“Sometimes, we just have to be happy with what people can offer us. Even if it’s not what we want, at least it’s something.”
— Sarah Dessen
Saya udah balik lagi ke kehidupan perkuliahan. Setelah libur 3,5 bulan—saya hampir yakin semua mahasiswa di UI itu sedikit banyak kaget kembali ngejalanin rutinitas ini. Yang paling bikin kaget buat saya adalah sekarang sudah memasuki tahun ketiga disini. Iya tahun ketiga—dimana semua anak psikologi UI harus ambil peminatan, dan akan hanya belajar sesuai apa yang sesuai minatnya. Sesuai jalan yang dipilih setelah nanti lulus, mau kemana. Saya ambil peminatan Psikologi Klinis dan Psikologi Perkembangan, sesuai keinginan awal—ambil basic untuk nantinya jadi Psikolog anak. Saya kira, kuliah minggu pertama akan diisi dengan penuh semangat.
Saya kira.
Saya emang semangat di hampir semua kelas. 21 sks yang saya ambil itu hampir semuanya sesuai minat, Psikopatologi anak ternyata mirip dengan Psikologi Abnormal & Psi. Pendidikan Anak luar biasa—membuat saya makin tertarik untuk tau banyak soal anak dan gimana cara nolongin orang yang anaknya mengalami kelainan. Psikologi Adiksi cukup membuat saya terngiang-ngiang omongan Om Ricky untuk menekuni bidang itu kalau mau ia fasilitasi dengan beasiswa S2 ke Australia dari organisasinya. Lalu ada Metode Observasi & Wawancara yang juga dosennya menarik—membuat saya ingin belajar banyak cara wawancara yang benar & observasi yang tidak seperti 'terlalu menilai'. Mata kuliah yang bikin saya jatuh hati di pertemuan pertama itu Psikologi klinis & Kesehatan. Benar-benar bikin saya yakin, kalau saya nggak ada di tempat yang salah, kalau saya mau nolongin diri sendiri dan orang lain untuk jaga kesehatan mentalnya, mungkin nanti kalau udah jadi Psikolog—atau bahkan sekarang ketika statusnya cuma mahasiswa sok tau. Ah iya, walaupun ada mata kuliah seperti Psikometri yang bikin hari saya mendadak buruk karena sebelum belajar bikin tes, saya harus ngisi tes DERET ANGKA yang saya nggak suka, nggak mau dan nggak bisa isi. Doa saya cuma 1, semoga kesulitan ini jadi motivasi untuk perform maksimal di mata kuliah itu. Aamiin.
Poin dari cerita panjang soal seminggu pertama balik ke dunia perkuliahan itu adalah, saya cuma senang ketika di kelas. Kondisi fisik yang lagi naik turun karena PMS dan tekanan dari dua organisasi yang SAYA PILIH SENDIRI bikin emosi saya naik turun bahkan lebih parah dari kondisi fisik saya. Saya capslock bagian "saya pilih sendiri" Karena saya nggak bisa nyalahin siapa-siapa dengan apa yang dirasakan sekarang. Saya tau, at the end of the day seminggu ini membuat saya belajar untuk regulasi emosi dengan lebih baik lagi, belajar untuk tetap neyimbangin hidup gimanapun keadaannya, belajar kalau saya harus banyak bersyukur karena ada orang-orang yang bersedia untuk meluk dan nemenin saya ketika saya harus nangis, atau malah jadi kebanyakan ketawa untuk hal yang sebenarnya nggak lucu, atau bahkan ngelawak seharian dari agak lucu sampai jadi garing luar biasa. Saya juga jadi diingatkan--makan malam untuk tukar cerita sama Mama, Ayah & Vina itu ternyata luar biasa melegakan.
Seperti apapun dalam hidup, seminggu ini saya ambil jadi proses belajar. Saya ingat kata salah satu mentor YOT di Monthly Meeting kami—"Be bold with your Vision, but be flexible with your plan." Sebenarnya saya tau betul kalau rencana saya untuk capai tujuan dalam suatu hal nggak akan selalu lancar, tapi namanya juga manusia—banyak ngeluhnya. Belum lagi ditambah komentar orang kalau saya harus punya orang yang bisa nemenin, nenangin atau sekedar meluk kalau saya nangis. Iya, sebut aja pacar. Ha-ha-ha, saya tau kok kalau yang itu akan datang kalau saya udah siap. Jadi bantuin doa aja supaya bukan cuma masalah saya yang cepat selesai, tapi sayanya juga makin kuat. Apapun, saya tau saya harus banyak bersyukur sama apa yang saya punya. Iya,
P.s : Post ini isinya cuma curhat, jadi yah terima kasih lagi-lagi udah jadi teman yang paling baik untuk cerita. Nanti saya cerita lagi, pasti. Maaf kl nggak dapet apa-apa :-p
Cheers!
Clarissa Rizky


Comments
Post a Comment