There were two ways to be happy: improve your reality, or lower your expectations.”

Selamat Malam!

Akhirnya, ujian di akhir semester-yang biasanya jadi ajang naikin nilai, perbaikan, wujud penyesalan atau pembayaran atas kelalaian di pengambilan nilai sebelumnya ini datang. Semester yang saya sebut-sebut sebagai semester pembuktian itu udah sampai di ujungnya. Saya sempat mikir, apa yah yang saya udah lakuin untuk ngebuktiin kalau saya bisa tetap jaga keseimbangan dan tau prioritas? Apa nanti Indeks Prestasi Akademis bisa stabil—Bahkan saya udah nggak mimpi naik, saya cuma mau stabil. Saya sempat sedih waktu kemarin ada penawaran beasiswa Supersemar, yang akan ngebiayain mahasiswanya 10juta setahun itu nggak bisa saya ikutin karena kesandung satu syarat, IPK 3 semester diatas 3,50 (dimana sebenarnya IPK saya mencukupi, tapi di semester dua kurang 0,03 untuk sampai ke 3,50). Iya, nyesek. Saya mulai mikir, kalau semester ini saya gagal lagi, dan saya harus kehilangan kesempatan-kesempatan kayak gitu lagi, saya bisa nggak ya maafin diri saya?

Saya ingat perjuangan semester lalu untuk balikin IP ke range yang saya mau itu susahnya kayak apa. Sementara beban semester ini jauh lebih berat bukan cuma karena sksnya nambah, tapi tingkat kesulitan, frekuensi tugas dan tuntutan yang ada juga nambah. Sekali lagi saya tarik nafas dalam-dalam. Ini kali ya, yang orang-orang sebut galau akademis. Tertawa miris. Ada suara hati di sebelah kiri yang bilang, "segitu nggak ada yang digalau-in ya Ca, sampai udah mikirin IP padahal UAS juga belum." Yah, saya juga manusia, yang bisa bilang sama teman-teman saya yang takut gagal kalau ketakutan akan gagal itu udah setengah jalan ke kegagalan itu sendiri, padahal saya lagi ketakutan sama kegagalan yang kayaknya dekat banget.

Kalau lagi kayak gini, saya ingat Uta, yang nggak pernah peduli sama nilai. Anak ini cuma peduli dia paham sama nyerap ilmu yang dikasih sama dosennya. Sebuah pandangan yang saya kira cuma bentuk idealisme mahasiswa yang sebenarnya nggak nyata. Maksud saya, siapa sih yang pengen dapet nilai bagus? Ternyata ada namanya Uta. Iya, sahabat saya. Saya sendiri bukan anak orientasi nilai yang nggak peduli pelajarannya berguna/nggak, saya paham/nggak, yang penting nilai bagus. Buat saya, harusnya pemahaman dan nilai itu jalannya beriringan. Makin paham, ya nilai makin bagus. Tapi seperti biasa, hidup kan nggak selalu sesuai sama apa yang saya mau, atau apa yang saya pikir. Jadi untuk kesehatan hati dan pikiran saya sendiri, saya banyak menarik nafas dan mengingat prinsip Uta waktu lihat nilai UTS yang nggak sesuai ekspekstasi atau (yang saya rasa, nggak sesuai dengan effortnya).

Saya selalu ingat kata-katanya Uta, Allah itu nggak pernah salah Ca. Kita pasti dapet apa yang kita pantes dapet.

Jadi saya usaha untuk UAS sedikit lebih keras dibanding untuk UTS. Saya usaha untuk nyicil bahan-bahan yang nggak sedikit itu, coba untuk nyelesain tugas jauh sebelum deadline walaupun pada akhirnya saya tetap harus kerja keras di minggu ini karena masih banyak yang harus di review. Setidaknya, saya udah usaha kan. Mudah-Mudahan Allah kasih apa yang saya pantes dapet. Eh, nanti saya dimarahin Uta, Allah pasti kasih kok apa-apa yang saya pantes dapet.

Bicara soal UAS, besok saya ujian Psikologi Pendidikan Anak Luar Biasa, mata kuliah pilihan yang saya pilih sendiri. Ketika teman-teman saya ambil mata kuliah Psikologi Perdamaian, yang katanya damai banget dengan ujian presentasi di kelas dan tugas yang santai, mata kuliah yang saya ambil ini bahannya satu buku setiap ujian. Jadi satu semester ada dua buku, yang banyaknya sesuai namanya, luar biasa. Saya sih nggak bohong ada sedikit rasa iri ngelihat teman-teman saya ketawa-ketawa waktu dosen mereka tiga kali nggak masuk dan saya harus kunjungan ke SLB untuk observasi. Ketika mereka bisa santai tapi saya harus nyicil bahan yang rasanya nggak ada abisnya ini. Bukan mendiskreditkan teman-teman saya lho, ini kan masalah minat. Mungkin untuk belajar apa yang saya minati effort yang dibutuhkan memang harus lebih besar.

Tapi dari perjalanan semester ini saya jadi sedikit banyak mengerti apa yang Uta maksud, kalau sebenarnya kita lebih butuh pemahaman dibanding nilai. Bukan berarti saya setuju kalau nilai itu nggak segitu penting. Buat saya tetap penting sekali kok, cuma seperti biasa dunia ini kan nggak pernah adil, jadi kita harus bisa negosiasi. Kadang-kadang, negosiasi harus dilakukan sama diri sendiri. Untuk bisa lebih nerima keadaan. Dalam kasus mata kuliah ini saya tahu saya akan lebih mudah dapat nilai bagus di kelas Psikologi Perdamaian, tapi saya nggak pernah nyesal ambil kelas ini karena saya dapat pemahaman baru soal minat saya, anak-anak. Soal anak-anak yang butuh perhatian khusus karena keterbatasan mereka, soal begitu berperannya orang tua terhadap setiap aspek kehidupan anak (dan bikin saya sedikit banyak takut punya anak), dan yang paling penting, soal bersyukur.

Hidup saya, atau kamu yang lagi terasa berat ini jadi kelihatan ringan sekali karena saya punya kesempurnaan fisik, mental, fungsi motorik, kognitif, sosial, dan lain-lain. Membaca fenomena kelainan yang anak-anak itu alami itu sekali lagi mengingatkan saya, kalau saya punya begitu banyak hal yang bisa disyukuri. Nanti habis UAS saya akan cerita lagi sedikit lebih banyak tentang mereka, semacam catatan untuk ngingetin saya ke depannya. Namanya juga manusia, tempatnya lupa. Semoga yang udah saya baca, ringkas, dan coret-coret di buku, file dan kertas sejak beberapa hari yang lalu bisa diingat dengan baik yah besok. Semoga kamu yang mau ujian juga begitu. Setidaknya kalau saya gagal semester ini, saya gagal dengan lebih baik.


Terima kasih, lagi-lagi jadi pendengar yang paling baik.
Clarissa Rizky

Comments

Popular Posts