Sebuah term Psikologi, Resiliensi.

Malam!

Berbagi cerita lagi. Kemarin saya tersenyum lebar sekali waktu lihat nama Charina Septyandari di website Indonesian Future Leaders. Sahabat saya yang ini adalah salah satu dari 24 orang yang berhasil diterima sebagai staf IFL. Bangga deh. Beneran. Dari hampir 200-an orang, Ina berhasil jadi orang yang dianggap kompeten & mampu untuk bekerja di bidang media & komunikasi. Dunia anak muda yang punya orientasi untuk kasih kontribusi nyata ke negara ini itu hal baru buat Ina ataupun saya. Willingness to learn & to grow cause we're never be as young as we are today—mungkin jadi alasan sederhana kenapa akhirnya ikut organisasi yang mungkin orang lain pikir cuma buang-buang waktu dan ganggu kuliah.

Keluar dari zona nyaman? Mungkin term yang lebih tepat adalah membuat zona nyaman baru. Walaupun dalam ngejalaninnya nggak mudah. Ada banyak orang dan kejadian yang bikin kami sempat merasa, kalau sebenarnya kami belum ngelakuin apa-apa di usia yang udah kepala dua ini. Perasaan minder & inferior yang manusiawi seperti yang saya rasa di meeting pertama YOT juga dirasain Ina ketika dia mau interview & FGD untuk seleksi IFL. Ina yang pernah gagal diterima masuk salah satu organisasi internasional yang bergengsi di tahap yang disebut focus group discussion itu sedikit banyak panik karena perasaan manusiawi yang saya yakin kamu juga punya, takut gagal. lagi.

Nggak tau dapat dari ilham mana, saya berhasil (setidaknya saya kira saya berhasil) untuk sedikit nenangin Ina di bbm dengan ngingetin dia kalau kita nggak pernah tau kegagalan itu akan ngebawa kita kemana. Saya ingat cerita klasik saya di SMA. Kalau saya dulu naik kelas ke jurusan IPA, mungkin saya nggak akan belajar di Universitas ini. Saya pasti masih mengejar mimpi jadi dokter gigi & mungkin nggak akan sanggup melewati seleksi masuk FKG UI yang katanya super sulit itu. Saya juga tau biaya untuk sekolah di Fakultas Kedokteran universitas swasta itu mahal, dan orang tua saya juga belum tentu mampu biayain saya kuliah disana. Hal pertama yang saya pelajarin dari kegagalan yang paling berpengaruh dalam hidup saya ini adalah kalau Allah tuh emang yang paling tau yang terbaik buat saya. I'm sure with that. Bukan cuma ngutip quotes2 wise yang kita semua bisa temuin di internet, tapi ternyata Allah emang luar biasa masalah penempatan waktu untuk segala sesuatu.

Mungkin cerita soal kegagalan yang itu udah sering saya ceritain. Soal dunia saya yang runtuh ketika cita-cita pakai jas putih dan praktek seminggu tiga kali di rumah sakit bergengsi itu hampir pupus begitu lihat tulisan di rapor "Naik ke kelas XI IPS 3". Tapi mungkin yang ini saya belum cerita—kalaupun sudah ya maaf, mimpi saya dari kecil ini belum pupus lho. Ada kata hampir kan diatas? Di beberapa rumah sakit, Psikolog klinis dewasa ataupun anak punya ruang praktek yang sama dengan dokter, dicantumkan di board yang sama dengan dokter-dokter lain, walaupun saya nggak yakin dengan kewajiban memakai jas putih yang bisa bikin mata saya berbinar-binar itu, tapi suster-suster disana manggil Psikolog yang praktek dengan sebutan dok, lho. Itu cuma sesederhana mimpi saya yang ternyata nggak jadi pupus. Masih banyak hal yang saya syukuri karena ternyata buat saya Psikologi itu seperti pemuda yang pandai, punya selera humor baik, mahir main musik dan rajin sholat—mudah sekali bikin saya jatuh cinta.

Sebelum saya ngelantur, balik lagi ke cerita tentang Ina. Waktu itu saya bilang sama Ina, kita nggak akan pernah tahu kegagalan itu akan ngebawa kita kemana. Kalau saya diterima di BEM Fakultas Psikologi UI di tahun pertama dulu, mungkin pencapaian non akademis paling jauh saya adalah jadi BPH di BEM. Mungkin saya akan sangat nyaman dengan kampus dan nggak akan berani untuk kenal & kerja bareng orang-orang ajaib dan se-menyenangkan Kolega RTC UI FM dan nggak akan berani untuk masuk ke dunia orang-orang yang punya orientasi 5-10 tahun ke depan seperti Young on Top. Saya nggak bilang BEM itu nggak bagus, saya bilang ternyata BEM bukan tempatnya saya. Saya baru sadar beberapa waktu setelah kegagalan untuk diterima itu datang. Iya, Allah udah tau duluan. Makanya diaturnya begini. Yang saya tekanin di pembicaraan singkat waktu itu adalah, kalau emang jalannya keterima (dengan catatan berarti dia memang mampu pegang jabatan itu) pasti dimudahin kok sama Allah. Kalau memang nggak ya harus terima, bukan berarti nggak boleh kecewa. Yang nggak boleh itu berhenti nyoba.

Sekarang, Alhamdulillah Ina diterima di organisasi yang dia percaya bisa jadi wadah untuk ngembangin diri, nambah teman, dan insya Allah tempat dia kasih kontribusi. Masalahnya selesai? Nggak.

Kalau kata guru inten saya dulu, selesainya satu masalah adalah awal dari masalah baru. Begitu masalah kita selesai tanpa muncul masalah baru, berarti kita udah terbaring kaku alias masuk ke periode lain dalam rentang yang diberikan Tuhan. Iya, itu lho yang ditakutin semua orang—mati. Poin penting dalam hidup yang katanya singkat padahal sering terasa berat ini sepertinya bukan (cuma) pencapaian maksimal di berbagai hal, tapi seberapa kuat kita untuk bangun setelah jatuh. Resiliensi seingat saya adalah kemampuan untuk semacam bounce back, coping atau sederhananya beradaptasi dengan keadaan yang sulit. Lazarus dulu menganalogikan resiliensi dengan logam, yang tidak seperti besi yang mudah patah—mengandung banyak karbon sehingga lebih fleksibel dan mudah dikembalikan ke bentuk semula meskipun sudah jatuh.

Kayaknya kita semua butuh ya, resiliensi yang tinggi. Kemampuan untuk kembali bangun setelah jatuh, setelah gagal. Sekedar bangun? sayangnya nggak cukup, nggak sih? sebuah term yang saya kenal setelah saya baca Notes from Qatar-nya Muhammad Assad—Persisten. Sederhananya, menyelesaikan apa yang sudah kita mulai, apapun hambatannya. Kalau kata film Catatan si boy, "Kalau udah start, sampai finish lah." Itu aja? Lagi-lagi sayangnya nggak. Punya segudang teori soal 'living life to the fullest' itu buat saya sia-sia kalau nggak ingat sama Tuhan. Iman itu hal yang diatas logika, nggak bisa dan emang nggak perlu dijelasin ke orang lain. Kata Al-qur'an aja "Untukmu agamaku, untukmu agamamu." Jadi soal kepercayaan sih ya saling menghormati aja, even sama orang yang nggak percaya sama adanya Tuhan.

Ingat Tuhan yang saya maksud diatas adalah dalam scope selalu coba untuk ingat kalau untuk segala sesuatu, ada waktunya. Yang paling tahu soal waktu yang paling tepat itu cuma Allah, dan suatu saat nanti dia akan kasih waktu kita untuk ngerti. Disini, atau nanti di tahap kehidupan berikutnya. Untuk hal sesederhana kegiatan non akademis aja Allah udah ngatur yang paling baik. Apalagi hal-hal yang sifatnya kompleks? Sebut saja, jodoh. Jadi boleh lho ingetin saya untuk berani nyoba walaupun pernah gagal. Eh. Ngelantur terus ya.

Tulisan panjang malam ini dibuat sedikit untuk Ina dan banyak untuk saya sendiri, yang masih sering lupa kalau Allah punya rahasia soal waktu. Yang sering lupa kalau percuma punya sekian banyak teori soal hidup kalau nggak fokus sama yang di depan mata. Sebut saja kelas Psikologi Abnormal. Semoga ketika saya baca tulisan ini saya sadar kalau saya harus usaha lebih keras lagi untuk kuis nanti, kalau mau dapet A.

Selamat tidur,
Clarissa Rizky

Comments

Popular Posts