Semacam keluhan

Selamat malam...

Ceritanya hari ini rencananya mau nyicil belajar UAS Psikologi Kepribadian yang dengan baik hatinya ngasih 11 tokoh dengan teori yang beda-beda untuk Senin besok. Tapi biasalah, hidup. Harapan sama ekspektasi itu jarang sekali sesuai. Ada masalah di rumah, tepatnya di keluarga, besar. Nah, kebaca kan, kalau saya nggak bisa cerita juga masalahnya apa, nggak bisa jelasin juga kenapa akhirnya saya jadi sedih. Gimana akhirnya seharian yang saya bisa lakuin cuma nangis, adu pendapat, atau malah beberapa kali harus angkat telfon untuk pembicaraan yang kalau bisa milih sih saya nggak mau terlibat di dalamnya.

Seperti kebanyakan orang lain di planet ini, saya juga punya banyak rahasia. Yang cuma saya sama Tuhan yang tahu. Soal apa sih sebenarnya yang terjadi di kehidupan saya, di rumah, dan yang paling parah sih—di hati. Yaaah, pasti kedengarannya melankolis banget ya, haha. Saya hari ini cuma pengen cerita, atau sejujurnya mengeluh. Tentang semuanya. Tentang rencana Tuhan untuk saya, yang udah mulai kelihatan (atau baru saya lihat) riaknya waktu saya SMP dan sampai sekarang, belum kelihatan ujungnya. Saya selalu coba bertahan untuk kuat, karena saya percaya dan yakin kalau Tuhan itu nggak mungkin kasih cobaan melebihi kemampuan saya, ya kan? Tapi namanya juga manusia, kadang saya juga butuh yang namanya pegangan.

Punya pengalaman nggak enak sama orang yang saya udah anggap sahabat dan ternyata bukan, orang yang saya kira bisa jadi teman dekat sampai nanti dan ternyata juga nggak, atau orang yang bilang sama saya kalau dia bisa jadi bukan cuma bahu kalau saya sedih, tapi trompolin kalau saya mau lompat-lompat, ternyata juga bukan orang yang saya cari untuk jadi tempat saya pegangan—bikin saya sadar, mungkin cuma keluarga yang akan selalu ada sampai nanti. Mungkin, teman itu hadiah dari Tuhan yang khusus didatangin di saat-saat yang tepat. Maksudnya, saya nggak pernah menyesali pertemuan, ataupun menyesali kepergian mereka dari hari-hari saya. Saya rasa hubungan saya sama mereka sekarang itu yang terbaik.

Saya kira, keluarga itu pegangan paling aman. Saya nggak sadar kalau keluarga saya baik yang batih ataupun keluarga besar itu juga manusia biasa. Sama kayak teman-teman yang datang pergi. Bedanya kami punya hubungan darah—ikatan yang diberikan Tuhan dan nggak akan bisa hilang sampai nanti saya pergi dari dunia ini. Lepas dari ikatan itu, mereka juga manusia biasa yang sama nggak amannya untuk saya jadikan pegangan ketika hidup ini nunjukkin riak, atau bahkan guncangan. Apalagi kalau guncangan itu sebenarnya munculnya dari mereka.

Minggu-minggu terakhir ini adalah minggu yang membuat saya sadar kalau saya sebenarnya rapuh. Saya sering bergumam dalam hati, mungkin akan lebih menyenangkan kalau saya cuma punya masalah yang dimiliki kebanyakan remaja tanggung-dewasa muda labil seperti teman-teman saya, sebut saja masalah dengan kepanitiaan kampus, pacar, mantan pacar atau yang lagi diharapin jadi pacar nantinya, sibuk-sibuk kecapekan ikutan abnon, dan lain sebagainya. Masalah yang saya punya bikin masalah-masalah seperti yang saya sebut diatas itu fading dan lama-lama nggak kelihatan lagi dalam hidup saya. Masalah kayak kepantiaan di kampus itu ya saya bahas di kampus, lepas dari itu yasudah. Saya langsung dihadapkan dengan hal lain yang buat saya urgensinya jauh lebih tinggi. Tentang yang satunya lagi, saya bahkan udah lupa rasanya nggak bisa tidur karena mikirin pacar, mantan pacar atau orang yang diharapin jadi pacar. Bercandaan di kampus, atau pembicaraan dengan sahabat-sahabat saya tentang saya yang udah hampir dua puluh tahun dan belum ketemu orang itu ya sebatas pembicaraan, perasaan galau yang dirasakan semua orang setelah nontong season finalenya Gossip girl ya hanya sebatas perasaan, sebatas kata-kata yang secara tidak sadar saya repress karena saya punya begitu banyak pikiran lain—yang lebih mendesak.

Semua pikiran atau guncangan dari yang disebut keluarga itu bisa bikin saya nangis ketika saya lagi diam di kamar, belajar, lagi mau tidur, di sela-sela doa setelah sholat, atau puncaknya sebelum UAS Psi. Kognitif saya mimpi ketindihan (atau ketindihan beneran, lagi?) dan berakhir di kamar adik saya dengan linangan air mata dan keributan yang cukup membangunkan seisi rumah pada jam 3 pagi. Padahal, saya juga baru tidur jam 2. Saya sadar, betapa nggak sehatnya fisik saya. Tapi hari ini saya sadar kalau ternyata yang sakit itu mental saya.

Seperti hari-hari lain di kehidupan kita, saya punya hal yang bisa disyukuri hari ini. Saya punya kakak sepupu yang berprofesi sebagai Psikolog. Iya, dia salah satu alasan saya kenapa akhirnya mau ambil jurusan ini. Dia itu, sedikit banyak semacam idola buat saya. Hari ini saya nyerah dan memutuskan untuk berbagi soal semua rahasia yang saya punya supaya saya nggak sampai sakit jiwanya. Toh, Mbak ini sudah tau sedikit banyak tentang rahasia saya, dan saya juga percaya dia akan tetap jadi bagian dari hidup saya sampai nanti. Alhamdulillah, untuk pertama kali dalam hidup saya—saya merasa ada yang mengerti rasanya jadi saya. Ya walaupun nggak ada yang paham betul rasanya berjalan diatas sepatu saya, tapi setidaknya ada yang mau mendengar dan menginterpretasikan apa yang saya ceritakan dengan sangat baik.

Karena Mbak ini tinggalnya di Singapura, saya harus sabar sampai tanggal 18 Juni nanti dia pulang kesini untuk konsultasi panjang lebar. Bahkan saya bercanda, mungkin nggak saya di ECT? Kayaknya efeknya bagus tuh Mbak :-P Tapi yang jelas saya bisa menutup kesedihan hari ini dengan senyum kecil tapi tulus yang munculnya dari perasaan lega. Skema depresif yang ada di otak saya pelan-pelan dipotong karena saya harus berpikir realisitis untuk nyelesain tugas kognitif yaitu belajar Psikologi Kepribadian yang saya sebut-sebut sebagai mata kuliah favorit saya itu.

Dari pembicaraan singkat di BBM dengan Ibu Psikolog yang terima kasih Tuhan saya punya tanpa harus keluar biaya itu, saya sadar kalau paling aman itu pegangan sama diri sendiri——fokus, ingat sama prioritas, dan stick sama keyakinan kalau saya mampu ngelewatin ini semua. Dan ya, pegangan sama Tuhan. Iman itu memang sesuatu yang abstrak, dan sifatnya masih fluktuatif buat saya. Di beberapa titik dalam hidup saya merasa luar biasa yakin kalau Allah punya rencana dibalik setiap hari yang saya lewati, tapi ada juga titik dimana saya tanya, kok hidup saya—begini amat yah? Makanya, doa saya malam ini adalah supaya saya dikasih kesempatan untuk menjadikan Iman saya jadi sesuatu yang tetap. Jadi saya nggak buang-buang waktu cari pegangan ketika hidup ngasih saya guncangan, padahal ada Dia yang selalu ngejagain dari atas sana.


Rasanya saya belum pernah seterbuka ini disini. Maaf kalau bacanya terganggu, saya nulis kan memang supaya senang, bukan supaya bagus. Sekarang perasaan saya 10x lebih lega lho. Jadi, buat yang memang niat atau terlanjur baca, terima kasih ya udah jadi teman berbagi.

Buat saya, besok akan jadi hari yang lebih berat dari hari ini, bahkan akan dimulai ketika matahari menunjukkan wujudnya. Tapi kalau matahari aja tidak lelah untuk menjalani rutinitasnya yang begitu-begitu aja, saya yang punya banyak variasi harusnya punya semangat lebih ya.

Sampai Besok,
Clarissa Rizky

Comments

Popular Posts