kata Uta, "karena Allah nggak pernah salah."
Jangan salah kira kalau saya ini lagi pamer yah, bisa dilihat betapa takutnya saya ketemu dengan kegagalan di beberapa tulisan sebelum ini. Saya juga nggak punya bayangan akan seperti apa nilai akhirnya, karena jujur saya baru kerja keras di akhir. Padahal sebenarnya kalau mau sukses itu tidak hanya butuh kerja keras, tapi persisten dari awal. Jadi saya mau bilang kalau ternyata tidak ada kata terlambat kalau kita mau berubah ke arah yang lebih baik. Pada akhirnya yang paling bahagia dan dapat manfaatnya juga kita kok.
Sekarang Universitas saya lagi libur tiga setengah bulan. Tahun lalu saya dapat kesempatan untuk kerja BCA Finance, nah tahun ini saya dapat kesempatannya kerja di kepanitiaan Psychology Festival, Backstage dan harus mengurus beberapa tugas di divisi Humas Promosi RTC UI FM. Iya, liburannya nggak jauh-jauh dari Depok deh. Jadi saya ambil keputusan untuk ikut semester pendek untuk ngisi waktu sama siapa tau bisa lulus lebih cepat. Tadinya jadwalnya cuma ada seminggu tiga kali, tiba-tiba mendadak nambah jadi Senin-Kamis (walaupun akhirnya banyak liburnya di kelas Selasa-Rabu) tapi saya sempat kesal karena jadi "nggak ada liburan-liburannya." Alhamdulillah sekali lagi bersyukur punya Ibu kayak Mama yang ngingetin kalau ini pasti diatur sama Allah. Iya, hal kecil kok. Sederhana. Tapi tidak ada satu daun yang jatuh dari rantingnya tanpa izin Allah kan?
Saya mulai belajar untuk lihat ini sebagai ujian untuk komitmen waktu saya bilang saya mau ambil semester pendek. Ujian pertama sejak saya bilang saya pengen jadi orang yang persisten; tidak mudah menyerah, menyelesaikan apa yang sudah dimulai walaupun ada hambatan. Sekarang saya usaha untuk ngejalaninnya dengan hati lebih ringan, karena saya tau.. semua ini ada Yang ngatur. Tugas saya banyak berdoa supaya selalu diarahin ke yang lebih baik. Syukur-syukur bisa liburan as in vacation, bukan cuma sekedar libur dari rutinitas kuliah biasa.

Kata orang bijak, "Untuk segala sesuatu.. ada waktunya." Iya, semuanya butuh waktu. Untuk ngelihat hasil kerja kita yang sesuai harapan, untuk tahu kenapa A terjadi dan kenapa bukan B. Saya nggak bilang nunggunya pekerjaan mudah, tapi bisa dilalui kalau kita mau belajar. Belajar untuk lebih sabar, dan percaya kalau semuanya udah ada Yang ngatur.
Yuk?
Clarissa Rizky

Comments
Post a Comment