Aspire to inspire before you expire #2

- Ryan Seacrest via @annsafira

The very last event that my camera captured and already transfered to my laptop is Young on top National Conference. A massive conference hosted by one of mas Billy Boen's company—JIM Knowledge. As a campus ambassador, i got a free access & a privilege to sit in the front rows. With 5 speakers amazing speakers and got the chance to volunteer as the committe—i simply got one of the happiest & most valuable day during holiday.

Akhirnya punya waktu untuk ngelanjutin post ini. Pakai bahasa aja kali yah, dan kembali ke tanggal 23 Agustus 2011, sekitar jam 9 lewat 15.

Pembicara pertama di seminar bertema "Hidupkan Suksesmu" ini adalah Iwan setiawan, seorang mantan direktur Nielson di New York yang merupakan anak supir angkot dari kota Batu, Malang. Kalimat saya barusan pasti sudah memberikan bayangan tentang betapa hebatnya orang ini, kan? Nggak akan ada satu orang pun yang bilang dia bukan orang sukses. Dia berhasil mengubah hidupnya dan tentunya seluruh keluarganya, keliling dunia dengan penghasilannya sendiri, dan lain sebagainya. Tapi buat saya dia benar-benar orang sukses setelah saya mendengarkan dia bicara soal orang tuanya. Air mata saya harus pelan-pelan disembunyikan karena malu dilihat orang ketika dia cerita tentang bagaimana ayahnya mengajarkan nilai-nilai yang ia bawa sampai ke New York. Bahwa seorang supir angkot yang tidak mengenyam pendidikan tinggi itu lah yang mengajarkannya soal profesionalisme, soal client service & sebuah hal penting yang sering tidak dimiliki orang lain—determinasi. Mas Iwan cerita kalau ayahnya mengajarkan kalau we have to move on, no matter how hard life is. Kalimat yang berhasil bikin saya benar-benar nangis adalah "Ketika saya melihat kulitnya yang semakin gelap, saya tahu saya harus merubah hidupnya." Saya ingat ayah, yang bukan cuma kulitnya semakin gelap, tapi semakin kelihatan tua dan lelah. Saya tau, saya juga harus mengubah hidupnya.


Mas Iwan kemudian melanjutkan ceritanya tentang Ibunya, yang juga kunci dibalik kesuksesannya yang sekarang. Dimana ia menekankan kalau ibu yang bahkan tidak lulus SD itu memaksa untuk menjual angkot (satu-satunya penghasilan keluarga) supaya ia bisa berangkat kuliah ke IPB dimana ia diterima lewat PMDK. "She's not well educated, but intellectually enlightenment." Ceritanya dilanjutkan dengan kuliahnya yang luar biasa berat, sempat hampir menyerah tapi berakhir dengan jadi lulusan terbaik dari jurusan statistik IPB—sebuah bukti nyata buat saya kalau kesempatan kuliah di Universitas terbaik negeri ini harus dimanfaatkan dengan baik, kalau mau sukses.

Mas Iwan adalah penulis buku 9 Summers 10 Autumn. Iya, dia sudah menerbitkan buku—sama seperti tiga pembicara lain di YOT NC. Yang membuat saya semakin yakin, saya mungkin memang nggak bakat nulis fiksi, tapi bisa sedikit-sedikit menulis tentang hidup. Suatu saat, mudah-mudahan saya dapat kesempatan unutk menulis tentang hidup. Hidup saya tentunya. Sekarang waktunya saya membuat hidup ini lebih menarik untuk nanti ditulis. Kembali ke mas Iwan, dia itu belum pernah punya foto keluarga, jadi buku tersebut adalah cara dia mengenang keluarganya seperti kita punya foto keluarga di rumah. Saya nggak sabar baca bukunya, semoga cepet-cepet ketemu jalan buat punya atau sekedar pinjem.

Hal yang Mas Iwan tekankan hari itu adalah, usaha itu harus persisten.
Hasilnya tidak akan muncul besok, bisa beberapa tahun lagi. Tapi nggak akan jadi kalau kita nggak mulai dari sekarang. Saya sempat sedih karena belum bisa les bahasa Inggris, entah itu masalah waktu atau masalah nggak tega ngebebanin mama sama pengeluaran lagi untuk biayanya. Sekali lagi saya nangis ketika Mas Iwan bilang kalau dia dan temannya yang juga dari daerah belajar bahasa Inggris dengan otodidak, berlatih ngomong bahasa tersebut kayak orang gila tiap mereka makan pecel lele di sebuah warung. Beberapa tahun kemudian, dia berhasil jadi direktur sebuah perusahaan di New York City, yang tentunya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Pelajaran sederhana yang bisa saya ambil adalah nggak ada alasan untuk berhenti belajar. Batas itu bisa ditembus kalau punya determinasi.

"Ketakutan saya sama jadi miskin mengalahkan ketakutan saya sama hantu. Makanya saya bangun malam waktu kuliah, untuk belajar yang tadi dipelajarin di kelas."

Merinding. Beneran deh.
Waktu teman saya nanya gimana cara numbuhin motivasi buat orang yang hidupnya udah berkecukupan, dia bilang "Pastinya orang yang hidup susah itu motivasinya lebih kuat--simply caused it's so painful to be there. Karena udah nggak ada jalan selain ke atas, jadi harus bergerak keatas. Karena mau kemana lagi?" Saya tersenyum, tapi tetap dengan air mata. Saya tau, saya juga harus bergerak keatas. Terus gimana, buat teman-teman yang hidupnya udah berkecukupan? Dream even bigger. The world is yours so do not be afraid to make it happen.

Satu lagi kalimat yang nggak akan saya lupain dari Mas Iwan adalah, "Orang jahat ada untuk dimengerti."

Being a part of Young on Top campus ambassador really is a blessing. I met great people who inspires me day by day. I tried to write everything to share with you, cause success means nothing if it's only for your self, aite? Here are a few pictures from the conference. I'll share the rest on the next post. Hopefully soon.

Where the inspiration comes, the Campus Ambassadors & Mentors.

Ps : Click here to access my article in YOT's web. Thanks

Get inspired,
Clarissa Rizky

Comments

Popular Posts