Catatan Akhir 2011
Sudah tanggal 25 Desember lagi. Dua tahun terakhir tanggal ini selalu saya gunakan untuk menulis apa yang terjadi setahun kemarin. Tiba-tiba 2011 sudah mencapai ujungnya, dan yah saya masih begini-begini aja. Saya tersenyum lebar membaca tulisan saya tahun 2010, apalagi yang tahun 2009—betapa labilnya saya, (bukannya sekarang tidak), hanya tahun 2009 itu terasa sekali. Tahun ini saya mau buat catatan akhir yang lebih detail, supaya tahun depan bisa mengingat lebih jelas, berkah Allah yang luar biasa setahun ini. Kalau punya waktu, yuk temani saya napak tilas sedikit.
Januari dibuka dengan hitungan mundur menuju 2011 di The Edge Kemang, dengan empat sahabat saya di UI : Denia, Ina, Tya dan Neysa. Memasuki tahun ketiga di kampus membuat saya yang awalnya paling malas lama-lama disana jadi terlalu nyaman bahkan jarang sekali ingin cepat pulang. Kampus lama-lama rasanya seperti rumah: ramah dan isinya keluarga. Ya nggak semuanya, tapi beberapa orang sudah terasa seperti keluarga buat saya. Bisa dibagi banyak hal soal hidup, masa lalu, cita-cita, apapun lah. Nggak perlu disebut namanya, mereka yang baca ini pasti bisa tau kalau mereka bagian dari keluarga saya di kampus. Iya, kamu.
Kembali ke tahun napak tilas tahun 2011. Saya sendiri nggak punya banyak harapan tentang 2011, hanya sedikit-sedikit mau keluar dari zona nyaman atau yang sekarang sudah saya temukan nama yang lebih tepat—membuat zona nyaman baru. Januari itu awal dari bergabungnya saya di sebuah keluarga besar Radio Telekomunikasi Cipta Universitas Indonesia. Sebuah Radio komunitas yang dibentuk, dibesarkan dan diperuntukkan bagi mahasiswa UI sendiri. Selalu ada rasa bangga untuk jadi bagian dari Kolega RTC, begitu kami menyebutnya. Selalu ada rasa kangen kalau udah lama nggak main (atau lebih tepatnya ngurusin kerjaan) di Pusgiwa Fakultas Teknik lt.2. Selalu ada rasa senang (meskipun kadang capek) ketika ketemu sama orang baru yang jadi partner kerja sama RTC dari berbagai fakultas di UI ataupun di luar UI. RTC buat saya bukan cuma sekedar UKM tapi sebuah wadah belajar yang harganya mahal sekali. Saya kenal banyak sekali orang baru dari berbagai latar belakang yang berbeda disini, dapat banyak teman dan pola pikir yang berbeda soal banyak hal dari yang biasa saya punya di Psikologi.
Ikut organisasi lingkup UI itu baru terpikir oleh saya di tahun kedua, dan sampai detik ini nggak pernah ada rasa menyesal karena ini pengalaman yang nggak bisa dibayar pakai uang. Buat saya, RTC juga ngajarin soal komitmen, yang alhamdulillah bisa saya jaga sampai hampir akhir kepengurusan tahun ini. Masih ada satu tahun lagi kalau saya mau tetap stay jadi bagian dari kolega tahun depan, keputusannya nanti lah ya—yang pasti saya belajar banyak dari sini—dan RTC bisa dibilang, zona nyaman baru buat saya.
Paruh pertama di tahun 2011 diisi dengan kesibukan di semester empat. Seperti biasa, Februari-Mei itu hari-hari dengan 22 sks dan 9 mata kuliah yang luar biasa padat. Kunjungan ke sekolah, berbagai essay dan laporan itu jadi tugas yang rasanya berat tapi semakin membuat saya jatuh cinta sama Psikologi. Pada akhirnya saya bersyukur bisa membuktikan sama diri sendiri kalau saya tetap bisa tanggung jawab sama tujuan awal—pertahanin IPK di range cum laude walaupun saya sibuk nyeimbangin hidup. Alhamdulillah.
Masuk ke pertengahan tahun—yang selalu jadi bulan paling favorit buat saya. Bertambah usia satu tahun biasanya bawa banyak kebahagiaan, karena di hari itu biasanya saya diingatkan ada banyak orang yang sayang dan peduli untuk sekedar bikin saya senang. Tahun ini saya sampai juga ke usia 20 tahun—katanya sih udah dewasa muda—mudah-mudahan pola pikir udah bukan remaja lagi. Iya, target perayaan ulang tahun ke-20 nggak tercapai. Nggak ada tuh makan malam berenam sama ayah, mama, vina & seseorang yang bisa saya refer ketika saya bicara soal kamu. Tapi 15 Juni saya penuh kebahagiaan kok :) Saya belajar kalau ternyata nggak butuh ucapan dari orang yang bisa saya panggil dengan kamu, atau ucapan dari keluarga besar tepat di jam 12, kalau saya bisa bersyukur atas sekian banyak orang yang sayang sama saya. Saya tahu, saya salah satu orang paling beruntung kalau bersyukur aja terasa mudah seperti pada hari itu
Pertengahan tahun juga jadi salah satu momen dimana saya coba untuk membuat zona nyaman yang baru lagi, namanya Young on Top. Cerita detail soal awal saya masuk udah saya tulis disini, sekarang mentorship program ini udah berjalan setengah tahun—dan saya semakin nyaman dan bersyukur karena bisa jadi bagian dari YOT. Saya nggak cuma belajar, nambah teman dan ketemu sama orang-orang hebat, tapi saya juga punya wadah untuk bisa sedikit-sedikit kasih kotribusi sama lingkungan sekitar, sama orang-orang yang membutuhkan.
Saya dapat kesempatan untuk jadi bagian dari panitia di Young on Top National Conference, sebuah seminar tentang sukses di usia muda dengan lima pembicara yang luar biasa inspiratif; Mas Iwan Setiawan, Pak Erwin Trenggono, Coach Rene Suhardono, Mas Billy Boen & favorit saya, Mas Danny wirianto. Saya juga dapat kesempatan untuk ngerasain berbagi sama anak-anak yatim piatu di #YOTberbagi pada bulan puasa kemarin, datang ke sesi sharing dengan Mas Billy & Mas Iwan Setiawan, penulis 9 Summer 10 Autumn di Learning Lounge Plaza Semanggi. Saya juga dapat kesempatan untuk bantuin Kick Andy Foundation untuk sortir ribuan buku yang akan disumbangkan ke sekolah dan daerah-daerah yang membutuhkan, kenalan & makan bareng sama orang-orang hebat dibalik Kick Andy sampai nonton Kick Andy secara live dan bertemu dengan Bang Andy Noya. Buat saya itu pengalaman yang mahal sekali, ternyata masih ada orang yang fokus cari uang tapi nggak lupa sama berbagi dengan orang lain—dan yang paling penting—mereka punya kesamaan sama saya, suka sekali baca buku! Terima kasih banyak untuk Mbak Ayu & Pak Ali Sadikin (CEO Kick Andy Foundation) yang sangat baik sama kami, bahkan selalu ngasih buku (baru) setiap habis sortir buku.
Dari sekian banyak pengalaman selama setengah tahun belakangan, pengaruh paling besar dari Young on Top itu berubahnya sudut pandang soal banyak hal. Nilai-nilai yang selama ini kurang dianggap penting—misalnya on time, atau automatic progress report—simply karena nggak ada atasan kamu yang pengen menghantui nanyain update kerjaan—itu jadi penting. Keberanian untuk menulis bukan hanya disini tapi di official web nya Young on top dan Anak UI.com dan membaginya ke social media seperti twitter hingga banyak yang baca hingga masuk headline itu juga nggak akan terjadi kalau saya nggak jadi Campus Ambassador. Dari mana saya belajar itu semua? Setiap bulan ada hari Sabtu yang digunakan untuk Monthly Meeting khusus di untuk para Campus Ambassador dan Mentor Young on Top yang membahas topik-topik mengenai sukses di usia muda. Iya, kedengarannya membosankan. Kadang kalau sudah terlalu panjang saya juga sedikit bosan, tapi buat saya itu proses belajar. Tahun ini saya juga mulai tau apa yang kenapa Uta senang banget datang ke seminar, ternyata pengalamannya beda aja. Belajar dari orang-orang yang ahli di bidangnya itu buka pandangan baru & memperluas pertemanan karena contohnya aja, waktu saya ikut Workshop IdeaFest di JCC, saya kenalan banyak teman baru yang sampai sekarang masih suka contact.
Saya juga belajar di kegiatan non akademis di kampus kok. Psychology Festival kayaknya udah sering sekali saya sebut-sebut di post sebelumnya, ya? Event yang saya sayang ini terancam nggak dilanjutin sama sahabat saya yang sekarang sudah terpilih jadi Ketua BEM baru. Sedih sih, karena saya sempat mikir kalau saya sudah jadi bagian dari sejarah terbentuknya Festival terbesar di Fakultas Psikologi. Sebuah event yang mengajarkan saya tentang berani ambil tanggung jawab jadi pemimpin, mendelegasikan tugas ke 20 staff, belajar fleksibel sama jobdesc yang terus bertambah, sampai jaga komitmen untuk kerja sampai benar-benar hari terakhir. Tapi ternyata di akhir tahun seperti ini saya sadar, saya sesayang itu sama Fakultas Psikologi & sepercaya itu sama Ekki kalau dia mau bikin perubahan yang lebih baik soal konsep PsyFest kedepannya. Kalau lo random baca ini, jangan kecewain orang-orang dibalik PsyFest kemarin ya ki :) Gue sih, percaya sama lo.
Setelah kegiatan di luar seperti ini, apa kabar kehidupan saya yang lain? Masih sama kok. Saya masih selalu sempatin untuk ketemu sama sahabat-sahabat dari SMA. Sempat ke Bandung untuk nginap di kosan Ayu, Nginap ke rumah Kyka, nonton sama Gian sih sering sekali, atau pergi ramai-ramai untuk sekedar ngopi atau menemani mereka nge-beer/minum yang lain dan tetap jadi orang yang minum juice atau ice lemon tea juga pernah sesekali. Yah, sedikit banyak berkurang dari tahun sebelumnya—semua orang punya kesibukan masing-masing, sudah punya tujuan masing-masing dalam hidup, sudah menemukan orang-orang baru yang menjadi penting dalam hidup, tapi sampai hari ini saya masih sebut mereka sahabat-sahabat yang saya sayang. Ada perasaan yang nggak ketukar kalau menghabiskan waktu sama mereka, bahagia aja.
Saya juga banyak belajar dari sekian kegiatan, teman-teman dan lingkungan yang saya sebut zona nyaman itu—kalau ada zona nyaman yang juga nggak akan ketukar rasanya—karena selalu menawarkan rasa aman, tenang, senang dan syukur yang nggak ada habisnya—keluarga. 2011 juga ngajarin saya banyak hal soal betapa saya harus bersyukur karena tumbuh di keluarga yang lengkap; ayah, mama & vina itu anugerah yang saya nggak akan bisa jelasin pakai kata-kata. Beneran deh, saya nggak pernah se-bersyukur ini punya mereka sampai sekarang. Payah yah, butuh 20 tahun untuk benar-benar sadar kalau Tuhan itu baik sekali udah ngasih mereka selama ini. Punya ayah yang selalu bisa jadi panutan, mama yang bisa jadi teman dan adik yang selalu sayang itu lebih dari cukup. Mas Romano di surga juga pasti bersyukur punya keluarga yang selalu ngedoain walaupun dari alam yang berbeda, ya mas?
Setelah keluarga, 2011 juga masih punya cerita kehidupan akademis. Saya ambil 21 sks di semester lima, menghabiskan kewajiban 26 sks mata kuliah pilihan supaya semester depan sisa 38 sks untuk 2 sks magang, 6 sks skripsi dan 30 sks untuk kelas wajib yang baru bisa diambil di semester 6 dan 7. Siapa tau, namanya juga siapa tau, saya bisa menghemat waktu enam bulan dengan lulus tepat satu tahun setelah saya menulis catatan ini. Kalau tidak berhasil lulus 3, 5 tahun, yang penting IPKnya lah ya yang 3,5. Impian untuk duduk di garda paling depan dan kursi yang ada tulisan cum laude nya ketika wisuda itu harga mati buat saya. Mudah-mudahan pengumuman IP di Januari nanti nggak mengecewakan saya atau siapapun.
Ah soal yang satu itu, iya udah 2011 tapi saya belum nemu juga orang yang saya bisa refer ketika menulis tentang kamu. Saya udah melewati segala macam fase dari masih sayang sama yang dulu-belum mau pacaran dulu-terlalu sibuk kuliah-nunggu yang paling tepat-bahkan sampai-jangan-jangan nggak ada yang mau sama saya, ya? Haha. Semuanya udah lewat, jadi saya bahkan nggak punya ekspektasi apa-apa buat tahun depan. Saya udah melewati masa-masa rasanya iri ngeliat teman yang dicariin pacarnya waktu ngerjain tugas sampai malam, dikasih kejutan waktu ulang tahun, atau sekedar punya teman nonton di sabtu malam sampai masa-masa dimana saya terlalu sibuk ngejalanin hari-hari sampai saya nggak kebayang kalau saya punya satu peran lagi jadi pacarnya seseorang itu gimana bagi waktunya.
Kadang saya sendiri juga nggak tau saya ini sebenarnya udah siap atau belum untuk mulai buka hati lagi buat orang lain, suka malas kalau mikir nanti udah ketemu yang terasa setepat itu buat saya tapi ternyata nggak bisa sama-sama juga. Yang ini bukan alibi, atau rasionalisasi lho. Yang saya pelajari di 2011 adalah bahwa jodoh seharusnya bukan dicari, tapi akan mencari kita kalau kita udah pantas. Kalau selama ini masih dicari sama yang 'belum berkualitas' atau malah belum dicari, berarti yah, kita yang belum berkualitas. Yang harus dilakukan itu memantaskan diri, di depan Allah. Nanti pasti dikirimin yang pantas juga kok buat kita. Kata Ibu saya sih, ada rumus dasar di Al-Qur'an yang udah sering banget terbukti—kalau orang baik pasti dikasih orang baik juga. Saya kira sesederhana itu—bahwa jodoh itu perkara menunggu untuk ditemukan. Lalu teman saya kemarin bilang, "Nggak lah cha, jodoh itu saling menemukan." Nggak tau karena teman saya ini laki-laki atau memang begitu, tapi saya jadi sedikit sadar kalau mungkin memang tidak sesederhana menunggu untuk ditemukan, tapi berkembang untuk menemukan yang mencari saya. Ah, mungkin di 2012. Mungkin juga tidak. Namanya juga, mungkin.
Kalau 2009 itu tahunnya senang-senang dan bersyukur, 2010 tahunnya kekecewaan dan mencoba belajar dari kegagalan, 2011 buat saya tahunnya belajar dari kesempatan yang diberikan. Saya belajar untuk nggak ngebandingin diri saya sama orang lain, baik itu yang lebih berhasil atau yang mungkin sedikit tertinggal. Yang tau soal baik buru itu kan cuma Allah, yang bisa kita lakukan ya menjadi yang terbaik dari diri kita aja, bener nggak? hehe. Sejauh ini, saya juga belajar kalau nanti di masa depan saya bisa kok ngejalanin hidup sesuai dengan passion, tapi tetap mencapai kesuksesan material supaya bisa bahagiain mama & ayah di dunia, mudah-mudahan di akhirat juga. Hidup seimbang antara Tuhan, keluarga, kesehatan, pekerjaan, sahabat dan senang-senang itu bisa kok dicapai, bahkan dari masih muda.
Harapan utama saya buat 2012 itu, supaya lebih seimbang. Tentunya dengan definisi seimbang yang lebih dewasa, kan udah 20 tahun. Ah, satu lagi—semoga saya lebih berani ambil keputusan, untuk membuat zona nyaman yang lebih luas. Salah satu yang udah saya pelajari di 2011, kalau zona nyaman itu sebenarnya itu kayak langit, ada beberapa tingkat. Hari ini sudah tanggal 26 Desember, bahkan dari kamar saya udah kedengaran banyak kembang api di langit. Belum punya rencana apa-apa untuk tahun baru, dan tetap menolak untuk diajak ayah ke Puncak. Menikmati waktu seperti ini di kamar juga sepertinya menyenangkan.
Jadi, selamat menikmati hari-hari terakhir di 2011 ya! Saya juga mau ngelanjutin refleksi, supaya kedepannya lebih baik. Semoga ketika Desember 2012 datang, saya (dan kamu) bisa baca catatan ini lalu tersenyum karena hidup sudah jauh lebih baik dari hari ini.
Selamat libur dan menikmati akhir tahun,
Clarissa Rizky


Comments
Post a Comment