Kata mereka, sebuah kontemplasi pagi.

Term kontemplasi tidak pernah cukup ramah menyapa telinga saya. Mungkin karena memang level bahasa yang tinggi atau saya aja yang terlalu rendah. Menurut KBBI kon·tem·pla·si /kontémplasi/ n adalah renungan dsb dng kebulatan pikiran atau perhatian penuh; ber·kon·tem·pla·si v merenung dan berpikir dng sepenuh perhatian. Hari kamis selalu jadi hari kuliah yang paling ringan karena cuma ada 1 kuliah dari  jam 10.00 sampai jam 11.40. Saya jadi bisa sedikit-sedikit mencuri waktu dari kegilaan semester lima untuk sekedar merenung dan menuliskan hasil kontemplasi itu disini. 

Kalau diingat atau dilihat ke post-post di bawah, saya ini sering banget ngeluh soal kesibukan akademis di setiap semester. Ternyata semakin tinggi semesternya semakin gila tugasnya. Bukan cuma masalah kualitas tugas tapi kuantitas—menurut saya itu yang jadi masalah besar—sebenarnya semua tugas yang diberikan itu menyenangkan buat saya. At least seru untuk dikerjain. Yang bikin nggak seru adalah menumpuknya deadline antara satu dengan yang lain. 

Adalah sebuah keniscayaan buat saya keluar kelas tanpa ada yang harus dikerjakan. Entah itu tugas yang sudah diberikan sejak lama atau yang nambah terus setiap ada pertemuan di kelas. Kalau di list semua tugas yang ada dari awal semester mungkin saya bisa penuhin satu halaman ini. Sekarang aja tinggal satu minggu kuliah, saya masih punya tugas 1 poster Psikopatologi anak, 1 poster intervensi Psikologi Klinis dan Kesehatan (beserta makalahnya), Penelitian Observasi (dan laporannya), Laporan Analisis Psikologi Komunitas, Tugas (mingguan) Psikometri (yang minggu ini membuat norma dari tes—yang bahkan saya belum ngerti) belum lagi fakta bahwa peminatan yang saya ambil Psikologi Perkembangan tetap ada Ujian Akhir Semester tidak seperti teman-teman yang ambil PIO. 

Saya nggak nyalahin siapa-siapa untuk semua kegilaan dari hari ke hari. Bahkan diri saya sendiri. Nggak pernah juga terbersit di pikiran saya soal salah pilih peminatan. Kalau semua ini proses yang harus dijalani untuk jadi seseorang yang sama mau di masa depan, yasudah. Saya.. cuma mau menumpahkan semua yang dirasakan aja disini, Beberapa hari yang lalu ada yang bilang di twitter "Orang-orang yang suka curhat di twitter itu, nggak punya orang yang bisa dicurhatin kali ya?" Saya tersenyum. Mungkin saya bagian dari orang-orang yang nggak punya teman curhat itu, makanya bisa nulis 4 paragraf padahal isinya cuma 'cerita' soal tugas. 

Sebenarnya yang mau saya tumpahkan disini adalah tentang kebingungan mengenai masa depan. Kontemplasi yang saya sebut-sebut ini bukan renungan masalah tugas yang luar biasa banyak, tapi dampak tugas yang saya kerjakan pada jalan yang akan saya pilih nanti. Selama ini saya selalu yakin saya mau jadi Psikolog anak. Dengan segala pertimbangan kelebihan dan kekurangannya, saya yakin sama cita-cita yang saya pilih itu. Semua tugas dan pengalaman yang saya lewati semester ini membuat saya berada di tengah-tengah  pilihan untuk jadi Psikolog anak, atau dewasa. Iya, buat sebagian orang itu mungkin nggak penting, atau masalah kecil karena "toh sama-sama psikolog kan?" Atau ada yang bilang masih lama juga kan, ambil S2nya. 

Saya juga selalu mikir hal yang sama. Walaupun sebenarnya di dalam hati yang paling dalam, yang paling jujur itu tau kalau pemikiran itu cuma rasionalisasi. Seperti rasionalisasi yang dilakukan hampir semua mahasiswa yang sibuk dan bilang "Bagus juga gue ga punya pacar, orang sibuknya kayak gini" Padahal sebenarnya dia tau, pacar dan tugas itu jalannya bisa bareng-bareng. Eh ini bukan proyeksi sih, tapi yah kurang lebih begitu yang sering terjadi hehe. 


Semua kecemasan saya mengenai pilihan yang harus diambil menjadi semakin parah ketika kalender menunjukkan kalau ini sudah bulan Desember. Akhir tahun itu semakin menekan saya untuk berpikir, tahun depan, mau ngapain?


Ada kegiatan yang sepertinya harus dilepas, tapi masih sayang. Ada yang mau diambil, tapi nggak yakin punya keberanian untuk sekedar coba. Ada yang sudah yakin mau dicoba, tapi belum punya waktu. Saya tau, semua itu terkait dengan masa depan, yang lebih baik. Sudah curhat sama siapapun, teman, sahabat, orang tua, atau bahkan dosen yang benar-benar Psikolog—jawabannya (walaupun beda-beda) tapi berujung pada kesimpulan, hati kamu maunya kemana?
Perkara mendengarkan suara hati itu memang nggak pernah jadi hal yang mudah. Ada satu keyakinan yang buat saya tenang karena saya tahu, walaupun saya sendiri nggak bisa dengar suara hati, Allah pasti dengar. Mungkin saya kurang dekat aja sama Dia jadi belum diperdengarkan. Mungkin, saya harus usaha lebih persisten untuk tetap dan selalu dekat.


Kamu, sudah dengar suara hati sendiri?
Clarissa Rizky

Comments

Popular Posts