Belajar (Bersyukur)
Satu minggu belakangan ini bisa dibilang minggu terberat untuk dilewatin, terutama di rumah. Hampir nggak ada satu hari pun tanpa berantem, nangis dan kadang malah ada teriak-teriakan. Nggak bisa diceritain ke siapa-siapa kenapa2nya, tapi yang jelas nguras emosi, hati, pikiran dan energi. Siklus tidur saya juga jadi berubah gara-gara kondisi ini. Tiap malam tidur jam 10, bangun jam 2 terus nggak bisa tidur lagi ngerjain segala tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaiin.
Puncaknya waktu hari Selasa kemarin, saya ke kampus dengan mata bengkak kayak baru putus cinta, harapan yang nyaris nggak ada, dan cuma mau duduk dan ngejalanin hari itu. Entah pengen cepat selesai, atau malah biarin aja lama. Saya bukan orang yang suka begadang, jadi nggak tidur dari jam 2 pagi berturut-turut itu cukup bikin saya lelah. Selain fisik, psikis juga sebenarnya lelah. Saya bahkan hampir masuk ke perilaku learned helplessnes, ketika seseorang udah usaha segala hal untuk mendapatkan sesuatu tapi nggak pernah berhasil. Jadinya nyerah. Saya nyerah sama orang tua saya. Saya nyerah sama keadaan di rumah. Tapi saya tau saya nggak bisa nyerah dari hidup. Karena yang kayak saya pernah bilang, hidup nggak akan jadi lebih mudah. Kita yang harus lebih kuat.
Saya datang buat masuk kelas Psikologi Pendidikan pagi-pagi sekali, karena nggak mau lama-lama di rumah. Typical anak yang lagi berantem sama orang tua deh. Dan juga typical anak labil yang kalau lagi sedih keliatan di tweetnya. Maaf ya, ternyata saya masih kayak gitu. Tanpa ekspektasi apa-apa soal hari itu, saya dapat banyak banget pelajaran. Teman-teman saya banyak yang bbm untuk sekedar nanya, "Kenapa?" atau bahkan ada yang cuma kirim emoticon *bighug*. Ada juga beberapa sahabat di kampus yang langsung dateng ke kelas untuk meluk secara langsung. Saya terharu, tanpa sadar mulai bisa nunjukkin senyum.
Kelas hari itu ngebahas Pendidikan untuk Anak berkebutuhan Khusus. Beberapa kali tubuh saya merinding, beberapa kali mata saya berkaca-kaca dan akhirnya air mata saya sedikit keluar. Hampir semua orang tau tentang keberadaan anak-anak tersebut, tapi seperti saya kebanyakan orang nggak concern sama mereka. Kebanyakan orang (lagi-lagi seperti saya) nggak sadar betapa beruntungnya mereka untuk dapat kesempurnaan dari Tuhan. Ada anak tuna netra yang harus mencatat pakai huruf braille dari kanan ke kiri supaya bisa dibaca dari kiri ke kanan, anak tuna rungu yang harus implant alat supaya bisa dengar dan bicara jelas, anak tuna daksa yang menurut dosen saya sih nggak akan punya kesempatan untuk normal seperti kita, anak disleksia, disgrafia dan diskalkulia yang sebenarnya punya tingkat intelegensi rata-rata tapi harus punya kesulitan di baca, tulis dan menghitung. Dan beberapa jenis anak-anak berkebutuhan khusus lain.
Kelas kedua adalah Metodologi Penelitian & Statistik II. Setelah dua kali bolos demi PIASTRO, saya sempat ketinggalan materi yang kebetulan susah. Dosen saya yang tegas itu tiba-tiba nyuruh saya untuk datang ke kantornya supaya bisa nanya-nanya apa yang nggak ngerti. Ternyata saya malah kayak dikasih kelas privat sama 3 teman yang juga nggak masuk. Beliau ngajarin dari laptopnya, dan benar-benar mau kalau saya paham materinya. Karena kelas hari ini review dari awal sampai tengah semester, saya jadi sadar kalau saya nggak tau jadi apa kalau nggak diajarin sama dosen ini kemarin. Banyak banget materi yang saya ngerti karena diajarin privat.
Sorenya saya dan Denia niat untuk ke Fakultas Ilmu Budaya untuk Donor Darah. Seumur-umur pengen banget bisa donor, tapi belum pernah kesampaian. Jadi pas tau ada donor darah saya ngajak Denia (yang juga pengen banget) untuk kesana. Kelas selesai jam 14.45 sementara donor darah selesai jam 15.00. Kami lari dari kelas di lantai tiga ke parkiran, naik mobil dan cepat-cepat ke FIB. Sampai disana kayak orang tersesat nyari gedung tempat donor darah yang ternyata di Gedung IV, yang kita nggak tau dimana, dan akhirnya setelah nanya baru ketemu. Saya dan Denia adalah dua orang terakhir yang daftar. Pas saya lagi ngisi formulir, ada dua orang yang keluar karena ditolak. Kalau saya nggak salah dengar karena tekanan darahnya rendah. Saya mulai pesimis tapi yaudahlah dicoba. Setelah dicek golongan darah, tekanan darah, dan nunggu kira-kira satu jam, saya dan Denia dipanggil untuk diambil darahnya. (Yang bikin saya dan Denia luar biasa excited, senang dan agak lemas di akhir)

Buat saya, nggak ada keajaiban di hari itu. Nggak ada sesuatu yang bikin senang luar biasa. Semuanya biasa-biasa aja. Tapi kalau dilihat dan dirasain, ada banyak banget yang bisa disyukurin. Saya punya teman-teman yang begitu peduli, dapat kesadaran tentang betapa beruntungnya saya (dan kalian yang bisa baca ini) untuk punya kesempurnaan fisik&psikis, kesadaran betapa beruntungnya saya untuk dapat dosen Metpen sebaik Mbak Ermanda S. Siregar, kesempatan untuk bisa nolong orang lain, dan yang paling penting adalah kesadaran betapa beruntungnya saya tentang betapapun saya marah, kecewa, lelah bahkan nyerah sama rumah.......Tempat itu lah yang paling nyaman untuk pulang.
Hujan deras yang nemenin saya sampai di rumah memang bikin badan saya nggak enak. Tapi sampai rumah udah ada secangkir milo dan masakan ibu saya. Wajah lega ayah dan senyuman mama pas saya buka pintu sebenarnya udah cukup bikin hari itu berakhir menyenangkan, kalau mau sedikit bersyukur.
Terima kasih, Tuhan.
Clarissa Rizky

Comments
Post a Comment